Menikah Karena Anak Tahfiz Qur'An

Menikah Karena Anak Tahfiz Qur'An
Chapter 12 - Tatapan Menilai


__ADS_3

"Kau membuatku kaget!" ungkap Meyra sembari memegangi dada.


"Apa kau akan memasak?" Adnan tak acuh dengan reaksi Meyra yang cukup berlebihan tadi. Sambil bertanya, dia memberikan cangkirnya pada Meyra.


"Aku hanya melihat bahan-bahannya. Lagi pula ini masih sore. Terlalu cepat jika memasak sekarang." Meyra mengambil cangkir yang disodorkan Adnan.


"Buatkan kopi untukku. Antarlah ke ruang kerja kalau sudah selesai!" perintah Adnan sembari beranjak begitu saja.


Meyra hanya menghela nafas panjang. Ia segera membuatkan kopi untuk Adnan.


Di sisi lain, Adnan sudah berada di ruang kerja. Dia asyik berkutat dengan layar ponsel. Kebetulan Adnan mendapatkan undangan pernikahan dari teman dekatnya.


"Dia pasti akan hadir juga bukan?" gumam Adnan. Dia membicarakan tentang mantan kekasihnya yang berselingkuh.


Ponsel Adnan berdering. Dia mendapat telepon dari teman dekatnya yang akan menikah itu.


"Ya?" ujar Adnan. Mengangkat panggilan telepon Ardy.


"Ad! Kau sudah melihat grup bukan? Aku juga sudah mengirim undangannya ke kantormu. Tapi tidak afdol jika aku tak bicara langsung padamu. Kau harus datang!" kata Ardy.

__ADS_1


"Ar, aku kebetulan sedang banyak kesibukan." Adnan berusaha menolak baik-baik.


"Ayolah. Bukankah hari minggu kau libur? Jangan bilang kau tak ingin datang karena takut bertemu Riani?"


"Ti-tidak! Tentu saja tidak!" Adnan membantah tegas. "Kenapa kau masih saja menyangkutpautkan segala keputusanku dengan Riani? Aku bahkan sudah punya pacar sekarang!" ucapnya. Sungguh, Adnan benar-benar benci dipandang menyedihkan oleh orang. Apalagi jika berkaitan dengan asmaranya.


"Bagus kalau begitu! Aku ikut senang mendengarnya. Bawalah dia bersamamu hari minggu nanti. Buktikan pada Riani kalau kau sudah bahagia. Oke?" Ardy memberi tanggapan yang tidak diharapkan Adnan.


"Tapi--"


"Aku akan menunggu. Oh iya, aku harus menemani calon istriku membeli sesuatu. Sampai jumpa lusa nanti!" potong Ardy. Dia memutuskan panggilan telepon lebih dulu.


Adnan terdiam dan terpaku. Dia benar-benar sudah membuat kebohongan tak berdasar. Yang mana kebohongan itu berdampak seperti bumerang untuknya.


Suara ketukan pintu terdengar. Orang yang datang tidak lain adalah Meyra. Perempuan itu membawakan kopi untuk Adnan.


Meyra tidak mengatakan apapun. Dia langsung meletakkan kopi ke meja kerja Adnan.


Saat itulah Adnan menatap Meyra. Dia terpikirkan sesuatu hal. Ketika Meyra hampir menggapai pintu, Adnan memanggil.

__ADS_1


"Tunggu!" cegat Adnan. Membuat langkah kaki Meyra terhenti. Perempuan tersebut segera menoleh ke arah Adnan.


"Ya?" Meyra mengerutkan dahi.


Adnan terdiam sejenak karena sibuk memandangi Meyra dari ujung kaki sampai kepala. Dia harus akui kalau perempuan itu cantik. Apalagi kalau dipoles dengan gaun cantik dan make up yang cocok.


Melihat tatapan Adnan, Meyra reflek melangkah mundur. "Jangan berpikiran yang macam-macam! Kalau kau berani menyentuhku, aku akan laporkan kau ke polisi!" ancamnya seraya menutup dada dengan dua tangan yang menyilang.


"Jangan salah paham! Memiliki keinginan untuk menyentuh sejengkal badanmu pun aku tak berminat!" bantah Adnan.


"Lalu? Apa maksud tatapan mesummu tadi?" timpal Meyra.


"Apa? Mesum kau bilang?" Adnan terperangah.


Bersamaan dengan itu, Azam berjalan melewati ruang kerja Adnan. Dia dapat mendengar semua pembicaraan Adnan dan Meyra. Azam agak khawatir saat mendengar perkataan Meyra yang menyebut Adnan mesum. Perlahan anak itu berjalan ke depan pintu ruang kerja Adnan.


Sementara di dalam ruangan, Adnan dan Meyra masih berdebat.


"Iya! Aku sangat tahu bagaimana tatapan lelaki mesum!" ucap Meyra.

__ADS_1


"Enak saja! Aku menatapmu begitu karena sedang menilaimu," ungkap Adnan.


"Maksudmu?" Meyra menuntut jawaban.


__ADS_2