
Ilham habis mandi, Ia masuk kamar Angga dengan masih berbalut dengan handuk. Sisa-sisa air masih menempel di dada bidangnya dan di sela-sela rambutnya.
“ Cepat! Beritahu aku, siapa cewek yang sedang membuatmu jatuh cinta? ” tanya Angga dengan tidak sabar.
Angga sudah penasaran sekali dengan perempuan yang membuat Ilham senyum-senyum sendiri saat ini. Ilham hanya membalas tersenyum menggoda, Ia memang sengaja membuat sahabatnya itu agar penasaran.
“ Baiklah, aku akan ganti baju terlebih dahulu. Setelah aku ganti baju, akan kuberitahu! ” jawab Ilham santai sambil cengengesan.
Ilham segera mengenakan celana, “ Kau melihatku sedang berganti baju, hah? Berpaling lah, jangan kau lihat! Hanya istriku saja yang boleh melihatku ganti baju. ” Lanjutnya sambil terkekeh pelan.
“ Siapa pula yang mau melihatmu ganti baju! Aku hanya tidak sabar menunggu, kau beritahu aku, tentang siapa perempuan itu! ”
Angga menggeleng kepala sembari memutar tubuhnya menatap layar laptop kembali. Kini, Ilham hanya mengenakan celana pendek saja. Tubuhnya dibiarkan tanpa baju. Ia menjatuhkan tubuh di kasur sambil terlentang.
“ Aku mencintai Mira, Ngga! ” katanya tiba-tiba sambil membenarkan posisi tubuhnya.
“ Mira? Mira Siapa? Apakah anak kampus kita? ‘’ Rahang Angga mengeras. ‘’ Sepertinya aku tidak mengenal Mira. ” Lanjut Angga sudah pasrah.
“ Kau ingat dengan Mira yang aku antar pulang, pada saat kita sedang makan di warungnya Pak Ahmad? ”
Angga langsung menoleh dengan cepat, “ Yang kata Pak Ahmad seorang Janda itu? ”
“ Jangan kau sebut dia Janda! ‘’ sergah Ilham tidak terima. ‘’ Dia sebentar lagi akan menjadi miliku. ” Lanjut Ilham sambil menaikan sebelah alisnya.
Angga langsung tertawa terpingkal mendengar perkataan Ilham barusan. Sesaat lamanya Angga masih tertawa terpingkal-pingkal setelah mendengar bahwa Ilham sedang jatuh cinta dengan seorang janda. Sampai Ilham menggerutu kesal, dilemparkan bantal di sampingnya itu -tepat mengenai kepala Angga.
“ Selera kau sekarang berubah, Ham? Kau sudah tidak tertarik dengan para gadis lagi? ” timpal Angga setelah beberapa saat, masih ada sisa ketawa.
“ Iya, karena janda lebih berpengalaman! ” jawab Ilham sambil terkekeh pelan.
Angga menyangka kalau sahabatnya itu benar-benar sudah gila. Setelah putus dengan pacarnya, kini Ilham menurunkan standar dalam memilih perempuan. Dan sekarang standar perempuanya adalah wanita yang lebih dewasa darinya, yang lebih berpengalaman seperti janda.
__ADS_1
Namun, Yang membuat Angga tidak percaya, kalau Ilham ingin menikah dengan Janda itu.
. .....
“ Aku tau mengapa kamu menolak, Pak Efendi. ” bisik Wanda tiba-tiba dan mengandeng tangan Mira. Saat ini, keduanya sedang berjalan menuju kantor.
Mira melirik ke arah Wanda, bersamaan dengan itu keningnya berkerut.
“ Kamu pasti sedang dekat dengan Laki-laki bernama Ilham itu , kan? ”
“ Tidak, aku tidak dekat denganya. ” jawab Mira agak gugup.
“ Kemarin dia meminta nomor handphone-mu kepadaku. Waktu aku tanya padanya, dia jawab, kalau dia ingin mengenalmu lebih dekat. ”
Jadi, Ilham mendapatkan nomorku dari Wanda, sungguh keterlaluan!
“ Aku sekarang akan mencoba memahamimu, jika kamu ingin bercerita kepadaku, cerita saja, aku siap mendengarkanmu cerita panjang lebar tentang Ilham. ” Sebelah alis Wanda terangkat.
“ Menurutku, kamu dengan Ilham usianya tidak beda, malah kamu masih terlihat seperti gadis dan sepertinya Ilham itu seumuran denganmu atau berbeda satu tahun, dua tahun, tidak jauh yang pasti. ” tebak Wanda.
