Menikah Dengan Janda

Menikah Dengan Janda
Rindu Yang Terobati


__ADS_3

Sementara itu, Kirana, Anton dan Raihan sedang makan malam bersama. Sesekali mereka bertiga berbincang -hanya perbincangan singkat-singkat saja. Raihan lebih memilih diam di meja makan itu.


Yang biasanya meja makan itu akan ramai jika ada Ilham ikut makan bersama mereka. Kejahilan Ilham kepada adiknya sungguh membuat kedua orang tuanya geleng-geleng kepala. Kini, meja makan itu terasa sangat sunyi sekali.


“ Papa, Mama, ” ucap Raihan tiba-tiba memecah keheningan. Memandang ke arah Mama dan Papanya secara bergantian.


“ Raihan kangen sekali dengan Kak Ilham. ” Lanjutnya dengan bibir bergetar. Raihan melorotkan bahunya, wajahnya menjadi ditekuk.


Anton dan Kirana saling tatap, diam kembali menyeruak di meja makan beberapa saat. Anton memalingkan muka dari istrinya. Enggan untuk membicarakan masalah anak sulungnya itu.


“ Raihan kangen sama Kak Ilham? ” tanya Kirana kembali.


Raihan hanya mengangguk. Wajahnya masih saja ditekuk.


“ Besok ikut Mama, ya, kita akan bertemu dengan Kak Ilham. ”


“ Sungguh, Ma? Besok, kita akan bertemu dengan Kak Ilham? ” Kini wajah Raihan berbinar.


“ Iya, Raihan. ” Jawab Kirana. “ Sekarang, Raihan kembali ke kamar, ya, Mama akan berbicara dengan Papamu sebentar. ”


Setelah menjawab, Raihan segera turun dari kursi dan bergegas menuju kamarnya. Senyum mengembang di bibirnya sepanjang berjalan menuju kamarnya. Setelah satu bulan, Raihan menunggu Kakaknya pulang dan besok, Ia akan segera bertemu dengan Kakaknya yang sangat dirindukan.


Sementara itu, Anton dan Kirana masih duduk di meja makan. Hening menyelimuti keduanya. Kirana memberanikan diri untuk menyinggung soal anak sulungnya.


“ Pa, apa sebaiknya kita menyuruh Ilham untuk pulang saja? ” kata Kirana memulai obrolan dengan hati-hati.


“ Aku sungguh khawatir sekali dengan keadaan Ilham, sudah satu bulan dia tidak pulang. Dia tidak memiliki uang sama sekali, Pa. Bagimana dia bertahan hidup di luar sana? ” Kini dada Kirana semakin sesak saja. Diam beberapa saat dan berkata lagi. “ Apa Papa tidak merasa kasihan denganya? Sudah satu bulan, Pa! Ilham pergi dari rumah! ” Suara Kirana terdengar panik, sedangkan Anton masih bergeming. Pandanganya lurus ke depan seakan tidak mempedulikan kalau istrinya sedang berbicara.


Anton tampak menghela napas berat setelah Kirana selesai bercerita, “ Biarkan saja, dia, Ma. ”

__ADS_1


“ Biar dia merasakan bagimana susahnya mencari uang, agar dia bisa menghargai Papa selama ini. ” Lanjutnya menatap lurus ke depan.


“ Papa terlalu mengekang Ilham, Ilham merasa tidak bebas, Pa, Papa tidak memberikan kesempatan untuknya bisa memilih. ” potong Kirana.


“ Papa melakukan ini, karena Papa mau Ilham hidup serba berkecukupan kelak di masa depan! Lalu, siapakah yang meneruskan bisnis Papa? Ilham harus bekerja di kantor.” Amarah Anton sudah mulai membuncah.


“ Berandal itu, sungguh membuat Papa muak sekali! ” Tambah Anton sudah emosi.


Memandang ke berbagai arah.


“ Papa tidak akan menyuruh dia pulang, kecuali dia yang pulang sendiri dan meminta maaf kepada, Papa! ” Amarah Anton kembali menyerbak di meja makan, Anton berdiri dan melangkah pergi untuk menenangkan diri.


Sedangkan Kirana masih diam di tempat duduknya, matanya menjadi berkaca-kaca. Dia tidak tau lagi harus berbicara kepada Papa dan Ilham yang sepertinya sama-sama keras kepala. Tidak mau mengerti satu satu sama lain.


....


Kirana dan Raihan sebelumnya sudah mengubungi Ilham, Kirana berdalih jika Raihan sangat merindukanya dan ingin bertemu denganya. Dengan terpaksa, Ilham akhirnya memberitahu alamat kontrakan Angga kepada Mamanya.


