Menikah Dengan Janda

Menikah Dengan Janda
Akhirnya Menengok Ilham


__ADS_3

Pagi ini rasanya seperti hari yang sungguh berbeda dari hari biasanya. Semburat sinar pagi menembus jendela, hati seorang Janda saat ini sedang berbunga-bunga, senyum tipis mengembang di bibirnya.


Kotak makan berisi bubur ayam telah siap, sedangkan Mira juga telah siap dengan balutan blazer. Make up yang tidak terlalu mencolok menghiasi wajahnya. Menambah kesan natural di wajahnya.


Dari luar terdengar bel rumah yang memekakan telinga. Mira bergegas menuju ke depan. Angga dengan senyum mengembang sudah berdiri di depan rumah. Dia hendak menjemput dirinya.


“ Kau tidak perlu repot-repot untuk menjemputku. Aku pasti akan ke segera ke sana. ”


“ Calon suamimu itu yang menyuruhku untuk menjemputmu. ” Balas Angga sambil terkekeh.


Calon suamiku? Tidak Ilham, tidak Angga, sama saja!


…..


Mira menarik napas panjang sebelum masuk ke dalam kamar. Lalu, detak jantung berubah menjadi cepat, gugup melandanya saat ini.


Mengapa aku harus deg-deg an seperti ini? Aku kan hanya ingin menengok Ilham saja.


Mira melangkahkan kaki dengan berat ke dalam, kini Ia dapat melihat laki-laki yang sedang tergeletak di kasur. Di pelipisnya ada perban, lalu di lenganya dan tepalak tanganya. Kini, Mira dan Ilham saling menatap satu sama lain untuk beberapa saat dari kejauhan. Hingga Angga memutuskan untuk keluar kamar saja karena tidak mau mengganggu Janda dan Perjaka yang sedang di rundung asmara itu.


Mira dengan ragu menjatuhkan tubuh di kasur, suasana hening sesaat lamanya.


“ Bagimana kedaanmu? ” tanya Mira gugup. Memandang ke arah Ilham sesaat, lalu pandanganya menunduk.


“ Kenapa kamu tidak membalas pesanku? ” sambar Ilham cepat.


“ Kenapa kamu tidak menerima panggilanku? ” Lanjutnya lagi tanpa jeda.


“ Kenapa kamu menghilang, Mira? ” Tambahnya sambil menghela napas. Wajah Ilham kini terlihat datar dan dingin. Seperti orang yang hendak marah.


“ Ilham, bagimana keadaanmu, apa kamu sudah membaik? ” tanya Mira sekali lagi. Kali ini sudah agak tenang, canggung sudah tidak melanda dirinya.


“ Tentu saja, aku tidak baik-baik saja karena kamu menghilang. ” Jawab Ilham.


“ Mira, aku mencemaskanmu, aku takut terjadi apa-apa denganmu. Jangan menghilang seperti kemarin! ” kini suara Ilham semakin melemah. Menatap lekat ke arah Mira.


“ Kamu seharusnya tidak mencemasnku, seharusnya aku lah yang mencemaskanmu. Lihat kondisimu seperti ini! ” Balas Mira sambil menunduk. Membuat senyum tipis menghiasi bibir Ilham.


“ Kamu sebaiknya sarapan saja, biar aku menyiapkan bubur untukmu sekarang. ” Lanjutnya sudah berdiri mendekat ke arah meja kecil.

__ADS_1


Ilham pasti marah karena aku menghindar darinya. Pikir Mira.


Mira segera menyiapkan bubur yang dibawanya dari rumah. Bubur yang dibuatnya sendiri dengan rasa senang dan gugup. Semoga Ilham dapat menikmati bubur buatanya dan semoga saja Ilham dapat memaafkanya.


Mira berkata pada Ilham kalau Ia membutuhkan nampan. Ilham pun menjawab kalau nampan ada di dapur. Ilham menyuruh Mira untuk mencarinya sendiri di sana. Mira pun segera melangkah ke dapur untuk mengambil nampan.


Setelah Mira sudah pergi, Ilham meraih ponsel Mira yang ada di atas meja. Ia bermaksud ingin menyembunyikanya.


Maafkan aku Mira, aku melakukan ini padamu. Ini hukuman bagimu, karena kamu sudah membuatku cemas dan sudah menghilang seenaknya sendiri. Gumam Ilham sambil tersenyum tipis.


Selang beberapa saat, Mira sudah kembali dengan membawa nampan dan mangkok. Lalu, Mira menyiapkan bubur ayam dan membawa bubur ayam dengan nampan -mendaratkan tubuh kembali di kasur.


Apakah aku harus menyuapi, Ilham? Sepertinya telapak tanganya sudah sembuh. Jadi, aku tidak perlu menyuapinya. Pikir Mira.


