
“ Apakah benar, aku tidak bisa memilih Laki-laki sekarang? Dimata mereka, aku hanyalah janda yang tidak ada nilainya? ” Gumam Mira sambil duduk di belakang rumahnya. Sedangkan Rafa sedang bermain dengan mobil-mobilan barunya.
Hari ini adalah hari minggu. Mira tak berangkat bekerja. Ia tengah menyuapi Rafa sarapan pagi di taman belakang rumah.
“ Rafa, sini lagi, ” kata Mira sambil mengambil nasi dari piring dan hendak menyuapkan nasi ke mulut Rafa.
“ Sebentar, Mama, ini sedang seru sekali. ” Jawab Rafa tanpa menoleh ke arah Mira, asyik sendiri bermain dengan mobil-mobilan baru.
“ Sambil makan, sayang, kalau tidak. Nanti tidak boleh bermain mobil-mobilan, loh! ” ancam Mira.
“ Iya, Iya! ” seru Rafa sudah berlari mendekat dan segera memakan suapan dari Mira.
“ Mbak Mira, ada tamu! ” kata Sri tiba-tiba menyembul dari pintu belakang.
“ Siapa, Sri? ” tanya Mira. Keningnya berkerut.
“ Tidak tau, mbak, seorang laki-laki. ”
Apakah Efendi datang kesini? Malas sekali aku melihat wajahnya. Pikir Mira.
Mira meminta tolong kepada Sri untuk melanjutkan menyuapi Rafa dan dirinya akan segera menemui tamunya. Sepanjang berjalan ke depan, suasana hati Mira sungguh tidak karuan, teringat kembali kejadian tadi malam bersama Efendi. Namun ketika Ia membuka knop pintu. Ia mendapati seorang Laki-laki sedang duduk di teras rumah.
“ Ilham? ” panggil Mira dengan ragu. Yang semula hatinya menjadi tidak karuan, seketika berubah dalam sekejab.
Laki-laki itu ternyata Ilham. Ia langsung menoleh dan tersenyum.
“ Bagimana kabarmu hari ini? ” tanya Ilham seraya bangkit dari duduknya dan menghampiri Mira.
“ Baik, kamu sendiri bagimana? ” jawab Mira agak ragu karena Ilham tiba-tiba datang ke rumahnya tanpa pemberitahuan sebelumnya.
“ Jauhhh lebih baik! ” jawab Ilham dengan semangat.
__ADS_1
“ Memangnya kenapa? ” Mira menautkan kedua alisnya.
“ Karena aku dapat melihatmu di pagi ini. ” Sebelah alis Ilham terangkat.
Mira hanya tersenyum malu. Ia pun mengajak Ilham masuk ke dalam rumah. Ilham duduk di sofa ruang tamu setelah sebelumnya dipersilahkan duduk oleh Mira. Sedangkan, Mira pamit hendak ke belakang untuk membuatkan minum. Setelah selesai, Ia kembali ke depan dan meletakan teh hangat di atas meja.
Keduanya berbincang sebentar, hingga Mira terkejut saat Ilham mengatakan kalau Ia ingin bertemu dengan Rafa. Dengan ragu, Mira mengajak Ilham menuju ke belakang rumah. Saat itu, Rafa sudah selesai makan dan sedang bermain dengan mobil-mobilan kembali. Sri langsung menunduk dan pamit diri hendak ke dapur.
Ilham langsung menghampiri Rafa.
“ Rafa sedang apa? ” tanya Ilham sambil duduk di sebelah Rafa.
Rafa menoleh namun tidak kunjung menjawab. Baru setelah ada jeda Rafa akhirnya menjawab. “ Rafa sedang bermain mobil-mobilan. ”
Rafa menatap Ilham dengan ragu karena baru melihatnya kali ini.
“ Sayang, kenalin, ini Om Ilham, ” kata Mira sambil berjalan mendekat ke arah Rafa dan memperkenalkan Ilham kepada Rafa.
“ Sekarang, Rafa mau tidak, kalau bermain mobil-mobilan bersama Om? ” timpal Ilham sambil tersenyum.
Ilham dan Rafa langsung bermain bersama. Dalam sekejab, Rafa terlihat riang sekali, tertawa lepas karena terus digoda oleh Ilham. Ilham sesekali mengelus puncak kepala Rafa yang sangat harum dan terasa lembut. Ilham juga mencium puncak kepala Rafa. Hal itu, menyebabkan Ilham menjadi teringat dengan adiknya yaitu Raihan. Ia mendadak rindu dengan Raihan. Namun rindunya itu hanya bisa Ia pendam saja di dalam hati.
