
Setelah memarkirkan mobil. Ilham, Mira dan Rafa turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah sakit. Kebetulan, Kirana sudah di depan. Jadi mereka bisa langsung menuju ruangan.
“ Mama, siapa yang sakit? ” tanya Rafa sambil menegadahkan kepala, memandang Mira. Saat ini mereka sedang berjalan di lorong.
“ Kakek, sayang, ” jawab Mira.
Mira terpaksa mengatakan nama panggilan itu karena mengikuti kemauan Ilham tentunya.
Sesampainya di ruangan, mereka segera mengelilingi brankas. Suasana di ruangan putih itu menjadi hening. Mereka terdiam saling menatap tubuh Hadi.
“ Kakek, kenapa, Pa? ” tanya Rafa raut mukanya mendadak sedih. Saat ini Rafa ada dalam gendongan Ilham.
“ Kakek sedang sakit, kita doakan semoga cepat sembuh, ya! ” jawab Ilham sambil mencium pipi Rafa.
Berhubung Rafa sedang dalam gendongan Ilham. Kirana mengajak Mira untuk keluar sebentar. Kirana dan Mira berbicara di luar halaman rumah sakit itu.
“ Maafin Mama, ya, karena pernikahan kalian menjadi tertunda. Papanya Ilham jadi tidak setuju, setelah mengetahui komentar-komentar pedas itu dan apalagi setelah mengetahui kalau kamu adalah seorang Janda dan berimbas ke perusahaan. Hadi memang tidak suka kalau nama perusahaanya menjadi tercemar! ”
Ya, aku memang bisa membuat tercemar! Gumam Mira pasrah, mengakui saja.
“ Kamu yang sabar, ya, jangan terlalu memikirkan itu, Mama yakin sekali, kalau kamu adalah wanita yang baik. Hanya saja, mereka terlalu mempermasalahkan status, dan orang-orang yang membencimu karena mereka tentu saja iri dan kamu tidak usah memikirkanya. ”
“ Baik, Ma, Mira tidak teburu-buru untuk menikah, kok, Mira mengerti dengan situasi seperti ini, kalau seandainya aku dan Ilham tidak jadi menikah, tidak apa-apa, Ma. Mungkin itu yang terbaik. ” Kini suara Mira semakin terdengar melemah. Ia tidak kuat untuk melanjutkan kata-katanya.
Kalau aku tidak jadi menikah dengan Ilham, pasti aku akan sedih sekali, bagimana aku tidak sedih, aku sudah mulai mencintai Ilham. Ah, aku tidak bisa membayangkanya. Semuanya terlalu rumit bagiku.
“ Kita melihat kedepanya saja, Mama akan mengusahakan, Mama akan berbicara dengan suami Mama untuk dapat memberikan restu kepada kalian. Mama berjanji. ”
.......
Kirana dan Mira sudah masuk kembali ke ruangan. Sepertinya Ilham agak bingung karena calon istri dan Mamanya itu tiba-tiba menghilang.
Kirana menjelaskan kalau dirinya habis berbicara dengan Mira di luar. Ilham tidak curiga, Mamanya sudah merestui hubungan dirinya dan Mira. Tidak mungkin Mamanya akan berbicara yang tidak-tidak kepada Mira.
Setelah itu, Kirana berkata kepada Ilham dan Mira bahwa dirinya hendak pulang untuk bersih-bersih diri. Ilham dan Mira sama-sama mempersilahkan.
“ Nenek, Rafa ingin ikut dengan Nenek, Rafa mau bermain dengan kak Raihan. ” Kata Rafa sambil berjalan mendekat ke arah Kirana.
“ Tentu saja, sayang, ayo kita pulang sekarang, pasti kak Raihan sudah pulang sekolah hari ini. ”
__ADS_1
Kirana tersenyum lebar. Anak ini benar-benar tidak canggung dengan dirinya. Apalagi ketika Rafa memanggil dirinya Nenek, membuat Kirana senang sekali. Pasti Ilham yang menyuruh untuk memanggilnya seperti itu. Kirana pun langsung menggandeng tangan Rafa dan mengajaknya keluar.
Mira saat ini sedang duduk di sofa di ruang itu. Sedangkan Ilham duduk di samping Papanya. Ia pun bangkit dari sana dan menjatuhkan tubuh di samping Mira.
“ Maafkan aku, aku- ”
Mira langsung menyentuhkan jari telunjuk di bibir Ilham, “ Aku tidak mau mendengar kamu membicarakan masalah pernikahan kita. Lihat, kondisi Papamu sekarang lebih penting. Jadi, lebih baik kita menunda untuk tidak membicarakanya. ” Mira buru-buru memotong pembicaraan.
