
Ilham berjalan dengan langkah panjang dan cepat menuju ke parkiran mobil. Senyum terus menghiasi wajahnya selama berjalan menuju ke sana.
Meeting baru saja selesai dengan PT Adikusuma Agung. Walaupun tadi sebagian pikiran sudah melayang ke suatu tempat bulan madu. Tapi klien merasa puas dengan penjelasanya. Tidak ada masalah selama meeting berlangsung.
Selama ini rasa cinta dan hasrat dalam dirinya sudah melunjak di atas puncak. Selama ini pula hanya dia tahan. Mencoba memahami istrinya itu yang berstatus Janda -masih belum siap membuka lembaran baru dengan dirinya.
Namun Ilham berharap pada saat keduanya berbulan madu. Istrinya itu dapat merasakan cinta kembali di atas ranjang bersama dirinya.
.......
Ada senyum lebar yang menghiasi wajah wanita itu saat ini. Sehabis menerima panggilan dari orang tersayang. Mira jadi salah tingkah sendiri. Suaminya itu mengabarkan akan segera pulang.
Sri yang mendapatkan majikanya tengah berdiri di sisi pintu belakang, berjalan menghampirinya.
“Mbak Mira, aku turut bahagia sekali. Akhirnya Mbak Mira dan Pak Ilham berbulan madu, semoga Mbak Mira dapat melupakan kenangan dulu ya. Dan dapat membuka lembar baru bersama Pak Ilham.” Ujar Sri ikut berdiri di sebelah Mira.
“Pasti ini berat buat Mbak Mira, tetapi harus dipaksa Mbak. Supaya Mbak Mira benar-benar melupakan masa-masa dulu.” Lanjut Sri.
Mira menghela napas, “Iya Sri, aku sudah siap dengan itu kok. Aku tidak mau mengecewakan Ilham lagi, dia sepertinya agak kecewa waktu malam pernikahan. Aku sudah membuatnya kacau sekali.”
“Yang terpenting untuk sekarang Mbak Mira harus membuka lembaran baru. Sebentar lagi Mbak Mira akan berbulan madu, dan di sana nanti Mbak Mira bisa melupakan masa lalu.”
“Iya Sri. Aku sudah sangat siap dengan bulan madu ini. Semoga saja aku bisa melupakan yang dulu. Dan memulainya bersama Ilham.” Balas Mira menatap Sri dengan tersenyum.
“Oh ya, Mbak. Apakah koper-nya hanya yang ada di kamar saja?” tanya Sri kemudian.
“Iya Sri, hanya itu saja, kami hanya tiga hari di sana. Lagi pula, kasihan Rafa kalau ditinggal terlalu lama.”
“Jangan pikirkan Rafa Mbak, fokus saja dengan bulan madu Mbak Mira sama Pak Ilham. Kalau masalah Rafa, biar Sri yang urus di rumah.”
Rahang Mira terkatup rapat, lalu berkata setelah diam agak lama. “Apa dia tidak nangis ya selama ditinggal? Aku takut dia akan menangis dan malah merepotkanmu nantinya.”
“Serahkan saja semuanya pada Sri, Sri akan merawat Rafa dengan baik.”
Ketika Mira sudah sangat siap berbulan madu. Tetapi pikiranya belum sepenuhnya tenang, karena masih memikirkan Rafa. Bagimana nasib buah hatinya itu ketika dirinya berbulan madu?
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar bunyi klakson mobil agak keras dari arah luar, membuat keduanya harus menghentikan pembicaraan. Mira lalu berjalan ke arah luar untuk mengecek siapa yang datang.
......
Mira dan Kirana tengah terduduk di kursi tempat penjual es. Keduanya tengah menikmati es di genggaman tangan masing-masing. Sesekali sambil ngobrol.
“Bagimana kalau Rafa biar tinggal sementara di rumah Mama saja selama kalian berbulan madu. Supaya kalian tidak kepikiran dengan Rafa selama di sana.” Ujar Kirana sambil menikmati es-nya.
Mira terdiam untuk beberapa saat. Tidak kepikiran dengan menitipkan Rafa ke tempat mertuanya saja. Apalagi di sana ada Raihan. Pasti buah hatinya itu tidak akan menangis.
“Apa tidak merepotkan Mama?” balas Mira dengan nada hati-hati.
