Menikah Dengan Janda

Menikah Dengan Janda
Kemarahan Efendi


__ADS_3

Mira sedang tidak ingin melihat wajah Efendi hari ini sebenarnya. Bertemu Efendi hanya akan menghancurkan mood-nya saja di pagi ini. Namun, Ia harus kembali bekerja. Dan pasti nanti di kantor akan bertemu denganya.


Mira memberanikan diri untuk melangkah masuk ke kantor dengan setenang mungkin. Orang-orang kantor jangan sampai tau dengan apa yang terjadi di antara dirinya dan Boss mereka.


Baru saja Mira mendaratkan tubuh di kursi, Wanda sudah menghampirinya dengan buru-buru sekali.


“ Mir, ada rapat mendadak dengan Pak Efendi sekarang juga. ” Kata Wanda sambil menarik tangan Mira dengan paksa.


Mira belum sempat bernapas dengan tenang di kursinya dan sekarang Ia harus kembali bergegas seperti ini menuju ruang rapat. Mau bagimana lagi? Ia terpaksa menurut saja, kemana Wanda akan mengajaknya.


Di dalam ruangan yang tidak terlalu luas, Efendi sudah duduk di kursinya dengan tatapan tajam dan tangan terkepal. Tatapanya mengarah tajam ke setiap karyawan yang sudah duduk melingkar di hadapanya.


Wanda dan Mira yang baru saja masuk, segera duduk di bangku yang kosong sambil menormalkan napasnya yang tidak menentu di tempat duduk.


“ Apakah sudah berkumpul semua? Kalau sudah berkumpul semua, saya akan segera memulai rapat ini. ” kata Efendi tiba-tiba memecah suasana menegangkan di ruangan itu sambil berdiri dan berjalan ke tengah-tengah.


“ Apakah kalian tahu, mengapa saya mengadakan rapat mendadak seperti ini? ” tanya Efendi kepada karyawanya, semuanya menunduk, tidak ada yang berani menatap ke arah Efendi yang sedang tidak bersahabat itu.


“ Saya tidak habis pikir, mengapa akhir-akhir ini editor tidak bisa bekerja dengan baik. ” Lanjut Efendi, kedua tanganya menyilang di depan dada.


Seketika itu, Mira tersentak kaget mendengar apa yang baru saja Boss-nya katakan. Beberapa pasang mata juga langsung memperhatikan Mira. Wanda yang paling cemas akan hal ini.


“ Apakah naskah yang kalian pilih itu, benar-benar dapat mendongkrak pasar? Saya rasa, kalian memilih naskah itu terlalu simpel. ”


“ Cerita ini sangat klise sekali, bukan begitu? ” Lanjut Efendi sambil memperlihatkan naskah yang dimaksud dirinya. Tertera di layar LCD.


“ Maaf, Pak, saya sudah benar-benar mempertimbangkan apakah naskah itu lolos atau tidak, menurut saya, cerita itu tidak klise. Ada unsur baru yang terdapat di dalamnya. ” Mira bersikap dengan tenang. Setelah Efendi selesai berbicara dan Mira merasa kalau rapat ini ditunjukan kepada dirinya yang memilih naskah dengan asal.


“ Saya setuju dengan Mbak Mira, Pak, menurut saya, naskah tersebut mengandung sebuah nilai baru dan inovasi baru. Bukankah begitu? ” Rendi berpendapat sama seperti Mira. Rendi adalah salah satu editor yang bekerja bersama Mira.

__ADS_1


Setelah berdebat cukup lama dengan para karyawan. Serta beberapa karyawan di ruang rapat itu mengemukakan pendapatnya. Sebagian banyak yang mendukung Mira. Sebagian lagi mendukung Efendi.


Namun, Efendi tidak hanya menyinggung masalah naskah dan pekerjaan. Dia juga menyinggung masalah lain yang semakin menyudutkan Mira. Tampaknya rapat kali ini, Efendi ingin memberi Mira pelajaran karena cintanya telah ditolak oleh Mira.


Efendi masih tidak terima. Bahwa seorang Janda seperti Mira berani menolak cintanya. Sehingga Ia membuat Mira seolah-olah terus bersalah.


....


“ Ada apa sebenarnya dengan Pak Efendi, kenapa dia seperti menyudutkanmu, Mir! ” kata Wanda. Wanda langsung menuju ruang kerja Mira sehabis rapat selesai. Wanda ingin membicarakan tentang rapat yang tidak seperti biasanya itu.


