
Sikap yang sedang dilakukan oleh Mira bisa dikatakan menghindar. Ia sedang tidak ingin memikirkan atau menyinggung sesuatu yang berhubungan dengan Ilham. Mira mencoba untuk menyadarkan diri sendiri kalau Ilham bukan lah siapa-siapanya. Ilham bukan seseorang yang spesial di hatinya. Ilham hanyalah teman yang kebetulan ingin menghiburnya di saat hatinya sedang kosong. Lalu Ilham dapat membuatnya tertawa, bercanda dan tersenyum. Mira akan berusaha untuk bersikap biasa saja, seakan tidak terjadi apa-apa sekarang.
Saat Mira sudah bersiap diri hendak ke kantor, Rafa sudah bangun dan dia ingin sarapan ditemani oleh dirinya.
“ Ma, kata Om Ilham Rafa anaknya Om Ilham, loh! ” kata Rafa di sela-sela mengunyah makanan. Sambil membolak-balikan halaman buku ceritanya.
Ya, Tuhan bisakah sehari ini saja, aku tidak mendengar nama itu. Tolonglah, sehari saja jangan ada yang menyebut nama itu. Bahkan sekarang, anaku pun menyebut nama itu?! Gumam Mira.
“ Mama! Kok bengong, sih! ” ucap Rafa agak keras.
“ Kalau begitu, berarti Rafa punya Papa dua dong, Papa Ilham sama Papa Fahmi! ” ucap Rafa lagi dengan polosnya.
“ Senang, ya, diajak jalan-jalan sama Om Ilham kemarin? ” Mira akhirnya merespon ucapan Rafa.
“ Senang sekali, Ma! ”
Ilham memang terlihat masih kekanakan dan tentu saja masih labil dan keras kepala. Namun dibalik sikapnya itu, dia pandai sekali mengambil hati anak-anak. Sepertinya dia tipe seseorang yang sayang kepada anak kecil.
Ah! Aku kok jadi memikirkan hal itu.
…..
Angga berkali-kali terlihat menghubungi seseorang, namun sepertinya nomor yang dituju tidak kunjung menjawab dan hal ini membuat Angga berdecak sebal.
Kenapa Mira tidak menjawab teleponku? Pikir Angga.
Angga terpaksa meninggalkan Ilham karena dirinya akan berangkat kuliah. Sebenarnya, Ia tidak tega kalau harus meninggalkan Ilham dalam keadaan seperti ini. Namun mau bagimana lagi. Dia ada ulangan hari ini.
Sunyi dan sepi rasanya di kamar seorang diri. Suasana yang sepi menggambarkan suasana hatinya yang saat ini sudah rindu kepada seseorang. Padahal baru satu hari, namun seseorang itu sudah seperti menghilang dari muka bumi.
__ADS_1
Yang tadinya hanya sebagai rasa kagum kepada Mira kini berubah menjadi rasa kasihan, ingin menghibur wanita itu, dengan membuatnya agar bisa tersenyum dan tertawa. Setelah berhasil, Wanita itu malah membuat hatinya berdebar-debar, memenuhi seluruh benaknya dan di dalam hatinya. Saat ini hanya Mira yang sedang berkelana di benaknya.
Ilham tidak peduli lagi sekarang, Ia tidak peduli bahwa Mira adalah seorang Janda. Ilham telah jatuh hati kepada Mira. Saat Mira menghilang seperti ditelan bumi seperti sekarang ini, rasanya Ia merasa tidak tenang sekali.
Disisi lain Ilham juga mencemaskan kalau terjadi apa-apa dengan Mira. Bahkan, Ia tidak peduli dengan kondisinya sendiri.
Tiba-tiba terdengar suara deru motor di luar sana, tidak lama kemudian, berbondong-bondong anak cowok memasuki kontrakan dengan tidak sabaran. Ternyata yang datang adalah teman-teman Ilham dari kampus -mendapati mereka kini pikiran Ilham menjadi teralihkan untuk sesaat. Mereka langsung memberondong pertanyaan, berbincang-bincang heboh, akhirnya suasana sepi itu telah tergantikan oleh keributan mereka di kamar.
“ Ilham, bagimana keadaanmu? Sudah membaik? ” tanya seorang perempuan dengan hati-hati, wajahnya sungguh cemas sekali, menyembul begitu saja dari luar.
Ilham terdiam tak kunjung menjawab pertanyaan perempuan itu.
“ Biar kita kasih kesempatan mereka berdua untuk berbincang, sebaiknya kita keluar saja dulu, yuk! ” seru salah satu para cowok di situ dan mereka bergegas meninggalkan kamar. Kini, hanya ada dirinya dan Natasha di dalam kamar itu.
