Menikah Dengan Janda

Menikah Dengan Janda
Aku Siap Malam Ini


__ADS_3

Wanita itu sedang menatap layar ponsel. Diangkatnya kembali ponselnya untuk kesekian kali di telinga. Tapi nomor yang sedang dihubunginya tidak kunjung mengangkat telepon. Membuat wanita itu menghembuskan napas kasar, Ilham dan Rafa belum juga pulang sejak tadi pagi pergi. Ilham juga tidak memberi kabar!


Mira memilih bersandar pada dinding, sembari menunggu suami dan anaknya pulang. Tak lama semburat cahaya motor terlihat di depan. Motor itu memasuki halaman rumah. Mira langsung lega dan senyum tipis langsung terbentuk lalu dia berjalan menghampiri keduanya.


“Mama, Rafa sudah pulang, tadi Rafa jalan-jalan sama Kak Raihan, loh!” seru Rafa girang sekali dari atas motor.


“Jalan-jalan ke mana, sih, kok sampai malam sekali pulangnya?” tanya Mira sambil melirik ke arah Ilham sesaat. Lalu menarik tubuh Rafa dari atas motor.


“Jalan-jalan ke mall, Ma.” Balas Rafa sembari menunjukan banyak sekali mainan digenggamanya.


Habis Rafa turun dari atas motor, dia langsung nyelonong masuk ke dalam rumah dan langsung bermain dengan mainan yang dibelinya tadi.


Sedangkan Ilham melepas kunci motor, lalu turun dari atas motor sambil memegangi tengkuknya yang terasa pegal.


“Kamu habis dari mana saja? Aku mencemaskanmu, kamu tidak mengangkat teleponku, kamu juga tidak memberiku kabar.” Kata Mira sehabis Ilham turun dari motor.


“Tadi aku hanya di rumah saja, kebetulan ada teman-temanku datang ke rumah, sedangkan Rafa ke mall bersama Raihan dan Mama.” Jawab Ilham kalimat yang diucapkanya terasa berat.


Mira hanya menggerakan dagu, mengerti.


“Apa kamu capek? Mau aku buatkan teh hangat? Atau aku pijatkan?” kata Mira kemudian sambil berjalan mendekat, membantu melepas jaket yang melekat pada tubuh suaminya.


“Aku tidak capek, kok.” Jawab Ilham pendek, menyerahkan jaket pada istrinya. Lalu melangkah masuk ke dalam rumah.


Mengapa Ilham cemberut sekali? Tidak seperti biasanya dia seperti itu.


Mira melangkah masuk ke dalam rumah setelah Ilham, lalu menutup pintu garasi dengan hati yang tak tenang. Mira mengedarkan pandangan tidak menemukan Ilham ada di mana-mana.


Di manakah, Ilham?


Ia menaruh jaket di gantungan, lalu berjalan ke dapur -memutuskan untuk membuatkan hot chocolate saja.


Kenapa, ya, Ilham kok cemberut begitu? Apa gara-gara masalah itu? Pikir Mira sambil menyeduh hot chocolate untuk suaminya.


Entahlah terasa beda saja Ilham setelah pulang. Tidak seperti biasanya. Apa mungkin dia sedang kecapekan? Mungkin saja begitu! Pikir Mira.


Sementara di ruang tamu, Ilham sedang menyandarkan kepala di sofa. Kedua matanya terpejam bersama gelapnya ruang tamu. Suasana hatinya sedang kacau. Memikirkan kembali nasihat dari Bagas yang sepertinya dapat membuat dirinya mengerti sekarang. Mungkin Ia harus berbicara dengan istrinya!

__ADS_1


Untuk dapat menemukan titik terang, atau mengetahui masalah yang sedang membelenggu istrinya? Atau alasan apa, istrinya itu tidak mau langsung melakukan hubungan suami istri!


Ya, mungkin seharusnya dia memang harus berbicara dengan istrinya sekarang.


Apakah Ilham terlalu egois? Tapi salahkah jika seseorang yang baru saja menikah langsung ingin melakukan hubungan suami istri? Sepertinya tidak salah, bahkan dianjurkan. Tetapi Ilham merasa kalau istrinya itu selalu menghindar!


Mira, apa yang sedang kau pikirkan? Bukankah kau juga mencintaiku, sayang?


Dari arah dapur, Mira berjalan dengan membawa secangkir hot chocolate dengan mengeratkan pegangan pada cangkir. Rafa sudah terlelap di sofa ruang tengah dengan mainan di sampingnya, guratan lelah terlukis jelas di wajahnya.


Mira pun meletakan cangkir di meja kecil yang ada di ruang TV terlebih dahulu. Menata mainan yang berserakan di samping Rafa lalu memasukanya ke dalam wadah. Mira mengambil selimut dari kamar Rafa lalu membentangkanya ke tubuh Rafa. Ia mencium kening Rafa sembari mengusap pelan.


