
Laki-laki yang sehabis turun dari motor satria fu ternyata adalah Ilham. Kini Ilham tersentak kaget saat mendapati seorang perempuan yang Ia yakini sebagai Mira : Ternyata benar. Mira kini tengah berdiri di tepi jalan dengan dress hitam dan terlihat sangat cantik.
“ Apa yang kamu lakukan di sini? Kenapa kau sendirian di tepi jalan seperti ini! ” kata Ilham setengah memekik.
Mira bernapas dengan lega, Ia sangat bersyukur sekali bisa bertemu Ilham di sini. Ia tidak bisa membayangkan jika seandainya Ia terlalu lama berdiri di situ. Entah apa yang akan terjadi pada dirinya.
“ Ilham, untung saja ada kamu di sini! ” lirih Mira nyaris tak terdengar, entah tiba-tiba mata Mira kini sembab.
“ Jika-jika kamu tidak ada di sini, aku-aku tidak tau, apa yang terjadi. ” Lanjut Mira suaranya terdengar parau.
Jelas saja Ilham langsung bingung melihat Mira berucap dengan sembab di matanya dan suaranya terdengar parau. Apa terjadi sesuatu denganya?
“ Hei, ada aku di sini sekarang! Kamu tak usah khawatir lagi. Sekarang tenangin diri kamu dulu. ”
Mira hanya mengangguk. Ilham merasa sangat kasihan dan penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada Mira. Ia tidak mungkin membiarkan perempuan secantik Mira sedang bersedih dan berdiri serang diri di kegelapan malam.
Ilham melepas jaketnya dan menutupi bagian tubuh Mira yang terkena hembusan angin malam.
Ilham lalu menyuruh Mira untuk segera ikut bersamanya. Mira pun hanya mengangguk dan sudah naik di atas boncengan. Ilham segera melajukan motor dan akan membawa Mira ke sebuah tempat. Berharap Mira dapat menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
“ Ham, kamu hendak membawaku kemana? ” tanya Mira di belakang sambil menyentuh bahu Ilham.
“ Aku akan membawamu ke sebuah Kafe, aku mau kamu bercerita di sana! ” jawab Ilham agak keras.
“ Aku tidak mau ke Kafe, aku mau kita ke tempat yang sederhana saja! Aku sedang tidak ingin ke Kafe. ”
“ Baiklah, Kamu mau? kalau kita membeli jagung bakar, saja, bagimana? ”
“ Iya, aku setuju. ”
__ADS_1
Sesaat lamanya, Ilham dan Mira saling diam. Motor melaju menuju penjual jagung bakar. Perlahan, keadaan Mira menjadi jauh lebih baik, sudah tidak kepikiran dengan kejadian tadi bersama Efendi. Sementara itu, jaket Ilham berhasil menghalau dingin yang sedang berhembus kecang.
Saat sudah sampai di penjual jagung bakar, Ilham langsung memesan pada Bapak-Bapak penjual jagung bakar. Sedangkan Mira meraih kursi yang sudah disediakan. Lalu, Ilham sudah kembali dan menghampiri Mira yang sudah duduk.
“ Kalau kamu sudah merasa tenang, kamu bisa menceritakan apa yang terjadi denganmu padaku, Mira. ” Kata Ilham memulai obrolan sambil memandang wajah Mira.
“ Sebelumnya, aku sungguh tidak menyangka menemukanmu berdiri di tepi jalan seperti tadi. Lalu, kamu terlihat sungguh cantik sekali dengan dress warna hitam ini, Mira. Kamu masih terlihat seperti seorang gadis! Laki-laki mana yang tidak akan terpesona padamu malam ini, Mira. ” Sambung Ilham sambil tersenyum.
Mira memikirkan kata-kata yang tepat untuk bercerita pada Ilham. Ada hal yang membuatnya bimbang, antara mengatakanya atau tidak. Namun, Ia sungguh ingin menumpakan semuanya pada Ilham.
Mira pun akhirnya bercerita tentang ada seseorang yang sedang berusaha mengambil hatinya, hingga ingin menjalin hubungan serius dengan Mira, Mira juga menceritakan kalau Ia menolak Laki-laki itu karena Ia tidak bisa mencintai Laki-laki itu. Lalu, perlakuan yang buruk terhadap dirinya.
