Menikah Dengan Janda

Menikah Dengan Janda
Masalah Baru


__ADS_3

“ Apakah benar kalau ternyata calon istrinya CEO kita adalah seorang Janda dan akan menikah dalam waktu dekat ini. ”


“ Iya, benar, aku juga mendengar kalau ternyata calon istrinya Boss adalah seorang Janda. ”


“ Kok bisa Boss tertarik dengan seorang Janda?! Dia kan masih muda, tampan, kenapa tidak memilih menikah dengan gadis saja, sih! ”


“ Apa jangan-jangan Janda itu adalah sugar mommy ? ”


“ Wah! Kalau memang Janda itu suggar mommy, aku benar-benar tidak menyangka. ”


“ Tetapi, Boss, kan kaya, tidak mungkin mendapatkan keuntungan dari Janda itu! ”


“ Apa jangan-jangan Boss telah menghamili Janda itu? Sehingga mereka terpaksa menikah? ”


“ Kau sepertinya harus memeriksakan pikiranmu ke psikolog! Ngaco sekali kalau berbicara. ”


Para wanita itu saling sahut-sahutan, ber-argument tentang Boss mereka yang akan menikah dengan seorang Janda. Menggosip di pagi ini memang asyik sekali apalagi pikiran masih fresh sangat lancar kalau menyangkut masalah membicarakan orang lain.


“ Apa yang sedang kalian bicarakan, sepagi ini kalian sudah menggosip, apa tidak ada kerjaan lain! ” seru Yoga sambil menahan emosinya.


Para wanita itu kembali ke meja masing-masing dengan pura-pura langsung terpaku pada layar komputer dan berkas-berkas.


Yoga menghela napas sambil geleng-geleng kepala, dia berjalan menuju ruangan Ilham. Sesampainya di sana, dia langsung mengetuk pintu. Setelah seseorang menyahut dari dalam, Yoga pun masuk ke dalam ruangan itu.


Ilham sedang menopang pelipis, benar-benar geram sekali dengan cuitan di twitter yang membuat dirinya ingin menyumbal mulut para netizen itu.


“ Apakah Boss sedang memikirkan cuitan yang ramai sekali di media sosial? ” tanya Yoga dengan hati-hati sekali.


“ Sedikit, saya sedikit memikirkanya, tetapi tidak perlu saya meladeni mereka. ” Jawab Ilham sambil melempar tab-nya menjauh. Sambil mendongakan kepala memandang Yoga.


“ Sepertinya orang-orang di kantor ini sudah mengetahui kalau ternyata calon istri Boss adalah seorang Janda. ”


“ Memangnya kenapa! kalau calon istri saya seorang Janda? Apa masalahnya?! ” gertak Ilham kemudian.


“ Tida-tidak sama sekali Boss, tidak salah, hanya saja orang-orang yang salah, saya sudah urus masalah ini tadi. Boss jangan terlalu memikirkan masalah ini, biar saya yang mengurusnya. ” Jawab Yoga dengan suara bergetar.

__ADS_1


“ Ya, sebaiknya begitu, kau harus mengurusnya. ”


Ilham menarik tubuhnya dari sandaran kursi, lalu bermain-main dengan jari jemarinya.


Apakah Mira sudah mengetahui hal ini? Seperti apa respon Mira kalau mengetahui hal ini. Apa dia baik-baik saja sekarang ini? bagimana mungkin Mira baik-baik saja, dia pasti sedang tidak baik-baik saja.


.....


Kantor B-Media.


“ Mira, apakah kamu wanita yang dimaksud di cuitan twitter itu? ” kata Rendi setengah memekik sambil memperlihatkan layar smartphone.


“ Benarkah itu, Mira? ” sela Tari kemudian ikut berdiri setelahnya.


Lalu, dari balik pintu, Wanda menyembul dari balik pintu dan langsung berlari ke arah Mira. Wanda segera menarik tangan Mira dan membawanya keluar, keduanya menuruni tangga, buru-buru menuju pantry.


“ Mengapa jadi ramai diperbincangkan, sih, Mir! Ada masalah hidup apa sebenarnya dengan para netizen itu! ” Wanda sudah geram sekali. Keduanya saat ini sedang duduk di bangku pantry.


“ Inginku makan semua omongan netizen yang tidak ada akhlak sama sekali itu! ” Wanda meneruskan dengan geram.


Kata-kata makian, ketidaksukaan terhadap dirinya, mereka semua menjelekan dirinya.


Mira yang memutuskan untuk berhenti bekerja, tentunya karena paksaan dari Ilham. Dan Ilham yang mengurus semua ini. Dan hari ini adalah hari terakhirnya bekerja di kantor itu, Mira berharap akan menjadi lebih menyenangkan dan menjalin hubungan dengan para karyawan di kantor. Kecintaanya pada novel, cerpen, buku-buku harus Ia tinggalkan sekarang juga.


