
Puas menyusu, Amena akhirnya tertidur. Meyra segera meletakkannya ke tempat tidur khusus yang sudah sesuai dengan ukuran Amena. Selanjutnya, dia pergi menemui Adnan. Lelaki itu sudah menunggu di balkon. Secangkir kopi tampak menemaninya.
"Maaf terlambat," ucap Meyra sembari duduk ke kursi.
"Apa kau tahu berapa lama Amena menangis tadi? Itu hampir setengah jam!" kata Adnan dengan dahi yang berkerut samar.
"Aku hanya mampir sebentar ke kontrakanku. Lagi pula yang terpenting Amena sudah tenang sekarang," tanggap Meyra.
"Untuk selanjutnya, aku tidak mau hal seperti ini terulang lagi!" tegas Adnan.
"Ya, tentu saja. Karena mulai sekarang aku tinggal di sini kan?"
Adnan melemparkan tatapan serius. Atensinya yang sejak tadi tertuju ke layar ponsel, teralih drastis ke arah Meyra.
Bersamaan dengan itu, Yeni datang membawakan camilan dan juga minuman untuk Meyra. Namun setelah mengantar hidangan tersebut, dia tidak beranjak. Adnan lantas heran.
__ADS_1
"Apa ada hal yang ingin kau bicarakan?" tukas Adnan.
"Iya, Tuan. Saya baru saja mendapat telepon dari kampung kalau bapak saya kena serangan jantung. Kalau bisa saya ingin minta izin untuk pulang kampung," jelas Yeni panjang lebar.
Adnan terdiam sejenak. Sebenarnya dia enggan memberi izin cuti pada Yeni. Akan tetapi masalah yang sedang di hadapi wanita paruh baya itu terbilang penting. Lagi pula sekarang ada Meyra yang akan tinggal bersamanya. Adnan bisa memanfaatkan Meyra untuk menggantikan posisi pembantu selama Yeni pergi.
"Ya sudah, aku izinkan," ujar Adnan. Membuat Yeni tersenyum lega. Namun senyuman itu pudar saat dia terpikirkan sesuatu. "Tapi, Tuan. Bagaimana dengan anda nanti? Siapa yang akan bersih-bersih dan memasak di rumah ini?" tanyanya.
"Kau tidak perlu cemaskan itu. Aku punya wanita ini." Adnan menjawab sambil menunjuk Meyra. Mata perempuan itu sontak membulat.
"Hei! Aku tidak bilang--"
"Entahlah, Tuan. Saya janji akan kembali secepatnya," sahut Yeni. Ia segera pamit dan bersiap-siap untuk pergi. Kini Adnan dan Meyra kembali berduaan.
"Apa-apaan! Kenapa aku tiba-tiba jadi pembantu juga? Ini tak sesuai perjanjian!" keluh Meyra.
__ADS_1
"Kau tenang saja. Aku akan membayarmu dua kali lipat untuk itu," balas Adnan santai.
"Ini bukan masalah uang! Tapi tenagaku. Apalagi aku sedang masa pemulihan setelah melakukan proses persalinan. Belum lagi menjaga Amena. Kau pikir itu mudah kulakukan sendiri?"
"Masalah Amena, kau hanya perlu memberinya susu. Untuk lainnya, aku akan membayar jasa baby sitter." Adnan masih saja bersikap santai. Keinginannya seolah-olah harus dituruti oleh Meyra tanpa ada penolakan.
"Kau seperti penipu!" cibir Meyra kesal.
"Aku sarankan kau lebih baik istirahat sekarang. Sebelum Amena bangun," saran Adnan.
Meyra terperangah tak percaya. Dia meminum teh yang diberikan Yeni tadi dengan perasaan kesal.
"Aaa!" Meyra reflek berteriak saat teh menyentuh mulutnya. Sebab teh itu masih panas. Dia yang sedang kesal pada Adnan, jadi melupakan hal tersebut.
Meyra buru-buru meletakkan kembali cangkir ke atas piring kecil. Lalu memegangi bibir dan lidahnya yang terasa terbakar.
__ADS_1
Adnan tergelak melihat aksi kecerobohan Meyra. Perempuan itu sontak cemberut. Kemudian beranjak pergi dengan langkah menghentak kesal.
"Dasar! Dia berlagak seperti bos karena kaya. Aku akan buktikan kalau aku bukanlah orang yang bisa diremehkan," gerutu Meyra.