“ Buburnya sudah jadi, nih! Kamu sebaiknya segera makan. ” kata Mira sambil menyodorkan nampan.


“ Sepertinya telapak tanganku masih sakit, ” jawab Ilham sambil nyengir.


“ Kamu harus melatih tanganmu untuk memegang benda, agar otot-otot tanganmu melemas. Sekarang coba saja kamu makan sendiri. ” suruh Mira.


Mira, kamu kenapa tidak peka sekali, sih!


“ Aku tidak mau, ” jawab Mira cepat.


“ Kamu pasti merasa gugup, ya, ” goda Ilham kemudian.


“ Tidak! ” bantah Mira. Namun, rona pipinya terlihat memerah saat itu juga.


“ Kalau tidak gugup, mengapa kamu tidak mau menyuapiku?! ”


“ Baiklah! ” balas Mira sambil mendesah, mengambil bubur menggunakan sendok dan menyuapkanya ke dalam mulut Ilham.


Setelah beberapa suapan, kini bubur di dalam mangkok sudah habis. Mira segera menaruh nampan di atas meja.


“ Aku ingin meminta tolong kepadamu! ” kata Ilham setelah selesai makan bubur.


“ Apa? ” tanya Mira penasaran.


“ Bisakah kau melepaskan baju untuku? ”

__ADS_1


“ Apa? ‘’ pekik Mira. ‘’ Apa kamu sudah gila?! ” Mira meneruskan, Ia kaget bukan main.


“ Aku tidak gila, ini serius! Lukaku ini harus ditaburi dengan obat biar cepat kering, kalau kamu tidak percaya, kamu bisa bertanya kepada Angga, Angga yang membukakan baju untuku dan menaburkanya. ” Jelas Ilham.


“ Memangnya kamu tidak ingin melakukan itu kepadaku? ” goda Ilham kembali.


Pipi Mira mendadak panas.


“ Suruh saja sana kepada gadis lain untuk membukakan baju! ” jawab Mira agak tergagap.


“ Memangnya, kamu tidak cemburu? ”


Mira menghela napas, Ilham masih sakit. Tetapi sikapnya itu masih sama saja, tetap saja menggoda seperti biasanya.


“ Mira, tolong lepaskan bajuku, ya, ” lirih Ilham dengan memohon.


Mira menimpali mengapa tidak Angga saja yang melepaskan bajunya. Ilham menjawab kalau Angga sudah berangkat kuliah. Tidak ada orang lain di rumah itu, hanya ada dirinya. Jadi, mau tidak mau Ia harus menuruti apa yang diperintahkan oleh Ilham.


Setelah menarik napas panjang, Mira akhirnya dengan jemari yang bergetar menjulurkan tangan ke kancing atas baju Ilham. Bersamaan dengan itu Ia memejamkan mata. Hal ini tentu saja bodoh, bagimana Ia bisa melihat, kalau Ia memejamkan mata.


Ilham hanya tersenyum. Menggoda Mira memang sungguh menyenangkan sekali. Kini, semua kancing sudah terlepas. Lalu, Mira dengan tangan yang bergetar lagi, mencoba membantu untuk melepas baju dari tubuh Ilham. Kini, Ilham tanpa baju. Dada dan perut sispack-nya terlihat dengan jelas.


“ Kenapa kamu menatapku seperti itu, ” kata Ilham mengagetkan lamunan Mira.


“ Kamu tidak harus menatap tubuhku seperti itu, sebentar lagi, tubuhku ini akan menjadi milikmu! ”


“ Berhentilah menggodaku, Ilham! ” decak Mira sebal. “ Kamu sedang sakit! ”


Mira segera meraih obat tabur yang ada di atas meja, lalu dengan canggung menaburi ke bagian permukaan yang luka. Lukanya belum sepenuhnya kering.


Ketika Mira habis menaburkan obat, Ilham meraih tangan Mira, karena Mira tidak seimbang, badanya terhuyung jatuh di dada Ilham. Kedua tanganya langsung menopang pada bahu Ilham.


Keduanya saling tatap satu sama lain sesaat lamanya. Jantung keduanya sama-sama berdetak lebih cepat.


Wajah keduanya kini dekat sekali nyaris bersentuhan. Bahu Ilham kini terasa hangat sampai menjalar ke tubuhnya. Hingga Mira tidak sadar kalau mengenai lenganya yang luka. Ilham langsung meringis.


“ Maafkan aku, aku tidak sengaja, ” kata Mira sambil cepat-cepat menarik tubuhnya, membawa helai rambut ke belakang telinga.


“ Apakah terasa sakit? ” tanya Mira panik.

__ADS_1


“ Tidak, Mira, tidak sakit sama sekali. Yang sedang bermasalah adalah, kenapa hatiku menjadi berdebar-debar? ‘’


__ADS_2