Menikah Dengan Janda

Menikah Dengan Janda
Hari Terkahir Bulan Madu


__ADS_3

Ilham berusaha mengerti istrinya. Sekarang dia tidak perlu merasa khawatir lagi, karena istrinya itu sudah mau melakukan percintaan di atas ranjang dengan dirinya. Tidak seperti hari pertama pernikahan mereka.


“Kita bisa berlibur lagi seperti ini, dengan mengajak Rafa. Sehingga kita bisa berlama-lama lagi menghabiskan waktu seperti ini bersama.”


“Kamu serius? Sungguh?” Mira mendadak girang.


“Tapi sebaiknya kita planing kapan-kapan lagi saja, kamu kan juga harus mengurus perusahaan dan kamu juga harus berangkat ke kantor.” Lanjut Mira melorotkan bahu.


“Argh, sampai lupa kalau lagi sama kamu tuh, jadi tidak ingat segalanya.” Ilham menghempaskan tubuh ke sandaran kursi sambil menggeleng kepala.


Ilham menjadi lupa segalanya kalau sedang bersama istrinya. Apalagi tengah menghabiskan moment-moment indah seperti ini. Rasanya ingin sekali tinggal di sana lebih lama. Tetapi banyak hal yang harus dipikirkan kedepanya.


Setelah makan malam selesai, mereka melanjutkan menikmati malam terakhir di tempat itu dengan duduk di tepi kolam.


Kepala Ilham bermanjaan di paha Mira, sedang Mira memainkan wajah dan rambut suaminya. Sesekali ngobrol apa saja ditemani dengan angin malam, bintang yang bertaburan di angkasa serta bulan yang tampak mendominasi langit malam.


Setelah keduanya merasa ngantuk, keduanya lalu beranjak ke kamar.


Keduanya sama-sama menghempaskan tubuh ke ranjang, bersiap untuk tidur.


Seketika Mira langsung bermesraan dengan dada bidang Ilham. Bermain di atas perutnya. Sedang Ilham membelai rambut sang istri sesekali menciumnya.


Masih saja dengan bercakap-cakap, hingga akhirnya keduanya tertidur. Malam yang indah akan segera berakhir di tempat itu.


.....


Mira terbangun saat mendengar alarm smartphone miliknya melengking keras. Sedang Ilham masih mendengkur dengan satu tangan terjulur, mendekap tubuhnya.


Mira lalu menggeser tubuhnya dan mengangkat tangan Ilham dengan pelan. Tak mau membangunkan suaminya, karena di luar masih tampak gelap.


Setelah bersih-bersih diri, Mira langsung mempersiapkan sarapan pagi di dapur. Pagi ini juga akan menjadi pagi terakhir bagi pasangan suami istri itu.


Tahu-tahu sebuah tubuh hangat menempel di belakang tubuhnya. Sebuah tangan hangat menelusuri tanganya yang tengah membuat sarapan. Sebuah dagu mendarat tepat di bahu setelahnya.


“Kamu udah bangun?” ujar Mira menoleh ke belakang sebentar, lalu kembali melanjutkan kegiatanya.


“Baru saja,” jawab Ilham dengan lirih. ”Bisakah kita tinggal di sini lebih lama lagi sayang?” rengek Ilham bak anak kecil, sambil mencium telinga Mira.


Mira menghentikan kegiatanya sejenak karena merasa geli. Lalu menggelengkan kepala. Memutar tubuh menghadap Ilham.

__ADS_1


“TIDAK BISA, SAYANGG!!!” Tandas Mira menekankan di setiap katanya.


“Kamu ini susah sekali ya diajak kompromi,” Ilham melangkahkan kaki mendekat. Menempelkan tubuh nyaris tanpa jarak dengan tubuh Mira.


Alhasil tubuh Mira tidak bisa bergerak ke mana-mana. Kedua tangan Ilham langsung bertumpu pada tepi. Menatap sang istri dengan seringai tipis di bibir.


Seketika Ilham langsung mendaratkan bibir ke bibir istrinya.


Tampaknya mereka tidak peduli. Di mana pun mereka berada, bisa dijadikan tempat bercinta.


“Aku mandi dulu, sayang.” Ucap Ilham kembali mencium pipi Mira.


“Baik,” balas Mira agak menghindar. Jenggot tajam Ilham benar-benar membuatnya geli.


Semalam, Ilham baru saja mencukur jenggotnya. Setelah sekian lama dibiarkan begitu saja.


Ilham sudah beranjak dari dapur hendak mandi. Sedang Mira menikmati teh hangat bersama mentari pagi yang datang dari jendela. Sinarnya begitu hangat.


