
Menuju jalan utama, jalan yang dilewati mereka berdua saat ini agak sepi. Namun Ilham masih sempatnya bernyanyi dan berhasil memecah keheningan.
Jika diluar seperti ini, benar-benar tidak mencerminkan sosok seseorang CEO. Pak CEO yang koplak! Ilham juga menyandang status dadakan sebagai Papa muda. Jiwa mudanya pun masih melekat dalam dirinya.
Jiwa muda yang brutal. Sebagai mantan vokalis band di kampusnya - memang tidak main-main kalau harus menyanyi dengan sembarang. Setidaknya tak membuat sakit telinga. Enak didengarkan.
Untuk beberapa saat, keheningan kembali menyeruak. Baik Ilham maupun Mira, sama-sama sibuk dengan pikiranya masing-masing.
“Sayang, apa nanti malam kamu siap?!” seru Ilham sengaja mengeraskan suaranya.
Kening Mira langsung mengernyit, “Siap? Siap untuk apa?”
“Mumpung Rafa sedang tidak ada di rumah,”
Seketika Mira membulatkan mata dengan sempurna. Baru mengerti dengan apa yang diucapkan suaminya barusan.
“Aku-aku siap!” Balas Mira setengah berbisik di telinga Ilham, merespon sekenanya. Niatnya sih supaya suaminya itu tidak mendengar.
Tapi Ilham mendengar bisikan istrinya, senyum tipis seketika langsung tercetak di bibirnya.
“Ah tidak jadi deh! Aku tidak siap!” Balas Ilham kemudian.
Tak ayal, Mira berdecak pelan. Karena dirinya sebenarnya sudah siap dengan apa yang dimaksud oleh suaminya itu.
Memang suka bercanda suaminya itu. Kirain hal itu beneran, ternyata hanya bercanda. Ya, hanya bercanda!
Ilham membawa motor dengan super amat pelan. Memang sengaja. Pria itu ingin menikmati malam hanya dengan sang istri tercinta di jalan. Benar-benar seperti seseorang yang baru pacaran.
“Kamu tahu malam ini malam apa?” tanya Ilham memecah keheningan lagi.
“Malam apa ya? Malam senin mungkin.”
“Malam ini malam minggu, sayang.”
“Ohhhh, malam mingguu!” Mira ber-oh panjang. Tidak terlalu heran.
“Kenapa hanya oooh saja?” Kedua alis Ilham bertaut.
“Memangnya kenapa sih? Aku sudah tidak bekerja, jadi suka lupa hari.” Mira terkikik di belakang.
“Malam minggu itu adalah malam untuk menghabiskan waktu bersama dengan sang pujaan hati!”
__ADS_1
“Lalu? Kenapa?”
“Kamu mau tidak, kalau kita malam mingguan seperti anak muda?”
“Hah?!”
Mira mendesis. Malam mingguan? Sudah lama sepertinya kata itu tidak terpikirkan olehnya. Terdengar lucu pula. Dirinya sudah menjadi janda lebih dari satu tahun lamanya. Bahkan sudah mempunyai anak. Tidak pernah terpikirkan oleh dirinya sekalipun tentang malam itu.
Saat itu yang Ia pikirkan hanyalah bersama Rafa. Tidak memikirkan laki-laki lain.
Tetapi sekarang mendadak semuanya berubah. Malam yang kata suaminya itu adalah malam minggu yang digunakan untuk berduaan dengan sang pujaan hati.
Motor hitam itu terus melaju menuju ke tempat tujuan. Kemudian Ilham menghentikan motornya diantara motor-motor lainya yang berjejer rapi.
Entah secara tiba-tiba ide untuk menemui teman-temanya dulu terlintas di benaknya begitu saja.
Mira turun dari atas boncengan dengan bingung. Pasalnya Ilham membawa ke tempat seperti sebuah warung yang digunakan untung tongkrongan anak muda.
“Aku akan menemui teman-temanku, dulu kami biasa nongkrong di sini!” Terang Ilham sembari melepas helm.
“Kenapa laki-laki semua?” Mira agak cemas. Ilham dapat membaca kedua sorot dan guratan cemas dari wajah istrinya itu.
“Tapi aku sepertinya wanita sendirian, sayang.” Balas Mira saat sudah melangkah menuju ke sana.
