Menikah Dengan Janda

Menikah Dengan Janda
Saran


__ADS_3

"Apa aku sudah gila sekarang, aku bahkan sedang memikirkan Ilham,''


''Tidak-tidak, ngapain aku memikirkan dia!" desis Natasha, dia langsung mengenyahkan pikiran tentang Ilham jauh-jauh di benaknya, lalu menyeret cup milk shake di depan dan meminumnya.


Sementara itu, para mahasiswa dan mahasiswi sedang hilir mudik, ada yang hendak masuk kelas, ada yang habis keluar kelas, ada yang sedang nongkrong-nongkrong santai di taman kampus, ada pula yang sedang makan di kantin.


Natasha sedang duduk seorang diri di pojok kantin dengan pikiran yang dia sendiri tidak mengerti mengapa bisa berfikiran demikian. Dulu Ilham selalu duduk di depanya dengan senyum merekahnya. Selalu menemaninya makan. Kini sudah berbulan-bulan Ilham sudah tak terlihat batang hidungnya di kampus. Ah, sampai tak menyangka seorang Ilham kini sudah menikah dan sudah menjadi seorang suami.


Tiba-tiba Angga mendaratkan tubuh di samping Natasha, membuat perempuan itu agak tersentak kaget, menoleh ke arah cowok yang sedang duduk di sampingnya. Natasha pun mendengus, menaruh cup milk shake dengan keras.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Angga sambil tersenyum. Sebuah senyuman yang patut diwaspadai.


Hubungan Natasha dan Angga menjadi tidak akrab seperti dulu, semenjak Ilham dan Natasha mengakhiri hubungan. Kalau mereka berdua bertemu, seakan sudah mau perang dunia saja.


"Bukan urusanmu!" Jawab Natasha tidak terlalu antusias, setelah diam beberapa saat.


"Sekarang urusanmu adalah urusanku, kalau kau sedang merencanakan kejahatan, aku akan menggagalkanya."


"Kenapa sekarang kau menjadi peduli padaku?'' Ucap Natasha menoleh pada laki-laki itu, dengan kening berkerut.


Natasha menghela napas, ''Sebaiknya kau tidak usah ikut campur dengan masalahku!" Lanjut Natasha sambil bangkit berdiri dari bangku, menyampirkan tas di bahu lalu berlalu pergi meninggalkan Angga.


"Sialan! aku ditinggal begitu saja, nih!" dengus Angga.


Angga pun berdecak. lalu pandanganya tak sengaja melirik sebuah cup milkshake yang sungguh menggoda tenggorokan. Seperti sengaja ditinggalkan oleh pemiliknya begitu saja.


Angga menelan ludahnya sendiri, memandang berkeliling, setelah tidak ada orang lain yang sedang memperhatikan ke arahnya. Angga pun langsung menarik milkshake itu dan meminumnya dengan sekali teguk.


..........


"Wan, aku takut jika tidak bisa memuaskan hasrat Ilham, kamu tau sendiri, kan? kalau aku adalah seorang Janda dan aku sudah tidak perawan lagi, aku takut jika Ilham menjadi tidak bergairah dalam bercinta." Jelas Mira.


Saat ini, Mira dan Wanda sedang duduk di belakang rumah Mira sambil memandang ikan-ikan yang sedang hilir mudik di dalam kolam. Setelah Ilham dan Rafa pergi, Mira menghubungi Wanda -menyuruhnya untuk datang ke rumah.

__ADS_1


"Mira, listen to me!" Balas Wanda setelah menarik napas dalam dan menghembuskanya dengan kasar.


"Menurutmu Ilham menikahimu karena apa?!"


"Karena bodimu masih semok? payudaramu masih oke?! Tidak Mira, Ilham mau menikah denganmu, karena dia mencintaimu!" Lanjut Wanda menekankan.


"Nikmati saja percintaanmu, kalau perlu kau yang harus agresif di atas ranjang, dengan begitu kalian akan saling melengkapi." Lanjut Wanda terkikik setelahnya.


Wajah Mira menjadi merah padam, jadi teringat dengan malam pertama dengan suaminya dulu. Bagimana dulu Ia merasakan bercinta begitu indah sekali walaupun awal-awal terasa sakit. Namun setelah melakukanya dengan sering, dirinya menjadi agak agresif di atas ranjang.


Wanda ini seperti sudah berpengalaman saja dengan masalah begituan. Tetapi sebenarnya dirinya belum pernah melakukan hal itu sama sekali. Bahkan dengan tunanganya sekali pun.


