Menikah Karena Anak Tahfiz Qur'An

Menikah Karena Anak Tahfiz Qur'An
Chapter 39 - Berdandan


__ADS_3

Meyra baru saja mengenakan pakaian. Ia memilih memakai dress selutut dengan motif bunga. Meyra juga menggerai rambut panjangnya. Entah kenapa kala itu dirinya berusaha berdandan lebih baik dari biasanya.


"Ah, warna lisptiknya terlalu tipis. Nanti aku harus beli lagi," gumam Meyra. Mengingat dia hanya memiliki satu lipstik saja sekarang.


Tanpa sadar, Meyra berusaha merias dirinya sendiri sebaik mungkin. Dia tersadar setelah selesai membedaki wajah.


"Tunggu dulu. Kenapa aku berdandan tidak seperti biasanya," gumam Meyra yang merasa aneh. Wajahnya memerah sendiri. Dia tak bisa membantah kalau apa yang dilakukannya kini karena Adnan.


Meyra menggeleng kuat. Dia membuang segala dugaan tentang perasaannya terhadap Adnan.


'Ayolah, Mey! Apa kau baper hanya karena mendapat ciuman di kening? Bukankah kau tak pernah mempercayai lelaki?' batin Meyra memperingatkan dirinya sendiri.


Di sisi lain, ternyata Adnan juga melakukan hal sama. Dia sudah beberapa kali bercermin untuk memperbaiki penampilannya. Adnan memanfaatkan waktu jika mobilnya berhenti saat lampu merah.


Puluhan kali Adnan sudah memperbaiki dasi dan rambutnya. "Tunggu, kenapa aku berlebihan? Ayolah! Aku dan Meyra akan pergi ke dokter. Bukannya pergi berkencan," gumamnya merasa aneh. Buru-buru dia menjauh dari cermin. Adnan segera kembali fokus menyetir.


Setibanya di rumah, Meyra langsung menyambut. Jantung Adnan berdegup kencang. Anehnya dia merasa Meyra hari itu sangat cantik. Sepertinya usaha Meyra dalam mendandani diri berhasil.


Saat masuk, Meyra tersenyum menyapa Adnan. Begitu pun sebaliknya. Suasana terasa canggung.


Adnan melirik ke arah Meyra. Dia merasa penampilan perempuan itu berbeda dari biasanya.


"Apa kau berdandan?" tanya Adnan.

__ADS_1


"A-apa terlihat begitu? Aku hanya mencoba lipstik dan bedak yang kubeli di mall kemarin," tanggap Meyra terbata. Dia membuang muka karena wajahnya memerah padam.


"Benarkah?" Adnan tersenyum geli. 'Mungkinkah Meyra berdandan untukku?' batinnya menduga.


Adnan mulai menjalankan mobil. Keheningan menyelimuti dalam beberapa saat.


"Apakah tempatnya--"


"Bagaimana dengan--"


Meyra dan Adnan bicara di waktu bersamaan. Keduanya lantas tidak jadi bicara. Mereka tergelak bersama.


"Kau dulu," kata Adnan mengalah.


"Apa tempatnya jauh?" tanya Meyra.


"Ya, dia sekarang semakin besar. Tambah sulit untuk ditidurkan," sahut Meyra.


"Semua anak memang begitu. Mereka akan tumbuh besar pada saatnya. Kau lihat sendiri kan Azam?" tanggap Adnan.


"Dia anak dengan pemikiran paling dewasa yang pernah kutemui," kata Meyra.


"Dia jenius." Adnan sependapat dengan Meyra. Tak lama kemudian, mereka tiba di klinik.

__ADS_1


"Ayo!" ajak Adnan sembari melepas sabuk pengaman karena hendak keluar mobil. Akan tetapi tidak untuk Meyra. Perempuan itu membeku.


"Keraguanku tiba-tiba kembali muncul," ungkap Meyra.


Adnan urung keluar dari mobil. Dia menatap Meyra. "Kau bisa melakukan ini. Aku akan menemanimu," bujuknya.


Meyra membalas tatapan Adnan. Keduanya saling bertukar pandang dalam beberapa saat.


Ketika melihat tatapan Adnan, Meyra rasa lelaki itu bersungguh-sungguh. Untuk sekarang dia akan mempercayainya. Meyra lantas mengangguk. Dia dan Adnan segera memasuki klinik.


Sebelum melakukan konsultasi, Meyra diharuskan mengisi kuesioner yang diberikan dokter. Selanjutnya, dia hanya perlu menunggu antrian.


Adnan benar-benar menemani Meyra menghadapi psikiater. Sekarang mereka sudah berada di ruangan. Duduk bersebelahan di sofa.


"Jadi kalian sepasang suami istri?" tanya sang psikiater yang disapa Tina itu.


"Begitulah, Dok!" sahut Adnan yakin.


Tina tersenyum dan segera membaca kuesioner yang sudah di isi Meyra. Ia siap memberikan pertanyaan pertama.


"Jadi di sini Mbak Meyra memiliki trauma dengan pelecehan seksual yang di alaminya?" tanya Tina memastikan.


"Iya, Dok!" sahut Meyra.

__ADS_1


"Itu pasti sangat mengganggu. Berarti kalian belum... Maaf sebelumnya. Belum pernah berhubungan intim?" tanya Tina lagi.


Pertanyaan itu membuat Adnan dan Meyra membulatkan mata. Keduanya reflek bertukar pandang.


__ADS_2