Untuk beberapa saat keduanya terdiam. Ilham menatap Mira dengan lekat, tatapan Ilham ini begitu menakutkan sekali. Ia menghela napas, sambil meraih jari Mira dari bibirnya. Mira yang sedang tertegun karena sedang menatap Ilham langsung menarik jarinya kembali karena tadi hanya refleks menyentuhkan jari di bibir Ilham.
“ Baiklah, aku tidak akan menyinggung masalah pernikahan. Tapi, ”
“ Tapi apa? ”
“ Ah, tidak jadi, ”
“ Kamu cantik, kamu calon istri yang baik, kamu Ibu yang baik, aku sangat bahagia menikah denganmu. ” Lanjut Ilham mulai ngaco lagi.
“ Kau memang kalau berbicara tidak jelas begitu, ya, Ini di rumah sakit, Ilham! ”
Hei, tunggu sebentar, tadi Ilham bilang kalau dia bahagia bisa menikah denganku? KITA BELUM MENIKAH, HAM!
“ Memangnya tidak boleh ya, kalau melakukan hal yang romantis di rumah sakit? ”
“ Lebih baik kamu pulang saja sana, kamu belum ganti baju sedari tadi, apa kamu tidak merasa gatal? ”
Seketika itu, Ilham menepuk dahinya sendiri. Dia tidak mempedulikan kemeja putihnya yang sudah sangat lusuh. Dia juga mencium ketiaknya sendiri dan memang bau.
“ Bau, kan? ” kata Mira kemudian.
Ilham menjawab dengan cengengesan.
“ Apakah kamu ingin mencium? ”
“ Mencium apa?! ” Jawab Mira agak gugup.
Mira sendiri tidak tau mengapa Ia menjadi gugup dan terbata seperti itu. Memangnya apa yang dimaksud oleh Ilham? Mira tidak terlalu mengerti. Sepertinya kata mencium sangat sensitif sekali, Mira menjadi mempunyai pikiran kotor dan tentu saja kemana-mana. Salah Ilham pula, berbicara tidak lengkap begitu.
“ Maksudku mencium bajuku. ”
__ADS_1
“ Kamu pasti sudah tidak sabar, ya, untuk melakukan ciuman denganku? ” Lanjut Ilham semakin menggila tidak ingat tempat. Bahkan di rumah sakit, pun.
Harus hati-hati pula kalau berbicara dengan Ilham. Sedikit-sedikit menggombal, sedikit-sedikit menggoda.
Seharusnya aku tidak menimpalinya begitu, mengapa aku tidak berfikir kalau yang dimaksud Ilham adalah mencium bajunya, sih! Tidak, Ilham yang salah, dia berbicara tidak jelas!
“ Apakah tidak apa-apa jika kamu menemani Papa sendirian? ”
“ Iya, aku tidak apa-apa. ”
Ilham sudah keluar dari ruangan itu. Kini, Mira hanya seorang diri menemani Hadi. Mira lebih memilih duduk di dekat Hadi. Tiba-tiba Mira merasakan kalau perutnya sudah minta untuk dikasih makan. Ia pun memegangi perutnya, sedangkan pasti Mamanya akan lama ke sini.
Tiba-tiba pintu ruangan itu mendadak terbuka kembali, Mira langsung menoleh dan mendapati Ilham sudah kembali. Apa ada sesuatu yang tertinggal?
“ Ilham, mengapa kamu kembali? Ada sesuatu yang tertinggal? ” sergap Mira.
“ Iya, aku meninggalkan sesuatu. ” Jawab Ilham seperti mencari-cari sesuatu sambil memandang berkeliling.
“ Apa yang sedang kamu cari? Aku akan membantu mencarikanya! ”
“ Calon istriku tertinggal di sini. ” Jawab Ilham lalu tersenyum, sebelah alisnya terangkat.
Sepertinya aku mau gila saja ini. Bisa-bisanya bercanda terus!
“ Tidak lucu sama sekali! ”
“ Kamu pasti belum makan, kita makan dulu, habis itu aku akan bisa pulang dengan tenang, tidak memikirkanmu. ”
Kata Ilham kemudian.
“ Aku masih kenyang, ”
jawab Mira berbohong.
Padahal, aku lapar sekali, bagimana ini, aku sudah terlanjur berbohong kepada Ilham!
“ Seharian ini kita bersama dan kamu belum makan siang! Pasti kamu belum makan, sekarang ikut bersamaku. ” Ilham segera menarik tangan Mira.
Mengapa aku harus berbohong tadi, ah, aku memang tidak pandai berbohong.
__ADS_1
Mira mengkhawatirkan Calon mertuanya, namun Ilham mengatakan kalau dia sudah menyuruh suster untuk menemani Papanya. Bahkan dia rela membayar lebih, khusus untuk suster tersebut.
Baiklah, CEO memang bebas, mau melakukan apa saja.