Menikah Karena Anak Tahfiz Qur'An

Menikah Karena Anak Tahfiz Qur'An
Chapter 17 - Sandiwara Adnan & Meyra


__ADS_3

Adnan dan Meyra berjalan untuk mengambil makanan. Saat itulah keduanya saling bicara.


"Sekarang kau bisa beritahu, wanita yang hamil itu mantanmu kan?" tanya Meyra.


"Ya! Kalau kau sudah tahu, sebaiknya kau mulai bersikap normal sekarang," tanggap Adnan.


Meyra mengangguk. Dia dan Adnan segera mengambil makanan yang tersedia. Lalu kembali duduk bergabung bersama Erik dan kawan-kawan.


Adnan berpura-pura menunjukkan kemesraannya pada Meyra. Dia mengelap sudut bibir Meyra yang tampak belepotan.


Meyra berusaha tenang menghadapi sikap Adnan. Karena ingin membantu lelaki itu, dia balas memberi perhatian. Yaitu dengan memberikan bagian makanannya untuk Adnan. Meyra yang sangat menyukai sayuran, memberikannya pada Adnan.


"Ini favoritmu," ujar Meyra. Dia tidak tahu kalau Adnan benci sayuran.


"Kau yakin sayuran adalah makanan favorit Adnan?" Riani mendadak angkat suara. Seolah dia mengendus ada sesuatu yang ganjil dari sikap Adnan dan Meyra. Sebagai wanita yang sudah lama berpacaran dengan Adnan, dia sangat tahu banyak hal tentang lelaki tersebut.

__ADS_1


"I-iya. Tentu saja Adnan suka. Iyakan?" jawab Meyra tergagap. Perlahan dia menatap Adnan. Melihat ekspresi Adnan, Meyra sadar kalau dirinya telah melakukan kesalahan.


"Iya! Aku sekarang sangat suka sayuran. Aku juga sedang berusaha menjaga pola makanku agar bisa hidup sehat." Adnan terpaksa berbohong agar kedoknya dan Meyra tidak ketahuan. Dia bahkan sampai menyantap sayuran yang diberikan Meyra. Kemudian berlagak sangat menikmati sayuran tersebut.


"Meyra-lah yang sudah membuatku jatuh cinta dengan rasa sayuran. Persis seperti bagaimana cara dia membuatku jatuh cinta," ungkap Adnan sambil mengunyah sayuran. Sungguh, dia sangat memaksakan diri membuat sayuran itu tertelan oleh tengorokannya sendiri.


Meyra tersenyum kecut mendengar perkataan Adnan. Menurutnya itu agak berlebihan. Meyra lantas hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala sambil terus mengukir senyuman.


"Tentu saja. Cinta memang buta. Bukankah begitu?" sahut Erik yang berusaha mencairkan suasana. Dia segera merubah topik pembicaraan. Erik menatap Meyra dengan seksama. Kemudian bertanya, "Kau cantik sekali, Meyra. Ngomong-ngomong pekerjaanmu apa?"


"Sayang! Kau baik-baik saja kan?" Adnan sigap menenangkan. Semua yang dikatakan dan dilakukannya tentu hanyalah sandiwara.


Pupil mata Meyra membesar ketika mendengar panggilan sayang dari Adnan. Apa dia salah dengar? Terasa begitu aneh mendengar ada lelaki yang menyebut dirinya dengan panggilan seperti itu.


"Sayang? Apa kau mau aku ambilkan minuman lagi?" tanya Adnan.

__ADS_1


"A-anu... Aku tidak apa-apa." Meyra menenggak salivanya dan tersenyum canggung.


"Syukurlah..." ujar Adnan sambil mengelus pundak Meyra. Jujur saja, itu membuat dia sedikit tidak nyaman. Namun Meyra mencoba menahan perasaan tersebut dan memilih mempercayai Adnan.


"Begini, Meyra baru saja resign dari pekerjaannya," jelas Adnan berkilah.


"Benarkah?" tanggap Erik. Dia, Riani, dan teman-teman lainnya tampak terkejut.


"Kenapa? Apa kau hamil?" tukas Riani. Menyebabkan mata Meyra membulat sempurna.


Hal serupa juga dilakukan Adnan. Kini dia yang dibuat tersedak. Tetapi Adnan tersedak bukan karena minuman, melainkan sayuran yang berusaha keras dirinya habiskan.


"Tidak! Tentu tidak! Ada sesuatu hal. A-aku tidak bisa memberitahu," bantah Meyra.


"Meyra benar. Itu masalah perusahaan. Jadi tidak nyaman mengatakan masalahnya kemana-mana," terang Adnan. Memperkuat pernyataan Meyra.

__ADS_1


Tak lama kemudian, Ardy yang sedang di pelaminan memanggil. Dia menyuruh semua teman-temannya untuk berfoto bersama.


__ADS_2