“ Aku juga tidak tau kenapa, Wan. Pak Efendi sepertinya sangat tidak berpihak kepadaku hari ini. ” jawab Mira, bersamaan dengan itu terdengar helaan napas berat setelahnya.


“ Wan, ada yang aku ingin bicarakan kepadamu. Tapi waktu istirahat saja, ya! ” Lanjut Mira kemudian.


“ Memangnya kenapa kalau sekarang? ” Wanda menautkan kedua alisnya.


“ Kita kan hendak bekerja, bagimana sih! ” balas Mira. “ Memangnya kamu mau, mendapatkan semprot dari Pak Efendi? ” Mira meneruskan.


Wanda langsung berlalu pergi dari ruang kerja Mira. Sedangkan Mira segera menghidupkan layar komputer dan bersiap bekerja.


.....


Saat ini, Wanda dan Mira sedang makan siang di warung Pak Ahmad. Keduanya berbincang di sela-sela memasukan nasi ke dalam mulut.


“ Sebenarnya, Pak Efendi sudah menyatakan cinta kepadaku dan mau menikah denganku. ” Jawab Mira dengan hati-hati berusaha memelankan suaranya. Agar tidak terdengar oleh beberapa orang yang sedang makan di situ.


Mata Wanda membulat dengan sempurna, “ Apa?? ” balas Wanda suaranya memekik keras nyaris terdengar oleh semua orang yang sedang makan di situ.


Mira segera melihat sekeliling sambil mengangguk sopan. Meminta maaf atas pekikan Wanda barusan.

__ADS_1


“ Sudah kubilang, jangan keras-keras, Wanda! ” Mira mengingatkan untuk kedua kalinya. Sembari menggeleng kepala.


“ Maafkan aku, ” katanya sambil cengengesan. “ Lalu? Kamu sudah menerima Pak Efendi, kan? Terus kalian sudah merencanakan hendak menikah kapan? ” Wanda memberondong pertanyaan pada Mira.


“ Bagimana kalau tanggal pernikahanmu dan pernikahanku di jadikan satu hari saja. Pasti akan seru sekali, Mir. Orang-orang kantor jadi sekalian mengunjungi resepsi pernikahan kita! ” seru Wanda dengan riang sekali. Wajahnya berbinar. Wanda memang sudah bertunangan. Wanda dan Calon suaminya itu saat ini sedang mempersiapakan pernikahan.


“ Aku sudah tidak sabar memberitahu kepada orang-orang kantor. ” tambah Wanda semakin menjadi-jadi. Pandanganya menerawang jauh. Di lain sisi, Wanda senang sekali karena berhasil membuat Mira mau membuka hati lagi. Sekarang, Ia sudah tidak khawatir lagi. Mira tidak akan bersedih terus.


“ Wanda! Aku belum selesai bercerita! ” potong Mira sebal.


“ Ada apa lagi? ”


“ Aku menolak Pak Efendi. ” Lanjut Mira sebisa mungkin memelankan suaranya.


“ Apa kamu sudah gila? Kamu menolak seorang, Boss? kamu menolak seorangEfendi? Serius? ” Wanda tidak bisa menyembunyikan rasa kagetnya setelah mendengar perkataan Mira barusan.


Mira menghela berat, pasti respon Wanda akan seperti itu.


“ Aku sudah memutuskan matang-matang, Wan. Aku sudah memikirkan semuanya. Mungkin, memang Efendi bukan jodohku. ” Kata Mira sembari mendesah pelan.


“ Apa yang kamu bicarakan, Mira. Kamu harus menceritakan semuanya padaku nanti. ” Balas Wanda. “ Aku sudah senang sekali Mira, mendengar kamu akan menikah dengan Efendi. Tetapi, semuanya gagal lagi. ” Kini raut wajah Wanda berubah menjadi sendu.


Tiba-tiba Wanda terlonjak, Ia baru ingat dengan rapat tadi pagi. Apakah mungkin kemarahan Boss-nya ada kaitan dengan penolakan Mira?


“ Apa mungkin, kemarahan Pak Efendi tadi pagi, ada hubunganya denganmu? ” tanya Wanda tanpa ragu-ragu.


“ Kurasa begitu, Wan! ” jawab Mira pasrah.


Wanda sungguh penasaran sekali tentang Mira yang bisa menolak seorang Efendi. Ia memutuskan untuk menunggu Mira bercerita kepada dirinya waktu pulang nanti.

__ADS_1


Sedangkan Mira memilih tidak menceritakan kepada Wanda kalau Efendi telah mencium dirinya dengan paksa.


__ADS_2