Sementara Mira berdecak sebal dengan kelakuan sahabatnya saat ini.
Haruskah aku jujur saja dengan perasaanku sendiri? Aku tidak tahu dengan perasaanku saat ini. Yang jelas, aku merasa aneh kalau menyangkut Ilham.
Ingat, Mir, kau adalah seorang janda dan kau tidak berhak untuk memilih laki-laki sekarang.
Mira menghela napas dan kembali melanjutkan langkah menuju kantornya dengan perasaan yang lebih lega lagi.
....
Ilham memandang sekeliling, beberapa Ibu-Ibu sudah keluar dari sekolah tersebut. Saat ini, Ilham sedang menunggu di luar sebuah Taman Kanak-Kanak untuk menunggu Rafa pulang.
__ADS_1
Saat mendapati Rafa bersama seorang wanita sedang berjalan keluar dari gerbang. Ilham langsung turun dari atas motor dan menghampiri keduanya. Wanita itu adalah Sri.
Wajah Rafa seketika itu berbinar saat Ilham ada di hadapanya. Ilham yang baru dikenalnya, namun karena Ilham sangat pandai sekali mengambil hati anak kecil menjadikan Rafa mudah akrab denganya.
Ilham berkata pada Sri kalau Ia hendak membawa Rafa jalan-jalan. Tentu saja Sri tidak memperbolehkanya karena Ilham adalah orang asing dan Ia tidak mengenalnya. Sri hanya pernah melihat pria ini saat berkunjung ke rumah beberapa hari yang lalu. Sri berjaga-jaga takut kalau akan terjadi sesuatu kepada Rafa.
Ilham lantas menelpon Mira untuk meminta ijin, setelah itu, baru Sri percaya dengan Ilham. Rafa segera naik ke atas motor di depan Ilham dan Ilham juga segera naik. Seketika itu, motor melaju dengan pelan menembus jalanan.
Ilham membawa Rafa dengan hati yang berbunga-bunga. Ilham membawa Rafa ke sebuah minimarket. Di dalam minimarket, Ilham menyuruh Rafa untuk mengambil semua apa yang dia mau. Tentu saja, Rafa kegirangan lalu segera menjulurkan tangan untuk mengambil snack dan minuman yang diinginkan. Keduanya keluar dari minimarket setelah sebelumnya membayar kepada kasir.
Kini mereka duduk di teras minimarket. Ilham bertanya banyak tentang sekolahnya Rafa. Dan seketika itu, Rafa telah bercerita dengan panjang lebar mengenai sekolahnya. Ilham mendengarkan dengan mangguk-mangguk sesekali menimpali.
“ Kalau seandainya, Mama Rafa menjadi milik Om Ilham, apakah boleh? ” tanya Ilham sambil mengusap puncak kepala Rafa.
“ Tidak boleh, Om, Mama itu milik Rafa dan Papa! ” Jawab Rafa dengan polosnya. Sambil masih menikmati snack dan minumanya.
Ilham hanya tersenyum. Sikap polosnya Rafa itu membuatnya semakin ingin mencubit pipinya saja.
“ Kalau seandainya Rafa jadi anak Om! Rafa mau tidak? ” kata Ilham lagi mengganti topik.
“ Mauuuuu Om! ” jawab Rafa setengah memekik, sambil meneguk minuman yang dibelikan Ilham.
Ilham tidak bisa menyembunyikan senyum bahagianya saat ini. Setelah itu, Keduanya beranjak dari sana. Ilham akan mengantarkan Rafa untuk pulang.
....
Setelah sampai, Rafa turun dan Ilham ikut turun setelahnya. Lalu Ia berkata pada Rafa kalau dirinya akan langsung pulang.
“ Om Ilham, tidak menunggu Mama terlebih dahulu? ” kata Rafa agak sedih karena akan ditinggal Ilham.
Ilham menjelaskan kalau dirinya mau pergi dan Rafa mengerti. Rafa juga mengucapkan rasa terima kasihnya karena telah diajak jalan-jalan dan dibelikan snack dan minuman lagi.
__ADS_1
“ Sebelum Om Ilham pergi, Om Ilham ingin dicium oleh Rafa! ” kata Ilham sambil berjongkok.
Dengan polosnya Rafa langsung mencium pipi Ilham. Tentu saja, Ilham bahagia sekali. Lalu melambaikan tangan kepada Rafa sebelum melajukan motornya. Ilham menjadi membayangkan, setelah dicium oleh anaknya, Ia berharap akan segera dicium oleh Mama-nya.