
Seorang wanita paruh baya sedang melingkarkan tangan di depan dada sambil clingak-clinguk memandang ke arah pintu masuk. Sesekali pandanganya melongok pada jam tangan dan terdengar hembusan napas berat.
Kenapa Ilham belum juga datang kesini? Pikir Wanita itu.
Ketika sudah mendapati seseorang yang sudah ditunggunya. Senyum langsung mengembang di wajah yang masih terlihat muda itu. Seseorang yang sudah ditunggu tak lain dan tak bukan adalah Ilham, anaknya. Wanita itu adalah Kirana.
Ilham berjalan menuju ke arah tempat duduk Mamanya. Saat Ilham sudah duduk, Kirana langsung menyergap pertanyaan pada Ilham. Kirana tampak cemas dengan Ilham yang ternyata pergi dari rumah tanpa sepengetahuan dirinya. Karena waktu itu, Ia sedang ada di kantor.
“ Kenapa kau tidak menuruti permintaan Papamu saja, Papamu sedang tidak serius dengan hal itu. Papa sedang banyak pikiran, Jadi, Papa tidak bisa mengontrol emosinya. Kau tidak harus pergi dari rumah, Ilham! ” Kata Kirana tampak cemas. Bibir dan suaranya bergetar.
Ilham malah memandang objek lain. Ilham menghela napas dan berkata. “ Tidak, Ma! aku harus mempertanggung jawabkan keputusanku. Aku akan membuktikan kepada Papa, bahwa aku benar-benar bisa hidup, tanpa bantuan Papa. ”
“ Atau tidak, kau pulang saja sekarang dan meminta maaf kepada Papa! Pasti Papa akan memaafkanmu, ayo pulang bersama Mama. Biar Mama yang berbicara kepada Papamu nanti. ” Bujuk Kirana dengan wajah memelas. Berharap anak sulungnya itu dapat mendengarkan dirinya.
“ Tidak Ma! Ilham sudah bulat dengan keputusan Ilham! ” sergap Ilham, sudah kukuh dengan keputusanya.
Kirana menghela napas berat, tidak ada gunanya jika membujuk Ilham. Anak sulungnya itu memang keras kepala, namun diam-diam Ia salut kepada Ilham karena anak sulungnya itu benar-benar mau mempertanggung jawabkan keputusanya. Namun, Kirana tetap saja mencemaskan Ilham.
“ Maafkan Ilham, Ma! Ilham hanya ingin membuktikan kepada Papa, kalau Ilham bisa hidup tanpa bantuan Papa dan Ilham akan menjalani hidup dengan pashion Ilham sendiri. ”
“ Mama tenang saja, Ilham pasti akan pulang. Tapi, tidak tau pasti kapan Ilham akan pulang. ” Tambah Ilham, kini memandang wajah Kirana.
Kirana lalu menjulurkan sesuatu ke dalam tasnya dan mengeluarkan sesuatu dari sana. Sebuah amplop.
“ Baiklah, kalau itu keputusanmu, ‘’ Kirana tak melanjutkan kata-katanya, menatap wajah Ilham.
‘’ Jika kau ingin meminta maaf kepada Papa, jika kau ingin pulang, segera beritahu Mama, ya, Mama akan mencoba membicarakan hal ini dengan Papa. Kau gunakan uang ini untuk keperluan sehari-hari, Jika masih kurang kau bisa hubungi Mama. ” Lanjut Kirana sambil menyodorkan amplop kepada Ilham berisi uang.
Ilham sedang di posisi sulit. Saat ini Ia juga tidak mempunyai uang sama sekali. Sedangkan Ia belum menemukan pekerjaan, Disisi lain, Ia juga membutuhkan uang itu untuk makan sehari-hari. Walaupun Angga tidak keberatan akan hal itu, namun Ilham tak mau merepotkan Angga terus.
Dengan ragu, akhirnya Ilham mau menerima amplop yang disodorkan oleh Mamanya. Bertekad untuk segera mencari pekerjaan.
\*\*\*
“ Mira! ” panggil Efendi dari ambang pintu, Efendi agak tersentak karena Mira masih duduk di bangkunya. Belum pulang.
__ADS_1
“ Belum, Pak, ” jawab Mira dari bangkunya.
“ Sudah hampir malam, kamu pulangnya ikut dengan saya saja, ya. ”
“ Baik, Pak, ”
Mira pun segera mematikan komputer dan membereskan meja kerjanya yang sedikit berantakan itu. Setelah selesai, Mira bangkit dari bangkunya dan keluar dari tempat kerjanya.
