
Mira tengah duduk di bangku panjang di warungnya Pak Ahmad. Wanita itu tengah menunggu sang sahabat yang sedang memesan makan siang.
Seketika itu, Mira kembali teringat dengan masa-masa dulu bekerja di kantor ini. Masa-masa itu pula, dirinya mengenal Ilham.
Kenangan-kenangan dulu seakan langsung membawanya terhempas pada kala itu.
“Hari ini, biar aku yang traktir makan siangmu!” kata Wanda sembari meletakan dua piring makan siang di atas meja. Lalu cewek itu duduk di kursi depan Mira.
“Tumben ntraktir, habis ngajian ya?” goda Mira sambil meraih sendok.
“Nanti aku ceritakan habis makan, okey?” balas Wanda dengan senyum tipis, entah kenapa kedua matanya mendadak berbinar-binar. Pasti ada sesuatu dibalik binar-binar yang saat ini kentara jelas itu.
Kedatangan Mira ke warung Pak Ahmad tak lain dan tak bukan karena ajakan Wanda, katanya sih sahabatnya itu mau menyampaikan sesuatu, kangen pula ingin bertemu, karena sudah agak lama keduanya tidak saling bertemu.
Tidak ada pembicaraan penting saat kedua nya melahap makan siang, sampai pada akhirnya Wanda menggeser piring ketika makan siangnya sudah selesai. Lalu bersiap-siap hendak mengatakan sesuatu, berdehem lebih dulu dan cengengesan sendiri sebelum berkata.
“Jadi, dalam waktu dekat ini, aku akan segera melangsungkan pernikahan!” pekik Wanda tertahan. Sambil menggulung bibir.
Tak ayal, Mira langsung membulatkan mata dengan sempurna, detik berikutnya kedua matanya langsung berbinar.
“Sungguh? Wah... selamat Wandaaa... akhirnya kamu menikah juga, aku sangat bahagia mendengarnya... ” Mira sampai tidak bisa berkata apa-apa. Dia merasakan kedua matanya malah memanas. Kedua matanya malah berkaca-kaca saking bahagianya.
Bagimana Wanda sangat berperan penting dalam hidupnya selama ini. Dia sangat bersyukur bisa memiliki sahabat sebaik Wanda. Bahkan dia sudah menganggap Wanda seperti saudara sendiri.
.....
Ilham kembali ke kamar saat sudah selesai membersihkan diri. Hari ini Ilham tidak pergi ke kantor. Dia ingin mengambil libur satu hari.
Kening Ilham berkerut saat mendapati istrinya masih mendekam di kasur. Belum beranjak dari kasur sedari tadi.
Tadi hanya ada sahutan lirih sewaktu dirinya ke kamar mandi. Ilham pun langsung menghempaskan tubuh ke kasur, mendekatkan wajah ke wajah istrinya yang masih terlelap -hanya merespon dengan kedua mata yang perlahan terbuka -lalu satu tangan Ilham terangkat, mengusap puncak kepala Mira.
“Sayang... ayo dongg bangunn! Tumben sekali kamu betah di ranjang!” ucap Ilham.
Ilham merasakan kening Mira panas saat tak sengaja telapak tanganya menempel di kening istrinya itu, seketika pria itu tersentak, Mira ternyata demam!
Pantesan tidak kunjung bangun! Pikir Ilham.
“Sayang... kamu demam?” pekik Ilham panik seketika.
__ADS_1
Mira menggeliat, “Sepertinya, sayang.” balas Mira dengan suara lirih.
“Kalau begitu, aku akan panggilkan dokter ke sini!”
Ilham sudah hendak meraih ponselnya, namun segera dicegah Mira. Katanya dirinya baik-baik saja, tidak perlu memanggil dokter segala.
“Aku masih kuat kok, aku akan segera bangun untuk membuatkan sarapan untukmu dan Rafa,” Mira hendak bangun namun langsung dicegah oleh Ilham.
“Biar aku saja yang membuatkan sarapan, kamu istirahat saja!” Tandas Ilham, lalu menarik selimut, menutupi tubuh istrinya.
“Beneran? Kamu mau membuatkan sarapan?”
Ilham hanya mengangkat alisnya tinggi-tinggi sebagai balasan. Lalu pria itu sudah beranjak dari kamar.
......
“Gimana keadaanmu? Aku panggilkan dokter saja ya!” Ujar Ilham sambil meraih tubuh Mira, saat Mira hendak duduk di kursi makan.
Mira habis bersih-bersih diri dari kamar mandi. Kepalanya sudah tidak senat-senut seperti tadi. Sudah agak mendingan juga, diam-diam Mira khawatir kalau Ilham berada di dapur.
