
Kini Meyra sedang beristirahat di kamarnya. Dia berulang kali mengedarkan pandangan ke sekitar. Merasa senang mendapatkan kamar yang terbilang mewah dan nyaman. Tentu keadaan yang sangat jauh dibanding kamar di rumah kontrakan.
Tanpa sadar Meyra tertidur. Namun itu tak berlangsung lama. Karena satu jam kemudian terdengar suara tangisan Amena.
Meyra sontak terbangun. Dia berpapasan dengan Adnan saat baru membuka pintu kamar.
"Pas sekali! Aku baru saja mau memanggilmu untuk mengurus Amena," ujar Adnan.
"Kamarku dengan Amena dekat. Aku pasti bisa mendengar jelas tangisannya," sahut Meyra sembari bergegas pergi ke kamar Amena. Dia segera mengurus bayi tersebut.
Sementara Adnan, kembali menyibukkan diri ke ruang kerja. Di sana dia berkutat dengan laptop. Tentu saja ditemani oleh secangkir kopi yang sudah seperti santapan wajibnya.
Saat merasa lelah, Adnan meregangkan tangannya. Dia berdiri dan membawa kopinya ke depan jendela. Dari sana dirinya bisa melihat Meyra yang sibuk menggendong Amena di halaman depan.
Dari jauh Adnan bisa melihat Amena tersenyum. Perlahan atensi Adnan teralih pada sosok Meyra yang tampak begitu keibuan. Ia sempat terpaku menatap perempuan itu.
__ADS_1
Angin menyerbak rambut panjang Meyra yang digelung asal ke atas itu. Anak-anak rambut Meyra lantas beterbangan. Perempuan tersebut juga tak berhenti merekahkan senyuman lebar sampai gigi-giginya terlihat jelas.
Tanpa diketahui Adnan, Fendi sekretaris pribadinya masuk. Lelaki paruh baya itu melangkah lebih dekat.
"Tuan!" panggil Fendi. Namun tidak ada tanggapan sama sekali dari Adnan.
"Tuan Adnan?!" Fendi lantas memanggil lagi dengan suara yang lebih lantang. Panggilan keduanya berhasil membuat Adnan menoleh. Bahkan pria tersebut sampai tersentak kaget. Kopi di dalam cangkirnya sedikit tumpah ke lantai.
"Maaf sudah membuatmu kaget, Tuan..." ungkap Fendi yang bisa melihat semburat wajah cemberut Adnan.
"Aku tadi sudah mengetuk beberapa kali. Tapi karena tidak dijawab, jadi aku masuk saja," jelas Fendi.
Adnan agak kaget. Dia jadi sadar kalau dirinya tadi terlalu terpaku menontoni Meyra. Buru-buru dirinya menggelengkan kepala untuk menyadarkan diri.
'Kau kenapa, Adnan? Perempuan kampung seperti Meyra jelas bukan tipemu.' Adnan memperingatkan dirinya dalam hati. Dia segera fokus bicara dengan Fendi. Mereka membicarakan perihal harta warisan Ehsan. Kebetulan Adnan berusaha mengurus harta warisan itu agar jatuh ke tangan Azam dan Amena.
__ADS_1
...***...
Waktu menunjukkan jam dua sore. Azam pulang dari sekolah. Dia langsung menemui Amena ke kamar. Di sanalah dirinya bertemu dengan Meyra.
Meyra sigap memposisikan jari telunjuk ke depan bibir. Memberi isyarat agar Azam diam. Mengingat Amena sedang ditidurkan.
Azam tersenyum dan mengangguk. Dia segera masuk ke kamar untuk berganti pakaian.
Beberapa saat setelah Azam pergi, Amena tertidur. Meyra segera meletakkannya ke tempat tidur. Selanjutnya, Meyra berjalan memeriksa berbagai sudut rumah. Hingga akhirnya dia tiba di dapur. Meyra menemukan keadaan dapur cukup berantakan. Banyak piring dan gelas kotor yang menumpuk di wastafel.
"Bi Yeni sepertinya pergi tergesa-gesa sampai tidak sempat lagi membersihkan semuanya. Aku sebaiknya bergerak lebih dulu dari pada harus mendapat omelan dari Adnan rengginang itu," gumam Meyra sembari mulai bergerak untuk mencuci piring dan gelas kotor.
Ketika sudah selesai, Meyra memeriksa kulkas. Dia melihat bahan-bahan di sana agar dapat memikirkan apa yang akan dimasaknya untuk makan malam nanti.
Puas berjongkok melihat kulkas, Meyra menutup pintu kulkas. Lalu berbalik ke belakang. Dia kaget bukan kepalang saat melihat Adnan tiba-tiba ada di belakangnya. Lelaki itu tampak berdiri tegak sambil memegangi cangkir yang sudah kosong.
__ADS_1