
Sesuai janjinya Mira menceritakan perihal dia menolak Efendi kepada Wanda. Bahwa dia tidak bisa mencintai Efendi, dia sudah berusaha untuk bisa mencintai Efendi namun tetap tidak bisa, hingga akhirnya dia memilih untuk tidak mengatakan iya kepada Efendi karena itu hanya akan membuat Efendi kecewa.
Terdengar helaan napas berat dari Wanda setelah Mira selesai bercerita, Wanda diam untuk beberapa saat, lalu berkata. “ Maafkan aku Mira, kalau aku selalu menyudutkanmu untuk segera menerima Efendi, tanpa melihat keadaanmu dari sudut pandangmu. ”
“ Tetapi, kamu juga jangan seperti ini terus, aku ingin kamu bahagia. ” Wanda meneruskan sambil tersenyum. Ia menggeser tubuhnya lebih mendekat dan memeluk Mira. Terasa sangat hangat. Dua sahabat berpelukan.
Wanda sudah pulang lebih dulu karena ada urusan katanya. Kini, Mira melangkah keluar dari kantornya, tiba-tiba ponselnya berdering. Ia menjulurkan tangan ke dalam tas dan mengeluarkan ponsel dari sana.
Nomor baru?
Mira mengernyitkan kening. Dengan ragu, Ia menerima panggilan itu.
“ Hallo, ”
“ Kamu mau pulang? ”
“ Kau-kau siapa? ” Mira menautkan kedua alisnya.
“ Masak tidak mengenali suaraku! ”
“ Ilham? ” tebak Mira. Sepertinya memang Ilham pemilik suara di ujung ponselnya.
“ Tepat sekali! ”
“ Kamu dapat nomorku dari mana? ”
“ Kamu tidak perlu tahu hal itu, sekarang, kamu mau pulang, kan? ” tanya Ilham dengan tidak sabaran.
“ Iya, kok, kamu bisa mengetahuinya? ”
“ Karena aku melihatmu. ”
“ Maksudmu? ” Mira tidak mengerti dengan apa yang Ilham baru saja katakan.
“ Coba kamu lihat ke arah parkiran! ”
Mira sempat tak percaya. Namun, Ia membulatkan mata saat mendapati Ilham sedang tersenyum ke arahnya. Ia tengah mengangkat ponsel dan mendekatkanya ke telinga.
“ Apa yang sedang kamu lakukan di situ? ” Lanjut Mira setelah diam beberapa saat.
__ADS_1
“ Menunggumu. ”
“ Ilham, bisakah kamu serius? ”
Mira segera mengakhiri panggilan dengan sepihak. Ia menggeleng kepala dengan kata-kata yang keluar dari mulut Ilham barusan seraya ada senyum tipis di bibirnya.
Lagi-lagi Ia belum siap kalau harus bertemu dengan Ilham kembali. Haruskah Ia menemuinya? Namun Ia juga akan berjalan menuju ke parkiran untuk mengambil mobilnya. Dengan terpaksa, akhirnya Mira berjalan menghampiri Ilham.
“ Apa yang sedang kamu lakukan di sini? ” tanya Mira saat sudah di dekat Ilham.
“ Sudah kubilang, aku sedang menunggumu! ” jawab Ilham sambil menarik tubuh dari atas motor.
“ Menungguku? Untuk apa? ” Mira menautkan kedua alisnya.
“ Ikutlah denganku sekarang, ”
“ kemana? ”
“ Kemana saja, yang terpenting bersamamu. ”
“ Pokoknya ikutlah denganku, ” Tambah Ilham dengan riang sekali.
“ Tapi aku bawa mobil dan aku harus pulang. ” Jawab Mira.
“ Tidak bisa, Ilham, maafkan aku! ”
Mira berbalik badan, melangkahkan kaki bergegas menghindar dari Ilham. Mira melakukan ini, karena tidak mau lagi hatinya menjadi berdebar-debar.
“ Aku tidak akan pergi dari sini, jika kamu tidak ikut denganku. ” kata Ilham setengah memekik cukup keras.
Entah apa yang terjadi jika ada banyak teman kantornya ada di sekitar sini. Mira memandang berkeliling, untung saja parkiran terlihat sepi. Hanya ada dua orang yang sedang berbincang di pojok sana.
Mira menghela napas berat, lalu berbalik badan dan menurut saja dengan permintaan Ilham.
Ilham tak bisa berhenti senyum-senyum sendiri karena berhasil menggoda Mira. Keduanya sudah di atas motor dan Ilham langsung melajukan motor keluar dari halaman kantor.
