
Ilham dan Mira turun dari mobil secara bergantian. Setelah itu keduanya masuk ke dalam villa, tempat penginapan keduanya melakukan bulan madu. Sedang Pak Usman, sang sopir segera menurunkan barang bawaan mereka berdua.
Setelah sang pemilik villa pergi meninggalkan tempat itu. Ilham dan Mira segera berkeliling.
Sebuah villa lantai dua yang terletak di sebuah desa, dengan bangunan model klasik.
Di lantai atas, sebuah kamar seperti suite hotel yang terkesan mewah dan elegan. Dengan tatanan dan furniture klasik.
Ranjang terlihat putih bersih seperti tanda noda. Wangi harum langsung menyerbak, menyambut keduanya begitu keduanya membuka pintu kamar. Kamar yang akan menjadi tempat bercinta keduanya. Dilengkapi dengan bunga-bunga di atas ranjang itu.
Di samping kamar itu dilengkapi dengan balkon yang cukup luas. Dari atas balkon sana, terlihat pemandangan yang terhampar luas yang memanjakan mata.
Sedangkan di belakang, terdapat sebuah kolam renang pribadi yang sekali lagi ukuranya tidak tanggung-tanggung. Mungkin kalau Rafa ikut bersama mereka, bisa berenang sepuasnya, sampai tidak mau beranjak dari sana.
“Bagimana sayang, apakah kamu suka dengan tempat ini?” tanya Ilham dengan dagu terletak di bahu Mira. Tengah memeluk istrinya dari belakang. Mereka berdua tengah menikmati pemandangan dari atas balkon.
“Aku suka sekali tempatnya, sayang. Pemandanganya begitu menakjubkan, ada kolam renang juga, wah ini lebih indah dari yang aku bayangkan sebelumnya!” Jawab Mira, sambil menatap Ilham dengan senyum lebar.
“Di mana pun tempatnya, asal bersamamu, aku sangat senang dan bahagia, suamiku.” Lanjut Mira.
Tak ayal, senyum tipis langsung terbentuk di bibir Ilham.
“Sekarang kamu juga sudah mulai berani menggombal ya? Diajari siapa sih?”
Ilham langsung menggelitiki bagian pinggang istrinya. Tak ayal, badan Mira jadi bergerak ke kanan dan ke kiri. Merasa geli.
“Kamu ini, menyebalkan, geli taukk!” ucap Mira. Lalu menghindar dari suaminya.
Mira dan Ilham kejar-kejaran di sepanjang balkon. Tak membutuhkan waktu lama untuk Ilham dapat menangkap tubuh Mira kembali. Setelah berhasil, laki-laki itu langsung menghempaskan tubuh sang istri ke atas ranjang.
Kini tubuh Mira sudah tidak bisa bergerak kemana-mana karena sudah dikunci oleh tubuh kekar Ilham di atasnya. Keduanya saling tatap, saling tersenyum. Bahagia.
Hari masih siang bolong begini, terik matahari juga masih menyinari bumi. Tapi bibir Ilham sudah mendarat tepat di bibir Mira.
……
Ada banyak hal yang akan keduanya lakukan selama 3 hari 2 malam itu.
Sampai-sampai mereka harus mencoret daftar kegiatan yang sekiranya bisa memakan waktu lama. Memprioritaskan lebih dulu kegiatan yang memang penting.
__ADS_1
Mira tak masalah dengan itu. Tapi Ilham yang merengek ingin memperpanjang tinggal di tempat itu lebih lama.
Tapi mereka tidak bisa memperpanjang masa indah di sana. Setidaknya waktu yang tersisa itu, bisa membekas dalam hidup mereka setelahnya.
Sore hari bersama dengan matahari yang mau tenggelam di langit bagian barat. Senja adalah salah satu moment favorit bagi semua orang.
Tentu saja Ilham dan Mira tidak mau menyiayiakan waktu berharga itu.
Tetapi Mira mendapatkan suaminya masih terlelap di ranjang empuk begitu dirinya membuka pintu.
Mira pun berdecak pelan lalu berjalan mendekat ke arah ranjang. Langsung mengoyang-goyangkan tubuh Ilham. Mengajak untuk menikmati senja.