‘’Good night, sayang,’’ lirihnya sembari menatap buah hatinya dengan seulas senyum kasih sayang.


Habis itu, Mira kembali meraih cangkir hot chocolate hangat dan bangkit berdiri untuk mencari Ilham. Di kamar tidak ada, di belakang rumah tidak ada, di dapur tidak ada, di kamar mandi juga tidak ada. Satu ruang terlewatkan. Yaitu ruang tamu yang belum dijamah. Mira pun berjalan menuju ke sana.


Namun, tiba-tiba langkahnya terhenti.


Mira mendapati suaminya sedang duduk termenung dengan kepala tersandar di sofa. Ia memundurkan langkah, sepertinya Ilham tidak menyadari kedatangan dirinya.


*Ilham sepertinya sedang banyak masalah, wajahnya begitu cemberut sekali, apa gara-gara masalah itu? Kalau iya, aku merasa sangat bersalah sekali. Ya, Tuhan bagimana ini?


Entah rasanya kalau melihat Ilham seperti itu, rasanya Mira ingin sekali memeluknya. Ilham yang biasa menggoda, yang biasa jail, tapi sekarang berubah menjadi muram begitu.


Mira menarik napas dalam dan panjang, jika masalahnya itu, dia sudah siap memberikan tubuh kepada suaminya malam ini.


Ia pun melangkah pelan dan meletakan hot chocholate di meja lalu menjatuhkan diri di samping Ilham.


“Sayang, kamu kenapa? Apa yang sedang kamu pikirkan?” kata Mira dengan suara hati-hati.


Ilham membuka mata perlahan, menatap langit-langit ruang tamu, menarik cekalan kelima jari dari pelipis, menoleh ke arah Mira tanpa menjawab apa-apa.


“Apa kamu bahagia menikah denganku?” kata Ilham setelah diam beberapa saat.


Mira agak tersentak dengan pertanyaan suaminya barusan, namun segera menutupi keterkejutan itu. “Aku-aku jelas sangat bahagia, sayang.”


“Lalu, kenapa kamu tidak ingin melakukan itu denganku?” ucap Ilham dengan cepat.

__ADS_1


Sudah kuduga, pasti Ilham memikirkan soal itu!


“Ilham maafkan aku,” jawab Mira dalam tunduknya, setelah terdiam beberapa saat.


“Sekarang aku siap, aku akan memberikan tubuhku kepadamu malam ini, aku akan melakukan tugasku sebagai seorang istri.” Lanjutnya masih menunduk.


“Sungguh?”


“Iya, sungguh suamiku, aku siap untuk melakukanya malam ini.”


Sehabis berkata seperti itu, muka Mira mendadak merah merona, tetapi jelas tidak akan terlihat karena ruang tamu keadaanya gelap sekali -hanya ada cahaya bulan dari luar sana yang menembus masuk melalui jendela.


“Naik,” ucap Ilham ambigu.


“Naik?”


“Ke mana?” Kening Mira berkerut, sudah mengangkat kepala.


“Naiklah ke atas sini,” Ilham langsung menjulurkan tangan memegangi tubuh Mira - mengangkatnya lalu menaruh di atas pangkuanya. Mira yang mendapat perlakuan secara tiba-tiba itu agak gugup lalu langsung menaruh kedua tangan di kedua bahu Ilham untuk menopang tubuhnya.


“Apakah kamu yakin akan melakukan tugasmu sebagai seorang istri malam ini?” tanya Ilham lagi sambil meraih dagu Mira yang terasa bergetar.


Mira mengangguk. Ilham menyipitkan kedua matanya seakan meminta penjelasan lebih.


Mira menelan ludahnya dengan susah payah, bahkan mungkin Ilham dapat mendengarnya. Berada di atas pangkuan Ilham seperti ini tubuhnya seperti sedang tersengat aliran listrik.


“Iya, aku sudah siap.’’


Kedua rahang Ilham terkatub rapat, “Apakah kamu ingin berbulan madu?” tanya Ilham kemudian.


“Eh,” Mira sungguh terkejut, namun senyum langsung tercetak di bibirnya.


“Aku ingin sekali berbulan madu,” jawab Mira dengan sedikit malu, tapi aslinya mau sekali.


“Sungguh?”


“Iya, aku sangat menginginkanya.”

__ADS_1


Rahang Ilham mengeras kembali. “Tetapi, aku ingin tahu alasan, kenapa kamu tidak ingin langsung melakukanya? Kenapa kamu seperti menghindar, sayang? Ceritakanlah kedapaku!”


Tanya Ilham dengan tatapan menggoda sekaligus memohon dan memaksa tentunya.


__ADS_2