Natasha meraih duduk di samping Ilham dengan ragu, sedangkan Ilham masih bergeming, Ia malah memalingkan muka menganggap kalau tidak ada seseorang yang sedang duduk di situ.
“ Mau apa kau ke sini? ” Akhirnya Ilham mau berbicara setelah diam beberapa saat.
“ Kau tidak perlu mencemaskanku! ” sergah Ilham.
“ Cemaskan saja pacar barumu itu. ” Lanjutnya dengan ketus.
“ Kedatanganmu hanya akan membuat mood-ku berantakan. ” Tambahnya lagi.
Natasha menghela napas berat, tidak ada yang tahu arti dari helaan napasnya barusan. Hanya dia yang tahu.
“ Ijinkan aku merawatmu, Ham, kamu pergi dari rumah, kamu seorang diri di sini! ”
“ Kurasa tidak perlu kau melakukan itu. Maaf, sudah ada yang menggantikanmu. ” Timpal Ilham datar dan terkesan dingin.
__ADS_1
Natasha akhirnya bangkit dari duduknya dan pamit hendak pulang. Ilham hanya menanggapi dengan biasa saja, malah tidak menginginkan perempuan itu ada di hadapanya. Setelah Natasha keluar, teman-temanya kembali masuk ke dalam dan kembali berbincang-bincang.
….
“ Haruskah aku ke rumah Mira sekarang?! ” kata Ilham hendak bangkit dari kasur.
“ Apa kau sudah gila? Lukamu belum sepenuhnya sembuh! kau benar-benar tidak mempedulikan kondisimu. ” Gertak Angga. Karena apa yang dilakukn Ilham adalah hal yang bodoh. Dalam kondisinya seperti ini, tetapi mau nekad hanya untuk menemui Mira. Jatuh cinta memang sungguh membahayakan.
“ Aku sungguh ingin bertemu dengan Mira, Mira tidak ada kabar sama sekali! ” kata Ilham suaranya terdengar pasrah.
“ Aku sungguh merindukanya. Aku ingin melihatnya dan aku ingin dia ada di sini. ”
Ilham yang keras kepala ini juga memiliki sifat nekad. Kalau dia tidak nekad, mana mungkin pergi dari rumah sudah satu bulan lamanya.
Angga sudah berkali-kali menghubungi Mira, namun tetap saja Mira tidak bisa dihubungi. Dengan terpaksa, akhirnya Angga rela meluncur ke rumah Mira demi sahabatnya itu. Setelah sebelumnya Ilham memberitahu alamat rumahnya.
Sekitar 15 menit, Angga telah sampai. Setelah yakin kalau rumah itu adalah rumah Mira. Angga langsung memencet bel dan tidak lama kemudian pemilik rumah itu membukakan pintu. Sri menyembul dari balik pintu. Angga langsung mengutarakan maksud kedatanganya kalau ingin bertemu dengan Mira. Sri pun kembali ke dalam untuk memanggil Mira.
Tidak lama kemudian, Mira sudah berjalan ke depan. Awalnya, Mira bingung karena tidak mengenalnya Laki-laki yang ada di hadapanya itu. Setelah Angga memperkenalkan diri lagi, Mira langsung mengingatnya. Keduanya pun duduk di depan rumah, Angga langsung menyampaikan maksud kedatanganya ke sini.
“ Dia bodoh sekali, Mir, dia tidak peduli dengan keadaanya, dia nekad sekali ingin menemuimu. Tetapi aku mencegahnya. Kurasa, Ilham benar-benar mencintaimu, Mir, dia sangat tulus mencintaimu. Aku tidak pernah melihatnya seperti itu. ”
“ Saat ini, dia ingin sekali kamu ada di sampingnya. Hanya kau seorang yang dia butuhkan saat ini. ”
Mendengar itu, Mira menjadi bingung. Mendengar kalau Ilham mencintai dirinya semakin membuatnya gugup dan setengah tidak mempercayainya. Mendengar itu, ada sebuah kebahagian tersendiri yang Ia rasakan saat itu juga. Susah dijelaskan dengan kata-kata, hanya Mira seorang diri yang dapat merasakanya saat ini.
Angga ingin Mira ikut denganya, namun itu tidak mungkin. Jam sudah menunjukan pukul 21.00. Mira tidak mungkin meninggalkan Rafa.
Kurasa masih ada hari esok. Pikir Mira.
__ADS_1
Angga pulang dengan perasaan kecewa dan merasa bersalah kepada Ilham. Namun, Ia juga setuju dengan Mira.
Angin malam berhembus menerpa wajah Mira. Seakan angin malam tau kalau hati Mira saat ini sedang berbunga-bunga. Lalu, kembali mencemaskan keadaan Ilham.