Ilham tertidur pulas tadi siang dan belum bangun hingga sekarang. Setelah perjalanan memakan waktu sekitar satu jam lebih menuju tempat itu. Sepertinya Ilham sangat kelelahan.
“Sayang, bangunlah, ayo kita nikmati senja ini!” kata Mira sambil tetap menggoyang-goyangkan tubuh Ilham.
“Lihat di luar sana, senja sungguh indah sekali, sangat sayang kalau kita lewatkan begitu saja!”
Ilham hanya menggerakan badan, sesekali menggeliat, lalu detik berikutnya matanya sudah terbuka dengan perlahan. Menyesuaikan lebih dulu dengan keadaan sekitar, menatap sang istri, memindai seluruh ruangan yang terasa begitu asing baginya.
Sampai lupa kalau dirinya dan sang istri tengah berbulan madu. Ilham pun langsung menarik tubuhnya dari ranjang.
Bangun dengan paksaan dari Mira. Menuruti saja, ke mana istrinya itu akan mengajaknya pergi.
Ilham menurut saja seperti anak kecil yang menurut atas perintah dari seorang Ibu.
Sedang Mira turun ke dapur untuk membuatkan jus jambu kesukaan suaminya.
Ilham sudah kembali dari mencuci muka dengan nyawa yang belum sepenuhnya terkumpul.
“Kapan kamu buat jus jambunya?” tanya Ilham sambil meraih gelas besar berisi jus jambu. Mulai meneguknya.
“Tadi waktu kamu tidur, kamu tidur lama sekali. Pasti kamu kecapean ya.”
“Kenapa, kamu kok kaya khawatir gitu kalau aku kecapean?” Ada seringai tipis di bibir laki-laki itu.
“Pasti kamu khawatir, kalau aku capek, jadinya tidak ada tenaga untuk membuatmu puas nanti malam kan!” lanjutnya.
Sontak saja, kedua pipi Mira langsung merah merona. Padahal dirinya tidak bermaksud mengarah ke situ. Memang benar-benar nyebelin Ilham tuh!
__ADS_1
“Ilhammmm! Kamu ini!” balasnya tertahan.
Tapi jujur saja, Mira senang dengan itu. Diam-diam pula jadi menginginkan hal itu.
Ilham memang pandai sekali membuat tawa meledak, senyum-senyum sendiri.
Mira benar-benar merasa memiliki Ilham seutuhnya. Dia bersyukur sekali mempunyai seorang suami yang membuatnya terus tersenyum, kadang membuat jengkel pula sih.
Kekanakan, tetapi ya begitulah Ilham.
“Kenapa kamu lihatin aku seperti itu?” tanya Mira merasa heran dilihatin intens sekali oleh suaminya.
“Apa ada yang salah sama aku?” lanjutnya.
“Kamu itu semakin cantik saja, heran saya! Apalagi ditambah sinar senja yang lagi menerpa wajah kamu, membuat aku tidak sabar ingin menciumu kembali,” ucap Ilham dengan senyum tertahan.
“Nanti malam saja!” potong Mira, terkikik kembali.
…….
Malam pertama di tempat ini. Malam pertama pula bagi Ilham dan Mira, yang tertunda.
Mira tengah menerima panggilan dari sang Mama. Ia bercerita panjang lebar tentang bagusnya tempat mereka berbulan madu.
Setelah itu, Mira yang sudah amat sangat merindukan Rafa, langsung meminta sang Mama untuk memberikan telepon kepasa Rafa.
“Mama di mana sih? Kok enggak jemput Rafa? Rafa ingin pulang, Ma!” suara Rafa terdengar lirih.
“Mama lagi ada urusan sayang, Rafa sementara tidur di rumah Nenek lagi ya. Main sama Kak Raihan, besok deh Mama dan Papa jemput Rafa.”
“Mama jangan lama-lama perginya ya,”
“Iya sayang,”
“Rindu sama Papa Ilham apa tidak?!” Lanjut Mira.
“Rindu bangett Maa! Papa Ilham mana?” Suara Rafa memekik.
Mira lalu memanggil Ilham yang baru saja selesai mandi.
__ADS_1
Ilham tampak bersemangat begitu menerima telepon dari Rafa dengan tubuh masih terlihat sisa air di sana, Ilham mengobrol dengan anaknya sambil duduk di sofa.
Sementara di luar sana sudah mulai gelap. Malam akan segera tiba.