“Sayangg!” seru Ilham tak berapa lama.


Mira menoleh dan mendapatkan Ilham berdiri di ambang pintu kamar mandi dengan balutan handuk putih menutupi bagian tubuh bawahnya.


“Kamu tidak jadi mandi? Apa ada sesuatu yang tertinggal? Biar aku ambilkan di kamar,” tanya Mira dengan kening berkerut. Sudah akan berdiri.


“Apa?” tanya Mira.


“Kamu yang tertinggal, belum kubawa ke sini!” goda Ilham dengan senyum penuh kemenangan.


“Apa-apaan sih,” dengus Mira sambil menggeleng.


“Maukah mandi bersamaku?” ucap Ilham kemudian.


“Mandi bersama?” Ulang Mira dengan penekanan. Agak terkejut.


Di tempatnya, Ilham mangguk-mangguk, kedua alisnya terangkat tinggi.


“Kemarilah, aku ingin mandi bersamamu.” Ucap Ilham lagi sambil menggerakan dagu ke arah dalam.


Lalu kembali menatap Mira, menunggu sang istri beranjak dari sana

__ADS_1


Seketika Mira langsung membayangkan moment mandi bersama dengan suaminya di benak.


Ah yang benar saja!


Mira bilang akan mengambil jubah mandi dulu di kamar. Tak lama dia turun dari kamar sudah mengenakan jubah mandi di tubuhnya, berjalan sembari mengikat rambutnya. Lalu segera menuju ke kamar mandi.


Sedangkan di sekitar bathub sudah di hiasi oleh lilin aroma terapi, beberapa kelopak bunga tampak menghiasi tempat itu, menjadikan bathub semakin terlihat menawan. Ada alunan musik yang mengiringi kegiatan mandi bersama mereka, menciptakan suasana begitu tenang.


Ilham sudah telanjang dada dalam rendaman air hangat di dalam bathub. Busa-busa menutupi sebagian anggota tubuhnya. Kedua matanya tertutup rapat, kedua telinganya dibiarkan mendengarkan musik yang mengalun lembut sembari menunggu sang istri datang.


Tak lama, pintu terbuka, Mira berjalan ke arah Ilham dengan balutan jubah mandi.


Ilham segera membuka kedua matanya, menyambut istrinya dengan seringai di bibir.


“Sinii sayang! Naiklah,” suruh Ilham.


Mira hanya mengangguk lalu naik ke atas bathub dengan canggung. Pipinya bersemu merah, masih malu dan canggung kalau harus bersama seperti ini. Dengan bantuan tangan jail Ilham, Mira berhasil mendarat dengan tepat di tubuh Ilham.


Dalam sekejab, keduanya bergantian saling menggosok tubuh. Sesekali Ilham tampak jail, mempermainkan Mira dengan busa-busa itu.


Alhasil, keduanya saling melemparkan busa bak dua anak kecil yang menemukan mainan baru.


Sentuhan tangan lembut Mira berhasil membuat Ilham kembali merasakan gairah di pagi hari.


Ilham juga bergantian menggosok tubuh istrinya. Menjamah semua bagian sensitif, membuat Mira merasakan geli dan ikut bergairah.


Mereka berganti posisi. Kini tubuh Mira membelakangi tubuh Ilham, bermesraan dengan dada Ilham yang bidang. Sedang Ilham bermain-main dengan area tubuh Mira.


“Gimana? Apa kamu suka?” tanya Ilham sambil menciumi rambut harum nan wangi istrinya.


Mira hanya mengangguk malu.


“Kenapa waktu itu, kamu tidak langsung memberikan tubuhmu? Padahal aku sudah sangat ingin istriku,” kepala Ilham kembali mendengus.


“Aku belum siap saja waktu itu, tapi kalo sekarang, aku sudah siap, aku akan selalu siap kapan saja kalo kamu mau!” Balas Mira sambil berusaha menatap wajah Ilham.


Tiba-tiba terdengar suara bel rumah yang cukup keras, sampai terdengar dari kamar mandi. Tidak cukup satu kali. Bahkan sudah empat kali bel itu dipencet dengan tidak sabaran.


”Ah, sial! Baru saja aku menyentuhmu, sudah ada yang menganggu!” Keluh Ilham, terpaksa melepaskan tangan dari area tubuh Mira.

__ADS_1


“Coba kamu cek di luar, siapa yang datang.” Suruh Mira.


Ilham segera beranjak dari bathub dengan telanjang bulat. Dikeringkanya tubuh menggunakan handuk, mengenakan jubah mandi, habis itu bergegas keluar dari kamar mandi untuk mengecek siapa yang datang di luar dengan perasaan kesal.


__ADS_2