“Tidak usah Papa Ilham, beneran, aku tidak apa-apa, hanya demam biasa. Nanti juga sembuh sendiri kok.” Balas Mira sambil ikut duduk bersama Ilham dan Rafa.
Bisa saja Ilham menyuruh Sri untuk membuatkan sarapan. Tapi laki-laki itu sepertinya mau memberikan surprise kepada sang istri.
“Mama yang sakit, tapi Mama enggak mau tuh dipanggilkan Dokter.” Balas Ilham beralih menatap Rafa.
“Benar apa kata Papa, Ma. Mending panggil Dokter aja!” seru Rafa setuju dengan perkataan Papanya.
“Enggak apa-apa kok sayang, cuman demam aja, nanti juga sembuh, Rafa enggak perlu khawatir ya.”
Bocah itu pun mengangguk. Kembali menikmati sarapanya sebelum berangkat sekolah.
Setelah sarapan selesai, keluarga kecil itu segera masuk ke dalam mobil, hendak mengantar anak mereka berangkat sekolah. Karena Ilham memgambil libur hari ini. Dia ingin memuaskan waktu bersama anak dan istrinya. Apalagi kondisi Mira yang hari ini tidak terlalu sehat. Ilham ingin menemani hari-harinya.
Mira ikut mengantar Rafa. Setelah mengantar Rafa ke sekolah lebih dulu. Ilham mengajak Mira ke sebuah mall. Siapa tahu istrinya itu akan langsung sembuh, jika sudah melihat lihat hal yang disukai para wanita.
“Sayang, ngapain kamu mengaja aku ke sini? Aku tidak ingin membeli apa-apa.” Mira langsung protes begitu keduanya hendak menaiki eskalator.
“Pulang saja yuk,” Mira segera menarik-narik baju Ilham.
__ADS_1
“Siapa bilang kita mau shopping, aku hanya ingin mengajakmu jalan-jalan ke sini, enggak mau beli apa-apa.” Balas Ilham kalem.
Tak pelak, Mira pun jadi salah tingkah sendiri.
Selalu saja begitu! Dengus Mira.
Dan benar saja, keduanya hanya jalan-jalan di sepanjang koridor mall, hanya sekadar melihat lihat barang-barang yang sungguh memanjakan mata, bisa saja Ilham memborong semua barang-barang itu untuk istrinya. Tapi sepertinya jelas saja Mira akan langsung menolak.
Entah kenapa ngobrol dengan suaminya seperti ini sembari berjalan berkeliling, melihat-lihat seisi mall. Mira jadi agak enakan!
.......
Rafa tengah bermain sendirian di belakang rumah dengan menggelar karpet. Sementara Ilham dan Mira duduk di kursi belakang rumah tak jauh dari Rafa. Tengah memperhatikan anaknya yang sepertinya menikmati sekali bermain sendirian dengan mainan yang banyak itu.
“Sepertinya Rafa butuh seorang adik untuk menemaninya bermain,” ucap Ilham memecah keheningan.
Tak pelak, kedua pipi Mira langsung merah merona. Dia sudah paham maksud suaminya itu.
Sesaat Mira gelagapan mau menjawab apa. “Kan bisa main sama kamu... Papanya malah disini, sudah sana... kamu temani Rafa aja bermain!” suruh Mira sambil menoyor lengan Ilham dengan pelan.
“Kalau aku temani Rafa, terus yang menemani kamu di sini, siapa?” goda Ilham, ada seringai tipis di bibirnya.
Mira pun mendesis seraya menggelengkan kepala.
Sri sedang sibuk di dapur, sementara suami istri itu sedang bermanjaan satu sama lain, kepala Ilham sedang bermanjaan di atas kedua paha Mira.
Sementara Mira bermain dengan rambutnya Ilham sembari sesekali memperhatikan Rafa yang masih asyik bermain sendiri.
“Makasih ya sayang, kamu udah mau hadir di kehidupanku, aku sangat bahagia sekali bisa memilikimu, kamu mau menerima aku dan Rafa,” ucap Mira mendadak emosional. Kini dia merasakan hidupnya sempurna dengan adanya Ilham di sisinya.
Tiba-tiba Rafa menghampiri mereka berdua nyaris berlari.
“Papa Ilham, ayok temani Rafa mainan ini!” rengek Rafa sembari menarik-narik tangan Ilham.
Ilham pun terpaksa menarik kepalanya dari kedua paha Mira.
“Nanti malam, jangan tidur dulu sayang.” Bisik Ilham tepat di telinga Mira. Sebelum bangkit dari duduknya.
Mira pun kembali melotot, namun detik berikutnya, senyum tipis langsung menghiasi bibir ranumnya.
__ADS_1
Kini, Mira memperhatikan suami dan anaknya dari kejauhan dengan perasaan amat bahagia.