Menikah Dengan Janda

Menikah Dengan Janda
Menikahlah Denganku!


__ADS_3

“ Ah! Aku sungguh lupa kalau aku harus pergi ke kantor sekarang juga! ” ucap Mira setelah ingat kalau Ia seharusnya bergegas pergi ke kantor.


Mira ingin menghubungi Wanda lebih dulu habis itu mungkin akan segera memesan ojek online. Ia segera meraih tasnya dan mencari ponselnya di dalam sana. Namun Ia segera teringat kalau ponselnya sudah Ia keluarkan. Ia mencari di atas meja kecil namun tidak ada. Ia pun mencari ponselnya dengan buru-buru di sela-sela barang yang ada di atas meja. Mira juga mencari ponselnya di lantai, mungkin saja terjatuh. Namun, tetap saja tidak ada.


Ilham yang masih bersandar pada ranjang, menjadi tersenyum tertahan, pura-pura tidak mengetahui ponsel Mira ada di mana.


“ Ilham, apakah kamu tidak melihat handhone-ku? Aku taruh di sini tadi, namun mengapa sekarang tidak ada. ” Mira mulai panik sendiri.


“ Handphone-mu? Memangnya kamu taruh di mana tadi? ”


“ Aku taruh di atas meja kecil ini, tetapi mengapa sekarang tidak ada! ”


“ Aku tidak melihatnya sedari tadi. ”


Mira memegangi pelipisnya, bagimana bisa ponselnya sampai hilang begini.


Astaga! Kalau handphone-ku tidak ada, bagimana aku bisa memesan ojek online dan menghubungi Wanda! Pikir Mira.


Ilham pun bertanya dengan apa yang sedang Mira pikirkan saat ini. Mira menjawab kalau Ia sedang bingung -dengan apa Ia meluncur ke kantornya sedangkan ponselnya sekarang menghilang entah kemana.


“ Tinggal lah di sini lebih lama lagi, Mir. ” sahut Ilham mencoba mengalihkan pikiran Mira.


“ Apa kamu tidak kasihan denganku? Aku akan sendiri di sini, kalau kamu pergi! ” Ilham meneruskan sambil memasang wajah memelas.


“ Tidak! Aku tidak kasihan denganmu! ” Jawab Mira sekenanya.


“ Kamu pasti menyembunyikan handphone-ku, kan? ” tuduh Mira.


Ilham menggeleng dengan polos. Menjelaskan dengan terbata kalau mana mungkin dirinya yang menyembunyikan ponsel itu.


“ Bisakah kamu ijin saja untuk tidak berangkat kerja hari ini! Kamu bilang saja dengan Boss

__ADS_1


-mu, kalau kamu tidak bisa masuk kerja karena harus menemani calon suamimu. ”


“ Apa kamu bilang barusan? Calon suami? Aku benar-benar tidak habis pikir dengan kegilaanmu! ” sergah Mira tambah emosi saja.


Sambil berkacak pinggang.


“ Mendekatlah, Mira, aku ingin berbicara serius denganmu. ” Kata Ilham mengganti topik.


Ilham hendak mengatakan hal serius? Tentang apa? Mira mengernyitkan kening.


“ Aku tidak mau, aku harus segera ke kantor sekarang! ” bantah Mira masih panik.


“ Kalau kamu menolak, aku akan mencium kamu. ” ancam Ilham kemudian.


Mira melototkan matanya ke arah Ilham. Membuat Ilham langsung terkekeh sendiri. “ Ah! Aku hanya bercanda, ” Ilham menarik napas panjang dan berkata. “ Mendekatlah, aku benar-benar hendak berbicara serius padamu. ”


Lebih baik aku menurut saja daripada dia menjadi semakin gila! Aku sungguh capek sekali menghadapi sikapnya itu. Gumam Mira dalam hati.


Mira pun beringsut lebih mendekt ke arah Ilham. Tiba-tiba Ilham menarik tubuhnya agar lebih tegap dari sandaran ranjang. Ilham meraih tangan Mira dan menggenggamnya.


Mira segera mengangkat kepala dan memandang wajah pria yang saat ini tanpa baju itu.


“ Aku benar-benar tidak peduli dengan statusmu sebagai apa, aku benar-benar tidak peduli akan hal itu. Aku sudah jatuh cinta padamu. ”


“ Saat kamu menghilang seperti kemarin, aku sungguh mencemaskanmu, Mir, aku takut kalau terjadi apa-apa denganmu. Kamu saat ini sedang memenuhi rongga hatiku, hanya kamu yang ada di hatiku saat ini. Kamu telah menguasai diriku saat ini. ”


“ Kamu sedang bercanda, kan? ” Balas Mira buru-buru menyadarkan perkataan Ilham.