“Tidak, Mira. Saya ini Mama kamu, Rafa adalah cucu Mama, tidak ada kata merepotkan, jadi kamu jangan sungkan-sungkan dengan itu. Ingat kami ini sudah jadi keluarga!” Tandas Kirana.
“Kalau begitu, Mira titip Rafa ya Ma, selama Mira dan Ilham berbulan madu. Terima kasih untuk semuanya. Mama dan keluarga Mama sangat baik kepadaku dan Rafa.” Ucap Mira setengah emosional.
.......
Ilham tengah berdiri di depan rumah dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Sesekali pandanganya melirik ke arah arloji. Sikapnya gusar.
Pasalnya Mira tidak ada di rumah. Padahal Ia sudah buru-buru meluncur dari kantor begitu meeting sudah selesai.
Ilham sudah bertanya pada Sri, tetapi Sri juga tidak tahu ke mana perginya majikanya itu.
Mira, kamu ke mana sih! Kamu membuatku cemas saja!
Tak lama, sebuah mobil yang sudah amat sangat dikenalnya terparkir di depan rumah. Kedua orang di dalam mobil itu keluar secara bersamaan. Sang Istri dan Sang Mama.
“Mama?” serunya dengan kedua alis bertaut. Berjalan menghampiri mereka berdua.
“Mama, Mira, kalian habis dari mana saja?” kata Ilham menatap Mama dan istrinya bergantian.
”Kamu membuatku cemas saja, sayang!” lanjutnya sambil berkacak pinggang.
“Maafkan aku sayang, tadi Mama mengajaku pergi, aku lupa belum mengabarimu. Tadi HP aku juga lowbat,” Jelas Mira.
__ADS_1
Ilham mangguk-mangguk. Tampak menghela napas lega setelahnya.
“Mama habis ajak istrimu pergi, Ilham. Tenang saja, Mama tidak akan menculik istrimu kok.” Tawa Kirana langsung pecah.
Tak ayal, hal itu membuat Ilham dan Mira sama-sama geleng kepala.
Ilham, Mira dan Kirana lalu melangkah masuk ke dalam. Mira langsung mempersilahkan sang Mama untuk duduk. Kirana pun menjatuhkan diri di sofa. Ilham dan Mira menjatuhkan diri di sofa sebrangnya setelah itu.
“Jadi selama kita berbulan madu, Rafa akan tinggal bersama Mama dan Papa, tadi kami membicarakan hal itu.” Terang Mira sesekali menatap Ilham, sesekali menatap Kirana.
Kirana mengangguk, membenarkan perkataan Mira.
“Supaya kalian tidak kepikiran sama Rafa selama bulan madu, kalian tidak usah mencemaskan Rafa, fokus pada bulan madu kalian ya.”
Ilham menarik tubuh dari sandaran sofa, “Ah, kenapa aku tidak kepikiran dengan hal itu. Apalagi di rumah ada Raihan, dia jadi punya teman bermain dan pasti dia tidak akan teringat dengan Mamanya.”
Baik Ilham maupun Mira sama-sama tidak terpikirkan dengan ide itu.
Tentu saja Mira yang sangat lega dengan itu. Dirinya sudah tenang sekarang. Sudah tidak kepikiran lagi dengan Rafa.
........
Di ranjang, Mira terduduk dengan senyum lebar. Wajahnya tengah berbinar. Sedang Ilham duduk di belakangnya sembari memeluk tubuh istrinya dari belakang.
Rafa masih tidak mau pulang dari rumah Mama dan Papanya. Bahkan bocah itu sampai tidak mau sekolah.
“Aku sudah putuskan ke mana kita akan pergi berbulan madu sayang,” lirih Ilham.
Alih-alih menunggu pendapat dari istrinya. Ilham malah ingin memberinya kejutan. Dengan sudah menentukan tempat bulan madu lebih dulu.
“Kita akan berbulan madu di sebuah villa di sebuah desa yang tempatnya masih sangat asri. Kamu pasti akan suka dan kita akan melewatkan hari-hari indah bersama di sana!” lanjutnya sambil membayangkan dirinya dan istrinya berada di tempat itu.
Mira jadi ikut membayangkan tempat yang disebutkan oleh suaminya itu.
“Wah, aku sepertinya akan langsung menyukai tempat itu, terasa segar sekali dengan pemandangan yang masih alami.” Balas Mira.
__ADS_1
Jadi sudah tak sabar menunggu hari esok tiba!