“ Kamu mau mengajaku kemana? Aku tidak bisa berlama-lama, aku harus pulang! ” kata Mira.
“ Hanya sebentar saja, aku berjanji. ”
__ADS_1
Ilham memberhentikan motor di depan sebuah minimarket. Keduanya turun dari atas motor, Ilham mengajak Mira untuk masuk ke dalam minimarket. Mira hanya menurut apa kata Ilham sambil kebingungan dengan apa yang hendak Ilham beli.
Sesampainya di dalam minimarket, Ilham segera mengambil beberapa snack dan memasukanya ke dalam keranjang.
Apa yang hendak dia lakukan dengan snack sebanyak ini? Mengapa dia mengajaku hanya untuk membelinya? Aneh sekali! Gumam Mira sambil mengikuti langkah Ilham di belakangnya.
Ilham sudah selesai berbelanja dan membawanya ke kasir. Ilham membayar dan menerima bungkusan plastik agak besar dari kasir, lalu keduanya keluar dari minimarket tersebut.
Ilham mengajak Mira untuk duduk dulu di bangku di depan minimarket lebih dulu. Lagi-lagi dengan terpaksa, Mira menurut saja.
“ Aku akan memberikan snack ini kepada Rafa! ” kata Ilham memulai obrolan sambil meneguk minuman botol yang Ia beli tadi bersama snack-snack itu.
“ Kamu-kamu ingin memberikan snack sebanyak itu kepada Rafa? ” Mira mengernyitkan kening.
“ Ilham, apa yang kamu lakukan? Kamu sedang dalam masalah, kenapa kamu bisa lakukan ini? ” Terdengar helaan napas berat dari Mira.
Mira sungguh tidak menyangka, posisi Ilham sekarang ini mungkin sedang kesulitan. Memikirkan cara mencari uang, memikirkan makan sehari-hari dan kebutuhan lainya.
“ Bagiku, sedang tertimpa masalah, bukan berarti aku menjadi tidak mempedulikan seseorang, bukan? ”
“ Mira, terima kasih telah memperkenalkanku kepada Rafa dan juga telah membesarkan Rafa dengan setulus hatimu. ”
“ Apa maksudmu? ”
“ Entah mengapa, setelah aku mendapatkan bayaran dari job-ku, aku menjadi teringat dengan Rafa, maka dari itu, aku ingin memberikan ini kepada Rafa. ” Jelas Ilham sambil tersenyum.
“ Kamu baru mengenal Rafa kemarin, tetapi kenapa kamu bisa berkata seperti itu? Kamu langsung teringat Rafa? ” tanya Mira masih heran dengan sikap Ilham.
“ Tidak penting seberapa lama kita mengenal seseorang, Mir. ”
“ Bagaimana tidak ingat, Rafa sangat menggemaskan sekali. ” Tambah Ilham, kembali meneguk minuman botolnya.
Ilham lalu bertanya mengenai Rafa yang tidak mengetahui kalau Papanya sudah meninggal. Apakah Mira berbohong soal itu?
Pandangan Mira menatap lurus ke depan, diam beberapa saat, lalu berkata dengan masih memandang lurus ke depan. “ Aku tidak tau apa yang harus kulakukan, Ham. Ini sungguh berat bagiku, aku benar-benar melupakan Mas Fahmi saja hampir satu tahun, aku tidak tau apakah hal itu baik atau tidak bagi Rafa. Saat itu, aku tidak bisa berbuat apa-apa. ”
“ Yang membuat aku sedih, ketika Rafa teringat kembali dengan Papanya. Aku tidak tau harus menjawab dengan apa lagi. ” Mira menunduk, suasana hatinya kembali bersedih.
“ Kalau semisal aku menjadi Papa untuk Rafa? Apakah pantas? ” Balas Ilham sebelah alisnya terangkat, sambil senyum-senyum sendiri.
__ADS_1
Kini, Mira yang tadinya sembab, menjadi tertawa kecil. Ia pun menyeka ujung mata. Ilham memang pandai sekali kalau soal menghibur suasana hati yang kembali bersedih. Hal itu terdengar lucu memang perkataan Ilham barusan, entah serius atau bercanda.
Pasti dia bercanda bicara seperti itu, dia pasti melakukan itu hanya karena ingin membuatku kembali tersenyum saja! Terima kasih Ilham, kamu berhasil. kamu berhasil telah membuatku tersenyum kembali. Pikir Mira.