Setelah melepas pelukan dengan Mamanya, Ilham kini berganti beralih memandang anak kecil yang sudah Ia rindukan. Ilham berjongkok menatap Raihan yang saat ini terlihat senang sekali. Diacak-acaknya rambut Raihan sampai berantakan sekali, lalu memegangi kedua lenganya.


Perlahan, Raihan malah terlihat sedih, “ Raihan rindu sekali dengan Kakak, kenapa kakak tidak pulang? Katanya, kakak akan cepat pulang. ” kata Raihan dengan suara parau, sedih sekaligus bahagia bisa bertemu dengan Kakak satu-satunya.


“ Pasti Raihan kesepian karena tidak ada yang menganggu Raihan, ya, atau Raihan kesepian tidak diantar sekolah sama Kakak? ” goda Ilham pada adiknya.


Raihan masih bergeming. Wajahnya malah tertunduk.


“ Raihan menepati janjinya, kan? Kalau Raihan akan menjaga Mama dan Papa, selama Kakak tidak ada di rumah? ” tanya Ilham.


Raihan hanya mengangguk lalu menghambur memeluk tubuh Kakaknya. Adik yang biasanya sangat menyebalkan ini, ternyata sedih juga jika harus berpisah dengan Kakaknya.

__ADS_1


Angga menyembul dari dalam tiba-tiba, ketika melihat Kirana dan Raihan Angga langsung mencium punggung tangan Kirana dan Raihan mencium punggung tangan Angga.


Ilham memberitahu kepada Angga untuk mengajak Raihan bermain play station dulu di dalam. Sedangkan dirinya akan berbicara dengan Mamanya. Angga pun mengerti, langsung mengajak Raihan ke dalam kamarnya. Awalnya Raihan ingin tetap bersama Ilham, namun Ilham berkata kalau nanti dirinya akan menyusul. Akhirnya Raihan mau ikut dengan Angga.


“ Ilham, kau terlihat sangat kurus sekali. ” kata Kirana setelah hanya ada mereka berdua di ruang tamu.


Ilham berkata kepada Mamanya untuk jangan mengkhawatirkan dirinya. Dirinya baik-baik saja. Setelah berbincang cukup lama, Ilham membahas tentang pernikahan kepada Mamanya. Ilham ingin mengetahui bagaimana respon Mamanya.


“ Ma, kalau seandainya Ilham menikah sekarang. Bagimana menurut, Mama? ” kata Ilham dengan hati-hati, lalu cengengesan. Ilham ingin suasana tidak terlalu menegangkan.


Kirana membulatkan mata dengan sempurna, “ Kamu-kamu mau menikah? ” ucap Kirana terbata. Suaranya mendadak tercekat di tenggorokan.


Kirana menarik napas cukup panjang, hingga akhirnya menimpali. “ Ilham, kamu ini belum memiliki pekerjaan tetap, bagimana bisa kamu mau menikah! Lalu, istrimu mau dikasih makan, apa? ”


“ Dikasih makan cinta? Ketampanan kamu? Kamu ini ada-ada saja, lebih baik kamu ikut Mama pulang sekarang, meminta maaf kepada Papa dan kamu bisa melanjutkan bisnis Papa, lalu mempersiapkan masa depanmu. ”


“ Ilham tidak ingin pulang, Ma, Ilham belum menunjukan kepada Papa. ” sergah Ilham.


“ Tapi, Ilham! kamu sudah bertahan hidup selama satu bulan tanpa bantuan Papamu, kan? ”


Suasana kembali serius saat membahas masalah dengan Papanya. Ilham yang keras kepala, masih tidak ingin kembali ke rumah.


Kirana lalu mengganti topik, Ia tidak mau pertemuanya dengan Ilham hanya akan digunakan untuk berdebat. Ia tidak mau hal itu terjadi. Kirana sebenarnya masih heran mendengar Ilham tiba-tiba membahas soal menikah. Baginya, anak sulungnya itu masih sangat muda sekali. Jalanya masih panjang untuk bisa meraih masa depan, untuk bisa mengejar karir.


Kirana lalu bertanya kepada Ilham tentang hubunganya dengan Natasha. Kirana memang sudah mengetahui tentang hubungan keduanya. Apakah mungkin Ilham ingin menikah gara-gara Natasha? seperti itulah yang dipikirkan Kirana.


Ilham pun mengatakan yang sebenarnya kepada Mamanya bahwa Ia sudah putus dengan Natasha. Dan Natasha pula bukan sebab mengapa Ia ingin menikah.


Waktu bergulir dengan cepat. Setelah Ilham dan Raihan puas bermain play station. Kini, Kirana dan Raihan pamit hendak pulang. Raihan memaksa Ilham untuk ikut pulang bersamanya nyaris mau tinggal bersama Kakaknya karena Ilham menolaknya. Namun, setelah Ilham berjanji akan segera pulang, akhirnya Raihan mau ikut pulang bersama Mamanya.

__ADS_1


__ADS_2