Rafa juga bergelendotan di pangkuan Ilham, Ia merasa sangat senang mendapat teman baru. Biasanya, hari minggu Rafa hanya diam di rumah saja. Namun, hari ini sungguh berbeda.
“ Dedek, ini mainan dari siapa? ” tanya Ilham sambil mengelus puncak kepala Rafa.
“ Dari Papa, Om, Papa yang membelikan mobil-mobilan ini. ” Jawab Rafa sambil mendongakan kepala, memperlihatkan mobil-mobilanya.
Ilham terdiam. Jadi, anak ini belum tau kalau Papanya sudah meninggal? Apa Mira berbohong mengenai Papanya yang sudah meninggal kepada Rafa?
Pasti sungguh berat sekali bagi Mira untuk memberitahu kalau Papanya sudah meninggal. Pikir Ilham.
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar telepon berdering dari dalam saku celana, Ilham langsung merogoh saku celana dan mengeluarkan ponsel dari sana. Ada panggilan masuk dari nomor baru, ternyata Ia mendapatkan job untuk pemotretan. Setelah selesai menelpon, Ilham memasukan kembali ponsel ke dalam saku.
“ Ilham, sebentar, ya, Om Ilham mau berbicara dengan Mama dulu. ” kata Ilham pada Rafa.
Rafa mengangguk pelan. Ilham segera bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Mira.
“ Aku harus pergi sekarang, Mir, aku ada job. ” Kata Ilham.
“ Kamu sekarang kerja? Kerja di mana? ” tanya Mira, setelah sebelumnya sempat terperangah.
“ Aku menjadi fotografer dan videografer. ” Jawab Ilham sambil tersenyum.
Ilham lalu menceritakan kalau Ia sudah tidak kuliah lagi. Ia memutuskan kuliah karena jurusan yang tempuh bukan pashion-nya.
“ Ilham, kau yakin dengan keputusanmu berhenti kuliah? Apakah kau tidak memikirkanya matang-matang terlebih dahulu? ” tanya Mira. Ia kaget sekali, Ia merasa kalau Ilham telah gegabah sekali dalam mengambil keputusan.
Ilham malah terkekeh cukup lama, lalu tersenyum sambil menatap Mira.
“ Kenapa kamu malah menertawakanku? ” kata Mira bingung apakah ada sesuatu yang salah dengan dirinya.
“ Aku senang sekali jika kamu seperti ini, mengingatkanku pada beberapa hari yang lalu, saat pertama kali kita bertemu. Kamu marah-marah seperti ini, kamu ngomel seperti ini. Itu lah yang membuatku rindu padamu. ” kata Ilham masih dengan terkekeh pelan.
Mira tidak bisa menimpali apa-apa. Ia hanya bisa tersenyum, entah Ia sendiri juga geli dengan apa yang dilakukanya dulu saat pertama kali bertemu dengan Ilham.
Ilham lalu pamit hendak pergi. Sebelumnya pamit kepada Rafa. Rafa agak sedih karena harus ditinggal Ilham, namun Ilham berjanji akan bermain ke sini lagi. Dan tentu saja, Rafa kegirangan.
Mira mengantar Ilham sampai ke depan. Saat Ilham hendak naik motor, Ia mengurungkan niat. Ia kembali berjalan mendekat ke arah Mira. Mira melangkahkan kakinya mundur dan terkunci saat tubuhnya menempel di tembok gerbang rumah. Ilham terus melangkahkan kakinya dan menatap lekat wajah Mira. Lalu, tanganya menopang tubuh di tembok gerbang itu.
Kini, keduanya saling menatap satu sama lain. Muka keduanya sangat dekat hampir bersentuhan. Lalu, jantung Ilham kini berdebar-debar tidak karuan.
Ilham mendongak, menatap puncak kepala Mira. Ada daun yang menempel di puncak kepala Mira. Ia pun menjulurkan tangan dan mengambil daun itu.
__ADS_1
“ Ada daun di atas kepalamu. ” kata Ilham memecah keheningan. Bersamaan dengan itu, Debaran jantungnya semakin kuat dan Ia segera naik ke atas motornya sambil tersenyum. Ilham segera melajukan motor.
Sedangkan Mira masih berdiri mematung di sana. Ia menjadi salah tingkah sendiri dengan apa yang dilakukan oleh Ilham barusan.