
Seorang pria paruh baya tergeletak di brankas rumah sakit. Dia sedang kritis. Sedangkan di sampingnya, Kirana masih sesenggrukan sesekali menyeka hidung dan ujung matanya.
Pria paruh baya itu adalah Hadi. Tadi malam, beliau mendadak kejang-kejang. Kirana dengan panik langsung membawa suaminya ke rumah sakit.
Tubuh Hadi tadi malam bergetar dan terbujur kaku. Hadi mendadak terserang stroke. Masalah sedang membelenggunya saat ini. Pikiranya sedang stress. Ditambah Ilham yang kembali membangkang dan pergi dari rumah begitu saja tidak tahu kemana perginya anak itu.
Kirana sudah berkali-kali mencoba menghubungi Ilham. Namun nomor Ilham tidak bisa dihubungi. Kirana membutuhkan Ilham saat ini. Dia harus tau kalau Papanya masuk rumah sakit. Namun, Kirana juga cemas karena semenjak pertengkaraan sore hari itu Ilham tidak terlihat batang hidungnya lagi. Kirana takut kalau Ilham akan pergi dari rumah lagi. Atau jangan-jangan melakukan sesuatu yang membahayakan dirinya?
.....
“ Ilham, aku tidak butuh maaf darimu, aku membutuhkan penjelasanmu! ” Kata Mira dengan suara meninggi.
“ Galak sekali, ‘’
Ilham pun menjelaskan mengapa dia sampai mengunjungi bar, termasuk sedang mempunyai masalah dengan Papanya, Papanya marah besar dengan masalah ini. Papanya lebih mementingkan nama baik perusahaan, daripada kebahagiaan anaknya.
Ternyata dugaan Mira benar, mungkin Ia tidak akan bisa menikah dengan Ilham. Karena Papanya Ilham tidak merestui pernikahan keduanya.
Aku sedang tidak mau memikirkan itu, membaca komentar para netizen saja rasanya aku mau pingsan, bagimana kalau mendapati apa yang terjadi denganku dan Ilham selanjutnya?
“ Kamu sebaiknya mandi, habis itu akan aku siapkan sarapan untukmu. ” Kata Mira bersikap tenang sambil menghembuskan napas.
“ Maukah kamu mandi bersamaku? ” Balas Ilham hendak terkekeh.
Hampir saja Mira hendak menyumbal mulut Ilham menggunakan bantal, namun tidak jadi. Ia memilih keluar dari kamar saja daripada nanti naik pitam sendiri karena godaan Ilham. Setelah sebelumnya memberikan handuk kepada Ilham.
Sedangkan Ilham tersenyum sendiri saat Mira sudah pergi. Persetan dengan urusan kantor, dia sedang tidak peduli. Ia mengecek ponselnya sebelum beranjak mandi. Sudah ada panggilan masuk dari Mamanya, lalu ada pula dari Yoga, lalu dari Angga.
Sudah kuduga! Desis Ilham.
......
“ Mira, apakah kamu tau Ilham ada di mana? ”
Saat ini, Mira sedang menerima panggilan dari Mamanya Ilham. Mira berfikir sejenak, antara mengatakanya atau tidak kalau Ilham ada di rumahnya. Setelah diam beberapa saat akhirnya Mira menjawab kalau Ilham ada di rumahnya.
Terdengar helaan napas lega dari ujung ponsel, “ Kalau begitu, kamu cepat ke rumah sakit sekarang bersama Ilham, ya! ”
__ADS_1
“ Memangnya siapa yang sakit, Ma? ”
“ Papanya Ilham yang sedang sakit, kamu dan Ilham segera ke sini, ya! ”
Kirana pun menceritakan kalau Papanya sakit karena terserang stroke disebabkan karena bertengkar dengan Ilham pula. Papanya mempermasalahkan karena komentar di media sosial, lalu Kirana pun meminta maaf karena harus menunda pernikahan yang seharusnya akan dilangsungkan beberapa hari lagi.
Setelah menerima panggilan dari Mamanya, Mira terdiam di tempat. Lalu buru-buru mempercepat langkah untuk menemui Ilham.
Apa Ilham sudah mengetahui hal ini? Mengapa dia tidak bercerita denganku?
Kini, Mira langsung membuka knop pintu dan seketika itu Ia berteriak cukup keras saat membuka pintu kamar. Bagimana tidak berteriak, tubuh Ilham sudah tanpa baju, lalu dia hendak melepas celananya. Untung saja, baru akan melepas celananya.
Mira buru-buru menutup pintu kembali dengan menepuk dahinya dengan keras. Sampai-sampai Sri bergegas dan bertanya apa yang tengah terjadi. Mira pun menjelaskan kalau tidak terjadi apa-apa dengan terbata tentunya.