Wanda mengerti dengan keadaan psikis Mira yang belum bisa sepenuhnya bangkit dari lara hati. Ia mengerti dengan itu, maka Ia akan mencoba memahami Mira.


"Kau tidak usah mencemaskan soal itu, kecuali para wanita malam itu, yang sudah melakukan hubungan seperti itu beberapa kali, berganti-ganti dengan pasangan, sampai, kau tau sendiri, kan? mereka sudah lebar sekali! Seperti tidak ada hambatan sama sekali ketika memasukinya. Kalau itu sih sudah jelas!" Tutur Wanda memelankan suaranya.


Kedua rahang Wanda mendadak terkatup rapat, lalu berkata lagi. "Kenapa kamu tidak honey moon saja ke suatu tempat?"


..........


Honey moon?


Mengapa aku tidak berfikir sejauh itu?


Kalau Mira tetap ragu seperti itu mana mungkin dia bisa mengenyahkan malam-malam indah bersama mendiang suaminya dulu. Kalau Ia selalu begitu. Wah, jahat sekali dirinya.


Sekarang Mira sudah menjadi istrinya Ilham. Memang sepertinya dengan berbulan madu di suatu tempat, bisa memberikan moment bercinta yang tidak bisa dilupakan. Mira tidak akan lagi teringat dengan mendiang suaminya dulu.


Sekarang, jantungnya menjadi berdebar-debar. Tiba-tiba saja Ia merasakan rindu pada suaminya karena sampai sore ini, Ilham belum pulang.


..........


Asap rokok mengepul ke segala arah, sela jari tengahnya terselip sebatang rokok, tatapan pria itu sedang menatap lurus ke depan. Ilham sedang memikirkan kapan waktu itu datang, kapan junior-nya bisa masuk ke dalam lubang kenikmatan. Dia sudah tidak sabar lagi. Sekarang dia sudah jadi suami Mira, tetapi kenapa belum bisa juga?

__ADS_1


Dari kejauhan seseorang sedang berjalan ke arah Ilham, seulas senyum langsung tercetak di bibirnya. Pria itu adalah Bagas yang sedari tadi sudah ditunggungnya. Bagas adalah temanya sekomunitas motor.


"Apa kabar pengantin baru?" kata Bagas sambil mencekal bahu Ilham dan duduk di sebelahnya.


"Aku sangat kaget saat kau mengirimkan undangan, aku pikir kau bercanda soal itu, tapi ternyata, benar, ya, wah, selamat bro!" cerocos Bagas heboh sekali.


"Bagimana malam pertama? Sudah berkembang biak?" Lanjut Bagas tersenyum geli. Menarik tubuh dari sandaran kursi, menuatkan kesepuluh jarinya.


"Sudah berkembang biak banyak sekali, sepuluh ekor malahan!" dengus Ilham. Mukanya cemberut sekali. Seperti tidak ada kebahagiaan sama sekali di sana.


"Hei, ada apa kau ini, mengapa kesal begitu?!"


"Gagal total malam pertamaku," jawab Ilham dengan muka tanpa ekspresi.


Kedua rahang Bagas terkatup dengan rapat, mencari-cari sesuatu di wajah Ilham.


"Ceritakan kepadaku, mungkin saja aku bisa memberimu saran." Kata Bagas sembari meringis.


Ilham melirik Bagas dengan ekor mata, dilihatnya temanya itu masih meringis. Ilham lalu menarik napas dalam-dalam dan menghembuskanya dengan kasar.


"Istriku tidak mau melayaniku, sepertinya dia menggindar." Ucap Ilham setelah diam beberapa saat, kalimatnya terasa berat.


"Kau sih, begitu brutal, ya jelas lah istrimu takut sekali denganmu." Sela Bagas terkekeh puas sekali. Selalu bercanda.


Ilham hanya berdecak sambil menggeleng kepala.


"Ngomong-ngomong, istrimu Janda, ya?" Lanjut Bagas mulai serius tetapi masih ada sisa tawa.


"Asyik, ternyata seleramu Janda-Janda muda, ya, sukanya yang sudah berpengalaman."


"Ck, menyesal telah bercerita kepadamu." Ilham berdecak lagi.


Bagas kembali tertawa terpingkal karena berhasil menggoda pengantin baru yang sedang cemberut itu.

__ADS_1


__ADS_2