“Kan ada aku yang ada di sisimu? Aku hanya sebentar kok, hanya sekadar menyapa mereka. Ngobrol sebentar, habis itu kita langsung pulang!” Jawab Ilham menoleh ke belakang lalu kembali menatap ke depan.
Mira mengangguk pasrah. Toh dia bersama dengan sang suami. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Mira mengekor langkah suaminya di belakang, seperti seorang anak kecil yang bersembunyi di belakang Ayahnya. Agak merasa ngeri juga mendapatkan para cowok yang sedang nongkrong layaknya khas anak muda.
“Ilham!” seru seorang cowok dari bangku sana. “Wihhh! Elo baru kelihatan, ke mana saja selama ini!”
“Dia sibuk lah, orang dia udah jadi CEO! Mantap lah memang Boss kita ini!” Balas yang lainya.
Cowok-cowok di situ pada menjabat tangan Ilham secara bergantian. Dulu, Ilham adalah ketua geng perkumpulan cowok itu. Tetapi setelah menjadi seorang suami dan sekarang menjadi orang nomor satu di kantor. Jabatanya pun lengser. Digantikan oleh Zaki.
Cowok yang duduk di pojok langsung bangkit berdiri dan mempersilahkan Ilham dan Mira untuk duduk. Kemudian keduanya duduk, Ilham langsung ke sana ke mari cerita panjang lebar. Sesekali tawa dan canda menyeruak di tempat tongkrongan itu.
“Makan apa aja kalian malam ini, gratisss! Karena Boss kita yang mentraktir,” ujar Zaki dengan kedua alis terangkat tinggi-tinggi.
Sontak saja Ilham terperanjat. Menatap ke arah Zaki dengan tajam. Cowok itu cengengesan kemudian.
__ADS_1
“Apa kau sudah gila?!” desisnya. “Mending aku cabut aja dari sini!” Ilham hendak akan bangkit dari duduknya. Hanya bercanda tapi.
“Eh, jangan dong, Boss! Kami hanya bercanda.” Zaki buru-buru mencegahnya.
“Sialan kalian,” Ilham duduk kembali, Mira juga ikut duduk.
Detik berikutnya rahang Ilham mengeras, tampak memikirkan omongan Zaki yang sepertinya perlu ditindaklanjuti.
“Baiklah, aku akan bayarin kalian semua, sudah lama sekali sepertinya, aku tidak mentraktir kalian semenjak aku menikah.”
Sontak, cowok-cowok yang ada di situ langsung kegirangan.
Ilham lalu merogoh saku dan mengeluarkan dompet dari sana. Mengecek uang di dalam dompet. Hanya ada 100 ribu saja.
“Sayang, kamu ada uang tidak?” tanya Ilham, sepertinya tidak akan cukup untuk mentraktir teman-temanya.
“Ya tidak lah,”
“Kalo gitu, kamu tunggu di sini, aku akan mencari ATM.”
“Tapi, aku-”
“Nanti akan kusuruh Zaki untuk mengobrol denganmu,”
“Tidak! Aku ikut saja,” Mira sudah ikut berdiri.
“Kamu tidak usah ikut, aku hanya sebentar saja.” Ilham meyakinkan istrinya.
“Eh, Nak Ilham, ini minumanya.” Tahu-tahu seorang Ibu paruh baya nongol dari balik warung dengan membawa nampan. Di atasnya ada minuman pesanan mereka berdua.
“Bu, titip istri saya ya sebentar. Saya mau cari ATM.”
“Oh iya, Mas. Tidak apa-apa,” sahut Ibu itu. “Mari mbak, duduk di sini saja, ngobrol dengan saya.” Lanjutnya. Lalu mempersilahkan Mira.
Mira agak cemberut. Ingin ikut sebenarnya. Tapi mau gimana lagi. Beruntung saja, penjualnya adalah Ibu-Ibu. Tidak bisa membayangkan kalau duduk bersama dengan cowok-cowok itu karena perempuan sendiri!
Apa Ilham sedang mengerjainya atau gimana?
Ilham segera naik ke atas motor dan mengenakan helm. Menatap sesaat untuk memastikan bahwa istrinya baik-baik saja. Sedikit tidak tega sebenarnya.
Mira, Mira, kamu ternyata manja juga ya. Suka sekali melihatmu seperti itu. Gumamnya, ada senyum samar di bibirnya.
__ADS_1