Menikah Karena Anak Tahfiz Qur'An

Menikah Karena Anak Tahfiz Qur'An
Chapter 22 - Peringatan Azam


__ADS_3

Dengan pelan Adnan obati pergelangan kaki Meyra. Ia melakukannya seperti sudah terlatih.


Setelah selesai, Adnan menatap Meyra. Tanpa sengaja keduanya saling bertukar pandang. Mereka saling terpaku. Waktu seolah berhenti.


Namun itu tak berlangsung lama. Sebab Meyra maupun Adnan buru-buru saling mengalihkan pandangan. Meskipun begitu, rona merah di pipi mereka tak bisa disembunyikan. Sesuatu hal yang lumrah terjadi di saat malu.


"Em... Anu, apa Amena sudah tidur?" Adnan memulai pembicaraan agar suasana bisa mencair.


Sebelum menjawab, Meyra memeriksa Amena terlebih dahulu. Wajah bayi itu memang tak terlihat karena selimut kecil yang menutupi.


"Sudah..." ungkap Meyra.


"Kalau begitu kau bisa mandi. Biar Agni yang menjaganya tidur," saran Adnan.


"Tidak. Aku baru saja menyuruhnya istirahat. Agni pasti lelah seharian menjaga Amena," sahut Meyra.


"Begitukah? Kalau begitu serahkan Amena padaku. Biar aku yang membawanya ke kamar sebelah." Adnan mengulurkan dua tangannya.

__ADS_1


"Kau bisa menggendong bayi kan?" tanya Meyra memastikan.


"Tentu saja," jawab Adnan.


Meyra percaya saja. Dia menyerahkan Amena ke dalam gendongan Adnan. Selanjutnya, lelaki itu beranjak keluar kamar.


Meyra menghela nafas panjang ketika Adnan pergi. Ia segera beranjak menuju kamar mandi. Rasa sakit di pergelangan kakinya jadi berkurang akibat pengobatan yang diberikan Adnan.


Tanpa sadar, Meyra tersenyum sendiri. Dia juga jadi teringat momen lucu kala bersama Adnan di acara pernikahan tadi.


"Astaga. Apa yang kupikirkan? Kenapa mendadak aku memikirkannya dengan cara menyenangkan begini?" Meyra menggeleng tegas. Berusaha membuang segala hal tentang Adnan.


Adnan terpaku bukan karena Amena, melainkan karena Meyra. Dia mendadak memikirkan perempuan itu.


"Lagi mikirin Mbak Meyra ya?" suara Azam sukses mengejutkan Adnan. Lelaki itu langsung menoleh k sumber suara. Dia bisa melihat Azam berdiri di depan pintu dalam keadaan memakai peci.


"Azam! Kau belum tidur?" tukas Adnan. Merubah topik pembicaraan. Ia berjalan mendekati Azam. Berjongkok di hadapan anak tersebut.

__ADS_1


Azam menggeleng. Dia berucap, "Aku melihat semuanya!"


"Maksudmu?" Adnan mengerutkan dahi.


"Om dan Mbak Meyra. Kalian jelas bukan rekan kerja. Hubungan kalian lebih dari itu. Jika begitu, cepat nikahilah Mbak Meyra, Om. Dosa kalau Om terus-terusan dekat begitu tanpa adanya status!" ujar Azam.


"Zam, kau bicara apa? Aku dan Meyra tidak memiliki hubungan yang kau pikirkan," jelas Adnan. Berharap Azam mengerti.


"Enggak. Mulut memang bisa berbohong. Tapi mata tidak. Aku bisa melihat dari tatapan Om dan Mbak Meyra. Ada cinta dan juga nafsu di sana." Azam berbicara dengan wajah polosnya itu.


Adnan terkekeh. "Zam, dari mana kau bisa mengetahui kalau tatapanku dan Mbak Meyra itu artinya cinta?" tanyanya. Merasa lucu.


"Sejak kalian keluar dari mobil tadi. Om juga menggendong Mbak Meyra sampai kamar kan? Sentuhan begitu sudah bisa dibilang dosa, Om!" Azam menasehati Adnan. Dia melakukannya karena tak tahu mengenai kepercayaan yang dimiliki Adnan.


"Aku melakukan itu karena ingin membantu Mbak Meyra. Dia tak bisa berjalan sendiri dengan kakinya yang sakit. Dengar, apa yang kau lihat hari ini bukanlah apa-apa."


Azam memasang tatapan menyelidik. "Ya, untuk sekarang mungkin aku bisa memakluminya. Tapi jika lain kali aku melihat Om dan Mbak Meyra melakukan hal tidak senonoh, maka aku akan langsung membawakan penghulu untuk kalian!" tegasnya dengan cemberut. Lalu beranjak dari hadapan Adnan.

__ADS_1


Melihat sikap Azam, Adnan hanya terkekeh geli. Namun dia tak tahu kalau Azam sudah bertekad, maka tidak ada yang bisa menghalangi. Anak itu sangat cerdik dan tahu harus berbuat apa yang menurutnya benar.


__ADS_2