
Masa-masa indah itu telah berakhir, masa-masa indah itu tidak bisa lagi diperpanjang. Namun masa-masa indah itu akan tetap berlangsung di mana saja dan kapan saja.
Ilham dan Mira tidak bisa tinggal di penginapan lebih lama lagi. Mereka harus mengakhiri bulan madu ini. Mau tak mau, mereka harus segera pulang. Kembali pada realitas kehidupan yang harus di urus.
Ada banyak hal yang menanti mereka setelah ini, tidak hanya tentang bulan madu melulu. Hari ini mereka berdua harus segera beranjak dari sana. Meninggalkan kenangan yang begitu membekas dalam ingatan. Semoga!
Ilham sebenarnya belum puas bermesraan dengan istrinya di sana. Tapi mau gimana lagi, resiko mencintai Janda itu ya seperti ini.
Tapi Ilham tidak menyesal, bagi Ilham, Mira adalah segalanya. Wanita yang akan menemani hari-harinya. Wanita yang sangat dicintainya.
Kelakukan Ilham yang dulu, yang masih bersenang-senang dengan kemewahan dunia, hidup bebas, tidak bisa terlepas begitu saja. Sifat kekanakanya masih tertangkap jelas dari balik mata Mira.
Tapi sekarang, kehidupanya sudah berubah total, seratus derajat. Sudah menjadi Papa Muda, sudah harus mencari nafkah untuk istri dan anaknya, mengurus perusahaan.
Jika kembali ke masa-masa dulu – bersenang-senang - pria itu sepertinya agak susah kalau harus menyesuaikan kembali. Sebagai seorang istri yang sudah kenyang makan asam garam, tak henti-hentinya Mira menasehati Ilham supaya kembali lagi ke jalan yang benar.
Ilham sudah tak khawatir lagi jika tidak memperpanjang masa-masa itu. Dirinya berhasil melakukan hubungan suami istri yang sempat tertunda. Dirinya dapat menjamah semua inci tubuh sang istri. Dirinya dapat memasukan pesawatnya dalam diri Mira. Seakan sudah terbayar semua kecemasan itu!
Dirinya berhasil membuat istrinya mampu melupakan kenangan yang dulu. Ilham berhasil membuat Istrinya dapat mengenyahkan rasa pedih dan trauma pada masa dulu. Malah sekarang, istrinya itu menjadi agresif saat berada di atas ranjang.
Tampaknya, Mira juga sudah melupakan kenangan dulu sepenuhnya. Benar apa kata Wanda, di tempat yang baru. Dia bisa menemukan cinta yang baru pula bersama Ilham.
Kini di dalam hatinya hanya ada laki-laki bernama Ilham. Laki-laki itu berhasil memenuhi seluruh benak dan hatinya.
Hubungan suami istri di atas ranjang jika dilakukan dengan sepenuh hati dan cinta, maka akan merasakan kenikmatan dunia yang sesungguhnya.
Tanpa adanya paksaan, ketakutan dan kecemasan. Setelah melewati hari-hari itu, Mira menjadi memikirkanya sepanjang masa, tak pernah enyah dalam pikiranya. Dirinya sudah lama tidak melakukan hal itu. Diam-diam merasa amat puas melakukanya dengan suaminya.
Mobil melaju dengan kecepatan agak kencang, mengantar kepulangan mereka berdua. Ilham dan Mira jadi sudah tak sabar ingin cepat-cepat sampai rumah.
__ADS_1
Mira dan Ilham sengaja singgah di rumah kedua orang tuanya Ilham lebih dulu, tidak langsung pulang ke rumah. Karena sekaligus akan menjemput Rafa.
Mira merengkuh tubuh Rafa begitu turun dari mobil. Bocah itu memangis sampai tersendu-sendu dalam pelukan. Mamanya tidak menepati janji!
Habis itu, giliran Ilham lah yang merengkuh tubuh anaknya dengan haru. Kangen mendekap tubuh bocah mungil itu. Keduanya sama-sama menahan rindu yang tak bisa tertahankan. Lepas semuanya detik itu juga.
Kirana dan Hadi sesekali menghibur Rafa agar tidak teringat dengan Mira ketika mereka berdua berbulan madu. Kalau pagi dan siang hari, Rafa terlihat baik-baik saja. Karena seharian Raihan menemaninya.
Tetapi jika Raihan berangkat sekolah, Rafa akan kembali sedih, kembali teringat dengan Mama dan Papanya.