“ Bagimana kabar, Rafa? ” tanya Efendi sembari berjalan keluar. Mensejajarkan langkah dengan Mira.
“ Baik-baik saja, Pak! ”
“ Kebiasaan kamu, panggil saya Efendi saja, ”
“ Baik, Efendi, ” jawab Mira sambil tersenyum, merasakan canggung karena baru pertama kali ini Ia memanggil atasanya dengan nama langsung.
“ Kamu sudah makan? ” tanya Efendi lagi, sambil membuka pintu mobil.
Mira menggeleng kepala sebagai jawaban atas pertanyaan Efendi.
“ Kalau begitu, kita makan dulu. ” Jawab Efendi tanpa menunggu jawaban dari Mira.
\*\*\*
Di sebuah lamongan, Efendi dan Mira duduk berhadapan, Bapak-Bapak dari arah gerobak membawakan makanan yang mereka pesan lalu meletakanya di atas meja.
Mereka berdua pun menikmati makan malam masing-masing.
Malam yang indah, banyak sekali orang-orang bercengkrama di sekitar, orang-orang berlalu lalang, tertawa dan bercanda.
Setelah selesai makan, Efendi dan Mira berbincang sebentar sambil mendaratkan lelah, membicarakan masalah kerja, membahas Rafa dan Efendi pula menggoda Mira tentang apakah dirinya mau menikah lagi atau tidak?
\*\*\*
“ Mira, tunggu sebentar, ” cegah Efendi, saat Mira hendak membuka pintu mobil.
__ADS_1
“ Kenapa, Fen, ” balas Mira mengurungkan niatnya membuka pintu mobil, menoleh ke arah Efendi.
“ Boleh saya mengatakan sesuatu kepada kamu? ”
“ Boleh, ”
“ Saya suka denganmu! ”
Mira terbelalak, setelah rumor dari teman-teman kantor yang menyebutkan kalau Efendi suka dengan dirinya. Hari ini, malam ini, akhirnya Efendi menyatakan langsung kepadanya. Mira terdiam, bingung harus menjawab apa. Lidahnya pun mendadak kelu.
“ Kamu tidak harus menjawabnya sekarang, kamu bisa menjawabnya kalau kamu sudah siap, saya akan menunggu. ” Jawab Efendi ketika melihat kebingungan Mira.
Mira mengangguk pelan, lalu membuka pintu mobil karena ingin cepat-cepat keluar dari mobil.
“ Mira, saya boleh menemui Rafa? ”
“ Lain kali saja, ya, Fen. Sudah malam, tidak enak dengan para tetangga, lagi pula, pasti Rafa sudah tidur saat ini, maaf, ya. ” Balas Mira berusaha sopan.
Efendi bergumam dan Ia dapat mengerti dengan keadaan tersebut. Lalu, Ia melajukan mobilnya untuk pulang.
\*\*\*
Dan benar saja, Rafa sudah terlelap saat Mira sudah masuk ke dalam rumah. Sedangkan Sri sedang menyetrika baju di ruang tengah.
Mira langsung mandi untuk menyegarkan tubuhnya kembali. Setelah mandi, Mira kembali sibuk dengan laptop untuk menyelesaikan pekerjaan yang belum sempat selesai. Mira tidak bisa sepenuhnya fokus dengan pekerjaan. Pikiranya dipenuhi oleh pernyataan cinta Efendi tadi.
Apa aku harus menerima, Efendi?
Entah mengapa Mira belum siap menerima Efendi. Mira sungguh bingung dengan Efendi, Ia ingin Pria yang mencintai dirinya dan Rafa. Namun, Mira belum yakin dengan Efendi.
Mira tidak harus menjawabnya dengan buru-buru. Karena tadi Efendi juga tidak membahas kalau Ia akan menikahinya. Efendi hanya mengatakan kalau Ia suka dengan dirinya.
Mira hanya mengatakan kalau Ia tinggal berkata mau atau tidak. Hanya itu saja.
Mira benar-benar di posisi yang sangat sulit, Efendi adalah atasanya, Ia merasa tidak enak kalau menolak Efendi.
__ADS_1
Namun, masalah cinta tidak bisa untuk main-main, cinta tidak bisa dipaksakan.
Kalau boleh jujur, Mira belum bisa mencintai Efendi. Walaupun Efendi adalah Pria yang mendekati kata sempurna, namun tak tau kenapa Mira belum bisa mencintai Efendi.