“ Aku serius kali ini, Mir, aku sungguh mencintaimu. ”


Ilham lalu menempelkan telapak tangan Mira ke dada bidangnya agar Mira dapat merasakan detak jantungnya. Agar dapat merasakan getaran cinta ada di dalam sana. Tentu saja, Mira menjadi salah tingkah sendiri. Secara tidak langsung Ia sedang menyentuh tubuhnya. Benar-benar Ilham sudah membuatnya tidak bisa berkata apa-apa lagi.

__ADS_1


Teman yang selama ini membuatku terus tersenyum, tertawa dan bercanda. Kini memiliki perasaan yang lebih, perasaan itu berubah menjadi cinta. Ilham mencintaiku? Jadi-jadi Ilham benar-benar mencintaiku? Gumam Mira.


Mira sadar, dia bukan lagi seorang gadis yang baru saja merasakan cinta. Dia adalah seorang Janda yang membutuhkan pria yang memang benar-benar serius.


Efendi sudah menyatakan cinta dan bahkan sudah mengajaknya menikah. Kalau memang Ia membutuhkan Laki-laki yang tepat dan serius mungkin Efendi lah jawabanya. Namun, Mira tidak bisa menerimanya. Ia tidak bisa jatuh cinta kepada Efendi.


Namun yang Mira inginkan adalah Laki-laki yang serius, mencintai dirinya dan Rafa, sedangkan dirinya juga harus mencintai Laki-laki itu. Kedengaranya memang seperti pemilih, namun bukanya itu yang diharapkan oleh seorang Janda -bahkan seorang gadis pun. Karena sejatinya perempuan itu berhak memilih untuk menentukan pasangan hidupnya.


Kalau boleh jujur, Ilham adalah Laki-laki yang sudah memenuhi kriterianya. Sekarang, Ilham menyatakan cinta kepadanya. Saat ini, hati Mira sedang merasakan sesuatu yang dahsyat yang saat ini sedang melanda dirinya. Ia merasakan sesuatu yang berbeda. Berbeda ketika Efendi menyatakan itu.


Namun, Mira sadar Ia bukan lagi seorang gadis yang harus merasakan cinta seperti itu.


“ Ilham, kamu bercanda, ya? aku tidak lagi seorang gadis yang harus kamu goda seperti ini, aku bukan seorang gadis lagi yang kembali merasakan cinta seperti itu. Aku adalah seorang Janda. Masa depanmu masih panjang. Jadi, kamu salah kalau kamu mencintaiku. ” Mira akhirnya berbicara setelah memikirkanya agak lama.


“ Tidak ada yang salah! Masa depanku, adalah kamu! ”


“ Aku bukan seorang gadis Ilham! aku-aku membutuhkan Pria yang serius dan aku juga memikirkan nasib Rafa… ”


“ Kalau begitu, menikahlah denganku! ” potong Ilham dengan cepat.


Mata Mira membulat dengan sempurna. Seketika itu, Mira menoleh ke arah Ilham. Apa dirinya itu tidak salah dengar dengan apa yang baru saja Ilham katakan?


Mira merutuki diri sendiri mengapa harus membicarakan hal itu. Membicarakan kalau dirinya membutuhkan seorang Laki-laki yang serius dan memikirkan nasib Rafa. Tidak seharusnya, Ia mengatakan itu.


Rasanya saat ini Mira tidak bisa menopang tubuhnya sendiri, mungkin bisa jadi Ia akan pingsan seketika itu. Mira mencoba berfikir jernih, mungkin saja Ilham sedang menge-prank dirinya. Atau jangan-jangan telinganya sendiri sudah tidak waras?


Lihat saja, sebentar lagi Ilham akan tertawa terpingal-pingkal, tinggal menunggu saja, Mira. Gumam Mira dalam hati.


Namun, suasana kembali hening. Keduanya asyik sendiri dengan pikiran masing-masing.


Namun, sesaat lamanya Ilham masih seperti tadi. Bahkan, Ia tidak tersenyum sama sekali membuat Mira tambah tidak karuan.

__ADS_1


Ayolah Ilham, mengapa kamu tidak kunjung tersenyum, atau tertawalah sepuasmu. Ayo! Dan katakanlah kalau semua yang baru saja kamu ucapkan itu bercanda! Gumam Mira kembali.


Bersamaan dengan itu, Ia sedikit cemas. Bibirnya sudah mulai bergetar.


__ADS_2