Menikah Dengan Janda

Menikah Dengan Janda
Sedikit Keraguan


__ADS_3

Pesta pernikahan telah usai. Mertua dari mendiang suami Mira langsung ijin pulang karena ada urusan mendadak. Sedangkan, kedua orang tua Mira tidak langsung pulang. Kedua orang tua Mira dipaksa oleh Kirana dan Hadi untuk tidur di rumahnya saja.


Sedangkan Ilham dan Mira disuruh tidur di rumah Mira. Para orang tua itu sungguh pengertian sekali, sudah sangat paham dengan apa yang diinginkan oleh seseorang yang baru saja melangsungkan pernikahan ; hanya ingin berdua saja, tidak ada yang mengganggu. Awalnya Rafa ingin ikut, tapi akhirnya Rafa bisa ditangani oleh nenek dan kakeknya serta Raihan.


Kini, mobil yang disopiri oleh Pak Hatani melaju membelah jalanan malam menuju rumahnya Mira. Kedua pengantin baru itu sedang merasakan kebahagiaan yang tiada tara.


Tidak ada 20 menit, mereka telah sampai. Keduanya pun langsung turun dari mobil. Pak Hatani membantu Ilham dan Mira memasukan beberapa barang-barang ke dalam rumah. Setelah itu, Pak Hatani langsung pulang.


Mira dan Ilham masuk ke dalam rumah dengan bergandengan tangan.


Sri sedang pulang ke rumahnya. Karena tentu saja tidak ingin merusak malam-malam indah majikanya itu. Malam yang indah. Bahkan kalau boleh jujur malam ini adalah malam terindah bagi keduanya. Karena malam ini adalah malam pertama bagi Ilham dan Mira sebagai pasangan suami istri.


Kini, Mira sudah sah menjadi istrinya Ilham. Perjaka mendapatkan cinta dari Janda, begitu pula sebaliknya.


Malam ini pula adalah malam yang menghantui Mira karena mungkin saja Ia akan melakukan malam pertama dengan suaminya. Tiba-tiba saja jantung Mira menjadi berdebar-debar.


Baru saja, Mira memikirkan malam pertama dengan duduk di meja rias. Ilham sudah muncul dari balik pintu kamar. Mira tersentak kaget lalu segera bangkit dari meja rias.


Ilham tersenyum menggoda. Ya, sekarang dia adalah suaminya. Dia berhak untuk tersenyum seperti itu. Mira seharusnya tidak usah takut dengan Ilham karena dia tidak akan memperkosa dirinya. Kalaupun Ilham memperkosa dirinya toh mereka sudah menjadi suami istri, tidak ada hal yang harus ditakutkan lagi bukan?


Ilham masih mengenakan jas pengantin, namun segera melepasnya dan hanya mengenakan kemeja putih. Tiga kancing teratas kemejanya langsung dibiarkan terbuka.


Otot-otot tanganya sudah mulai terlihat, otot leher juga sudah mulai menegang, napasnya tampak menderu. Mira menatap Ilham dengan pasrah. Dia tidak bisa mengelak lagi atau bisa mengindar.


Mira berjalan mendekat dan menaruh kedua tanganya di bahu sang suami. Membuat dada bidang Ilham naik turun karena sentuhan tangan Mira.


Lalu Kedua tangan Ilham juga melingkar di tubuh Mira. Kedua tanganya mendarat tepat di pinggangnya. Kini, tubuh Mira terkunci tidak bisa menghindar kemana-mana. Canggung masih melanda dirinya.


Ilham membusungkan kepala dan mendekatkan kepala untuk mencium parfum Mira yang membuatnya tergoda. Aroma badan Mira kini seperti menguar dan menusuk hidung Ilham. Membuatnya sudah tidak tahan lagi.

__ADS_1


“Kulitmu sangat lembut dan wangi, sayang!” Lirih Ilham sudah terangsang.


Ayo, Mira, pasti kamu bisa memanggil Ilham dengan panggilan sayang.


“ Terima kasih, ” namun hanya itu yang mampu keluar dari mulut Mira.


Ilham lalu mendaratkan ciuman di dahi Mira membuat sekujur tubuhnya bergetar hebat.


Ilham sudah tidak tahan lagi untuk menahan hasrat dalam dirinya. Ia tidak peduli dengan badan yang sudah lengket, Ia sudah tidak kuat lagi menahan nafsu karena melihat lekuk tubuh istrinya itu.