Jika hendak tidur, Rafa terus menanyakan Mama dan Papanya. Membuat Hadi dan Kirana agak bingung dan pusing. Tetapi akhirnya Rafa dapat tertidur dengan sendirinya.
Seharian ini, Rafa tidak mau lepas dari Mama dan Papanya. Bergantian di atas pangkuan mereka. Takut kalau Mama dan Papanya akan kabur lagi.
Bahkan ketika mereka berdua hendak beranjak dari sana walau hanya sebentar, Rafa tetap tidak mau mengijinkan! dikiranya mau pergi lagi. Sehingga mereka hanya duduk berjam-jam di sofa. Sekalian mendaratkan lelah di sana.
Alhasil, Mira dan Ilham hanya menghabiskan waktu di ruang keluarga bersama Rafa dan Raihan. Ikut bermain bersama mereka. Kalau tidak mencuri curi waktu lengah, mana mungkin mereka bisa bergerak dari sana. Berkali-kali Mira dan Ilham harus meminta maaf kepada Rafa. Berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Ditambah diiming-imingi sesuatu yang membuat bocah itu kegirangan.
Mereka pun segera pulang ke rumah dengan diantar oleh Pak Usman. Sopir yang sudah menganggu kemesraan mereka berdua waktu di kamar mandi. Dan moment itu tidak terjadi. Sayang sekali!
Agak kesal sebenarnya, tapi mau bagimana lagi. Mereka pula, yang menyuruh Pak Usman untuk menjemputnya pagi hari. Tidak boleh siang apalagi malam.
Jadi bukan kesalahanya Pak Usman!
........
Sesampainya di rumah, keluarga kecil itu menghabiskan waktu bersama lagi di kamar, ruang tengah, ruang tamu, pindah-pindah menurut keinginan Rafa.
Bocah itu benar-benar ingin melepas kerinduan pada kedua orang tuanya. Baru ketika bocah itu sudah ngantuk, sampai tertidur di pangkuan Ilham. Helaan napas berhembus secara bersamaan dari mulut Ilham dan Mira.
__ADS_1
Mira langsung memindahkan Rafa di kamar. Mencium dengan penuh kasih sayang begitu bocah itu sudah berselimut. Jadi merasa tambah sayang dengan anaknya.
“Maafkan Mama sayang, Mama sudah meninggalkanmu kemarin-kemarin. Mama sangat sayang sama kamu, selamat malam, semoga kamu mimpi indah.” Mira bermonolog sendiri sembari mengusap puncak kepala Rafa.
Untuk kesekian kali, Mira mencium kening Rafa dengan lembut sebelum beranjak dari kamar Rafa.
Mira mendapati suaminya sudah mendengkur keras ketika dia mengecek ke kamar, hingga dengkuranya terdengar sampai ke luar. Tubuh Ilham sudah tergeletak di atas ranjang. Tampaknya benar-dia benar terlelap. Pasti sangat kelelahan!
Mira pun segera membentangkan selimut, menutupi tubuh Ilham sampai ke punggung. Lalu tersenyum sembari menutup pintu kamar.
Seperti biasa, Sri tengah sibuk dengan kegiatanya di dapur. Mira berjalan mendekat ke arahnya, mengambil air minum sebelum beranjak tidur.
“Saya kira Mbak Mira udah tidur,” ucap Sri sambil menggulum senyum.
“Belum Sri, Rafa dan Ilham tuh yang sudah tidur pulas sekali,” jawabnya dengan tawa kecil.
“Bagimana Mbak, apakah lancar bulan madunya?” tanya Sri malu-malu.
“Bagimana pula, rasanya?” lanjutnya meringis setelahnya.
Kontan saja, pipi Mira langsung bersemu merah.
“Lancar-lancar, tapi sebenarnya kami belum puas di sana,” Mira ketawa kecil.
“Makanya kamu cepetan nikah, biar tahu rasanya. Oke?” Mira mengedipkan sebelah matanya.
Keduanya lalu cengengesan bersama. Sembari menggelengkan kepala.
“Tau enggak Sri, sebenarnya malam pertama kita sempat tertunda, karena waktu itu aku belum siap. Aku merasa bodoh sekali sudah membuat Ilham kecewa.”
__ADS_1
Kontan kedua mata Sri langsung membulat dengan sempurna. Tampak shock mendengar kejujuran majikanya yang lolos begitu saja dari mulutnya.
“Jadi-jadi, Mbak Mira dan Pak Ilham, belum melakukan itu waktu malam pertama?”