Sedangkan Ilham menepuk dahinya sendiri pula, lalu berkacak pinggang, sambil menghembuskan dadanya. Bagimana bisa dia lupa untuk menutup pintu.
Pasti pipi Mira saat ini mendadak seperti kepiting rebus saja. Gumam Ilham tidak merasa bersalah, malah tersenyum.
......
“ Kamu tidak apa-apa? ” tanya Ilham saat Mira sudah ada di hadapanya.
“ Apa maksudmu? ” Mira menautkan kedua alisnya.
“ Kamu baik-baik saja kan setelah kejadian barusan! ”
“ Ah! Aku-aku baik-baik saja. ” Jawab Mira berbohong tentunya, bagimana Ia bisa baik-baik saja dengan kelakuan Ilham itu.
“ Ilham apa kamu sudah tau, tadi malam Mama menelponmu? ” Mira mengganti topik dengan nada lebih serius.
“ Mama siapa yang kamu maksud? ”
“ Akan menjadi Mama kamu juga, setelah kita menikah nanti. ” Lanjutnya.
Ah! Rasanya sedikit senang aku mendengarnya. Walaupun entah aku jadi menikah dengan Ilham atau tidak. Menurutku dia selalu saja membuatku merasa kalau sekarang ini kami seperti sedang baik-baik saja, selalu bahagia.
“ Baiklah, Mamamu dan sekaligus Mamaku, Mama kita bersama, apa tadi malam menelponmu? ” kata Mira lagi menekankan. Sembari menggeleng kepala.
__ADS_1
“ Nah, begitu, sayang, harus lengkap kalau mengatakan sesuatu, ya! ”
“ Hmm, ” Mira hanya bergumam.
“ Iya tadi malam Mama menelponku sepertinya. ”
“ Jadi, kamu belum, tau, ya! ” sambar Mira cepat.
“ Papamu mendadak sakit, kita harus segera ke rumah sakit sekarang, lebih baik kamu telepon Mamamu. Aku akan siap-siap sebentar. ” Kata Mira sudah berlalu dari sana.
Papa sakit? Bukanya Papa baik-baik saja kemarin? Ah, ngapain pula aku memikirkan Papa, Papa saja sama sekali tidak bisa mengerti perasaanku.
Ilham mondar mandir, sambil berfikir keras, sebenarnya dia sungguh sudah muak sekali dengan Papanya. Papanya tidak memberi restu pernikahan dirinya dengan Mira. Lalu, sekarang dia mendengar kalau Papanya sakit. Kalau tidak parah mana mungkin akan dibawa ke rumah sakit. Ilham agak cemas juga jadinya.
Baru saja, Ilham hendak menelpon Mamanya. Mamanya sudah lebih dulu menelponya. Ilham pun langsung menerima panggilan dengan sedikit ragu.
“ Kamu kemana saja Ilham! Mama sangat mencemaskanmu, kenapa kamu susah sekali Mama hubungi, sekarang kamu cepat ke rumah sakit, Papamu mendadak sakit, Mama tunggu, ya, kamu kesini bersama Mira! ”
“ Ilham baik-baik saja, Ma, Ilham tidak mau bertemu dengan Papa, biar Mira saja yang kesana! ”
“ Ilham! ” terdengar Mamanya membentak di ujung ponsel.
“ Mama membutuhkanmu sekarang, hanya kamu yang bisa Mama andalkan, Mama tau kamu sedang marah dengan Papa, tetapi keadaan Papamu sungguh memperhatinkan saat ini, kalau kamu sayang sama Mama, kamu harus datang ke rumah sakit! Mama akan menunggumu! ”
Panggilan pun berakhir. Ilham menyibak rambutnya ke belakang, dia masih bimbang, antara memilih ke rumah sakit atau tidak.
.....
“ Ini mobil siapa? ” tanya Ilham ketika hendak masuk ke dalam mobil. Akhirnya Ilham mau ke rumah sakit karena paksaan dari Mira.
“ Mobil peninggalan mendiang suamiku, ” jawab Mira.
“ Aku takut, apakah mendiang suamimu akan marah kalau aku mengendarai mobilnya? ”
“ Tidak, Ilham! Ayo jangan banyak bercanda, sebaiknya kita segera berangkat! ”
Mobil pun melaju menuju rumah sakit. Rafa begitu senang sekali di belakang, karena dia ijin tidak masuk sekolah. Sedangkan Ilham dan Mira sedikit mencemaskan seseorang yang sedang ada di rumah sakit.
__ADS_1