Perlahan, Ilham meraih bibir yang lembab itu. Bersamaan dengan itu, kedua tanganya mulai meremas bagian belakang tubuh Mira.


“Sayang, ” Akhirnya Mira memanggil sebutan itu kepada Ilham.


“Kamu kan capek sekali, kamu juga belum mandi dan aku akan bersiap-siap membersihkan tubuhku terlebih dahulu.”


“Aku akan membersihkan tubuhku terlebih dahulu, agar kau bisa lebih menikmatinya, ya! ”


“Tahan dulu, jangan terburu-buru,”


Mira mendorong dada Ilham yang terbuka. Telapak tanganya menyentuh dada bidangnya, lalu seketika itu tubuhnya terasa seperti tersengat sesuatu.


Ilham tersenyum tipis. Baiklah dia akan menunggu istrinya yang katanya mau membersihkan tubuhnya lebih dulu. Pasti kalau dia sudah kembali, akan membuatnya semakin tidak bisa mengontrol dirinya.


“Baik, tetapi jangan terlalu lama, ya, aku sudah tidak tahan lagi, sayang.” Jawab Ilham kembali mendaratkan ciuman lalu melepaskanya.


Mira membalas ciuman sesaat, lalu segera keluar dari kamar dan berjalan menuju ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi, Mira segera mencuci mukanya karena terasa panas sekali.


Apakah aku siap untuk melakukan malam pertama dengan Ilham?

__ADS_1


Mira merasa belum siap dengan itu. Ia takut kalau tidak bisa memuaskan hasrat Ilham. Seharusnya Ia tidak perlu mencemaskan hal itu memang. Namun secara kontan, terpikir dengan sendirinya.


Mira adalah seorang Janda. Yang pasti sudah tidak perawan lagi. Sudah dipastikan itu. Suaminya yang lebih dulu merenggut keperawananya. Seluruh tubuhnya sudah terjamah oleh mendiang suaminya.


Mira takut kalau tidak bisa membuat Ilham merasakan malam pertama yang indah yang dia harapkan. Lalu apakah Ilham bahagia berhubungan intim, dengan seseorang yang sudah tidak perawan lagi? Ia takut akan hal itu, Ia takut, Ilham akan kehilangan gairah pada malam pertamanya.


Mira mencoba mengempas pikiran itu. Ia segera menggosok gigi, membersihkan area depan dan belakang sampai benar-benar bersih. Setelah itu, Ia menyemprotkan parfum.


Setelah keluar dari kamar mandi, Mira memilih menuju ke dapur untuk membuatkan teh hangat. Karena pasti Ilham sungguh capek sekali. Harapanya Ilham akan langsung tidur dan menunda malam pertama. Walaupun sebenarnya Mira menginginkan itu.


“Kamu pasti capek sekali, ya, aku buatkan teh untukmu, nih!” Kata Mira sambil melangkah masuk kamar dan menaruh teh di atas nakas.


Saat ini Ilham sudah melepas kemeja putihnya, badan yang kekar sudah terlihat dan angin malam bebas membelainya. Namun mungkin setelah ini istrinya lah yang harus membelainya.


“Aku tidak mau meminum teh itu, aku hanya ingin tubuhmu saat ini, sayang.” Ucap Ilham tersenyum menggoda.


Seketika itu, gelas yang ada di tangan Mira mendadak jatuh. Ilham pun langsung melompat dari ranjang dengan cepat.


“Kamu baik-baik saja? Kamu ada yang luka?” Ilham panik sendiri, sambil mengecek tangan Mira. Berlebihan memang, namun Ilham sungguh khawatir sekali karena cangkir tiba-tiba pecah dan pecahan ada di lantai saat ini.


Tentu saja aku memikirkan ucapanmu yang semakin membuat jantungku berdebar suamiku. Kenapa kamu bisa teringat dengan itu lagi.


Namun yang dipikirkan Mira berbeda, kata-kata Ilham barusan sungguh membuatnya terbungkam.


“Mengapa kamu diam saja? Kamu tidak apa-apa, kan?” Lanjut Ilham masih panik.


“Ah, tidak apa-apa, aku akan membutkan teh untukmu lagi. Aku akan membersihkan ini dulu. ” Mira hendak berjongok hendak membersihkan pecahan cangkir yang berserakan di lantai.


Namun lenganya segera ditahan oleh Ilham.

__ADS_1


__ADS_2