Wajah Ilham seketika itu memanas. Otot-otot di lenganya mulai menegang. “ Siapakah yang berani melakukan itu padamu, Mir! Berani-beraninya dia melakukan ini padamu. Akan aku kasih pelajaran Laki-laki sialan itu! ”
“ Beritahu aku, siapa yang berani melakukan ini padamu? ” Kata Ilham dengan nada tinggi, tak berpaling sedikitpun dari wajah Mira.
Mira tidak menceritakan kalau Efendi yang melakukanya. Kalau Efendi ternyata adalah Boss-nya di kantor.
“ Tapi, Laki-laki ****** itu harus dikasih pelajaran, Mira! ”
“ Jangan, Ilham! Sudah tidak apa-apa, yang terpenting sekarang, aku sudah tidak apa-apa, karena aku sudah bersamamu sekarang. ”
Ilham mengangguk mengerti. Perlahan otot-otot leher dan lengan yang tadi menegang sudah agak tidak terlihat.
Jagung bakar sudah jadi. Bapak-Bapak penjual jagung bakar menyodorkan dua jagung bakar. Seketika keduanya menikmati makan jagung bakar sesekali dengan berbincang, Mira sudah kembali tersenyum karena candaan Ilham di sela-sela perbincangan.
Ilham ingin bercerita kepada Mira tentang dirinya yang baru saja putus. Namun, Ia sungguh ragu karena melihat keadaan Mira saat ini yang membuat Ilham tidak tega. Namun, Mira sudah tersenyum. Tidak salahn untuk berbagi cerita kepadanya. Dengan hati-hati, akhirnya Ilham bercerita kepada Mira.
“ Kamu jadi-jadi sudah mempunyai pacar? ” tanya Mira setelah Ilham selesai bercerita. Ia tersentak kaget.
__ADS_1
“ Maafkan aku, aku tidak bilang kalau aku sudah mempunyai pacar sebelumnya. ”
“ Kenapa kalian tidak mencoba untuk mengambil jalan lain. Kenapa harus putus? ”
“ Masalahnya rumit sekali, Mir. Dia sudah tidak mencintaiku lagi, kami menjalani hubungan bukan karena cinta, saat aku mengatakan putus denganya saja, dia seperti bahagia sekali. Bahkan, katanya dia sudah memiliki Laki-laki lain yang jauh lebih baik daripada aku. ”
“ Kalau memang keputusanmu seperti itu dan kalian memang sudah sepakat untuk putus. Mau bagimana lagi. Mungkin itu yang terbaik buat kalian. ”
“ Kamu juga berhak untuk mengambil keputusan, Mir. Kamu berhak memilih untuk mencintai dan dicintai. Keputusanmu tidak salah! Laki-laki yang salah. ”
…
Keduanya sudah sampai di depan rumah Mira. Mira segera turun dari atas motor.
“ Ilham, terima kasih kamu sudah mengantarku pulang dan aku tadi tertawa karenamu. ” Kata Mira dengan tersenyum.
“ Itu sudah menjadi kewajibanku. ” Jawab Ilham sambil terkekeh pelan.
“ Aku langsung pulang saja, ya, sudah agak malam. Kamu jaga diri baik-baik. ” Kata Ilham sambil mengenakan helm.
“ Kamu hati-hati di jalan, ya. ” kata Mira.
“ Perhatian sekali, ” jawab Ilham.
“ Mira! Kamu cantik sekali malam ini. ” Lanjut Ilham sebelum melajukan motornya.
“ Terima kasih. ” Jawab Mira dengan senyum tertahan.
Ilham segera melajukan motornya menembus jalanan yang sepi. Ilham tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya saat ini Sepanjang mengendarai motor, bayangan senyum dan wajah Mira menari-nari indah di benaknya. Apakah salah jika saat ini, Ia membayangkan Mira? Memikirkan Mira? Apakah salah? Saat ini, Ia sudah putus dengan Natasha. Apakah sekarang salah, jika Ia memikirkan perempuan lain?
__ADS_1
Ilham menghentikan motornya karena lampu lalu lintas sudah berganti merah. Seketika itu, Ia teringat kenapa tidak meminta nomornya Mira? Ingin rasanya memutar motor kembali, namun itu tidak mungkin.