Masalah dengan Efendi yang sepertinya kembali menegang, kini Ia harus dihadapi oleh masalah baru lagi. Hingga, Mira tidak dapat menjelaskan seperti apa rasa sedihnya itu.


Wanda masih mengajak-ngacak rambutnya dengan frustasi, lalu lebih memilih membuat kopi untuk menenangkan stress.


Sahabatnya itu sudah bahagia sekali sepertinya setelah mendengar kalau Mira akan menikah namun disaat bahagia itu malah timbul masalah yang tidak mengenakan hati.


“ Sudah, Mira, kamu jangan bersedih, mereka yang memakimu itu karena iri denganmu, karena kamu akan menikah dengan seorang CEO, karena kamu akan menikah dengan Laki-laki setampan Ilham! ”


“ Apakah aku sanggup menjalani ini, Wan, banyak yang tidak suka kalau aku menikah dengan Ilham. ” Mira akhirnya berbicara setelah sedari tadi diam saja.


“ Kau sanggup, Mir! ” Wanda tidak peduli lagi. Ia tidak mau sampai Mira menjadi bersedih kembali.

__ADS_1


.....


Ilham sudah menelpon Mira berkali-kali tetapi Mira tidak mengangkatnya. Dia tidak mau mendengar apa yang terjadi selanjutnya. Saat ini, dia sedang menggeletakan kepala di atas meja di pantry kantor.


Dari arah pintu, Ilham langsung menyembul dari sana. Membuat Mira tersentak kaget dengan kedatanganya secara tiba-tiba ke kantor itu. Mira pun segera menarik kepalanya.


Ilham menghela napas berat, saking buru-burunya tadi sampai kehabisan napas, namun dia benar-benar lega saat mendapati Mira di situ. Setidaknya calon istrinya itu tidak sedang menangis. Keduanya diam sesaat lamanya, saling menatap. Ilham masih menormalkan deru napasnya sambil berkacak pinggang.


“ Kau sungguh membuatku cemas lagi, Mira, UNTUK KESEKIAN KALINYA. ”


Mira bangkit dari duduknya, tidak mau mendengar Ilham marah-marah sendiri, Ia lebih memilih merengkuh tubuh Ilham dan menaruh dagunya di bahu. Sedangkan tanganya melingkar memeluk tubuh Ilham.


.....


Ilham mengajak Mira ke suatu taman yang waktu itu keduanya kunjungi. Keduanya diam untuk beberapa saat di bangku taman. Keduanya sama-sama sedang memikirkan sesuatu yang tengah terjadi. Namun, mulut mereka bungkam, seakan mereka sudah saling tau bagimana perasaan mereka masing-masing.


“ Bersandarlah di bahuku, Mira. ” Kata Ilham memulai perbincangan. Pandanganya menatap lurus ke depan.


“ Baiklah, aku akan bersandar di bahumu lagi. ” Jawab Mira dengan suara parau.


Seketika itu, kepala Mira sudah mendarat tepat di bahu Ilham. Dia melakukan apa yang diperintahkan oleh Ilham barusan. Rasanya, sedikit tenang tidak memikirkan masalah yang sedang terjadi.


“ Apa kamu ingin menikah sekarang saja? ”


“ Kau memang sudah gila, ya, Ham?”


“ Kita sedang ada masalah, kau malah menambah masalah. ”


Keduanya kembali terdiam. Mira memejamkan mata mencoba merasakan bahu Ilham yang begitu nyaman. Sedangkan Ilham tidak berhenti memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya.


Ilham merasa lega karena Mira tidak menangis, entah apa yang akan dilakukanya kalau sampai Mira benar-benar menangis. Mungkin saja Ia akan nekad membawa Mira pergi jauh ke sebuah tempat yang aman -hanya ada mereka berdua saja. Tidak ketinggalan pula membawa Rafa, bagimana mungkin Ilham melupakan anak yang sangat lucu dan menggemaskan itu.


“ Apa kita bisa melewati ini? Apakah aku sanggup? ” kata Mira memecah keheningan.


“ Tentu saja kamu akan sanggup, kita akan sanggup melewati ini. ”

__ADS_1


“ Ah! Kamu jangan memikirkan itu Mira, nanti kepalamu akan bertambah pusing saja. ”


“ Lalu, bagimana denganmu? Kepalamu juga pasti pusing, kan? Memikirkan apa yang sedang terjadi dan yang akan terjadi selanjutnya? ” Mira sudah menarik kepalanya.


__ADS_2