
Meyra mendengus kasar. "Sudahlah, Adnan. Aku rasa ini sudah berlebihan," ucapnya. Lalu beranjak dari kamar Adnan. Ia pergi ke dapur untuk membuat sarapan.
Ketika Meyra selesai memasak, penghuni rumah berdatangan ke meja makan. Termasuk Adnan yang terlihat rapi dengan setelan kemeja dan dasi.
Suasana begitu hening. Azam juga tidak cerewet seperti biasanya. Baik Adnan maupun Meyra, mereka sama-sama enggan untuk bicara.
Agni tiba-tiba datang. Dia juga terlihat menggendong Amena.
"Permisi, Tuan dan Mbak Mey..." imbuh Agni. Atensi semua orang sontak tertuju kepadanya.
"Iya, Ni? Ada apa?" Meyra menjadi orang pertama yang menanggapi.
"Aku cuman mau memberitahu kalau baju-baju Amena sudah banyak yang kekecilan. Hanya sekitar lima lembar baju yang masih bisa dipakai olehnya," jelas Agni.
"Astaga, Mena... Kau sudah besar!" seru Azam yang langsung menghampiri Amena. Ia segera menoleh ke arah Meyra. "Ini semua karena Mbak Meyra," sambungnya.
"Kau benar, Azam. Ditambah, Amena juga selalu menyusu dengan lahap." Agni setuju dengan pendapat Azam.
Wajah Adnan memerah saat semua orang membicarkan tentang ASI Meyra. Dia jadi terbayang dengan cara bagaimana perempuan itu menyusuil Amena. Buru-buru Adnan menggeleng cepat.
__ADS_1
"Ekhem!" Adnan berdehem. "Aku rasa kita harus pergi ke mall dan membelikan Amena pakaian baru. Kau juga harus ikut, Zam! Aku yakin kau pasti butuh baju baru juga," ujarnya. Sengaja merubah topik pembicaraan.
"Iya, Om! Kebetulan juga hari ini hari minggu!" Azam melompat kesenangan.
"Ya sudah. Setelah sarapan, kita langsung berangkat!" ucap Adnan bersemangat.
Setelah sarapan, semua orang pergi ke kamar masing-masing untuk bersiap. Kecuali Meyra. Perempuan itu tampak santai dan memilih sibuk mencuci piring.
Adnan menyuruh semua orang berkumpul ke teras. Dia hanya tinggal menunggu Meyra. Namun perempuan tersebut tidak kunjung muncul.
Adnan lantas mencari Meyra. Dia menemukan perempuan itu masih sibuk di dapur.
Meyra berbalik dengan kelopak mata yang melebar. "Aku? Kau ingin aku ikut?" tanyanya sambil menunjuk ke arah dada sendiri.
"Tentu saja! Kau sudah seperti ibu bagi Amena. Aku membutuhkanmu. Agni hanya bertugas menjaga Meyra," ujar Adnan.
"Tapi bagaimana dengan ini? Aku harus menyelesaikannya dulu." Meyra membicarakan tentang piring dan gelas kotor yang belum di cuci. Dia beranjak ke arah wastafel. Akan tetapi sigap dihentikan oleh Adnan. Lelaki itu memegang pergelangan tangan Meyra.
"Lupakan saja!" kata Adnan dengan tatapan serius namun sulit diartikan.
__ADS_1
Meyra terkesiap. Entah kenapa tatapan Adnan itu membuat jantungnya berdebar. Dia segera menganggukkan kepala. Lalu pergi ke kamar untuk bersiap-siap.
Meyra tidak membutuhkan waktu lama untuk berdandan. Dia juga hanya mengenakan bedak dan lipstik berwarna peach.
Adnan segera membawa Meyra dan yang lain mendatangi mall terdekat. Mereka mendatangi toko pakaian anak-anak di sana.
Semuanya berpencar untuk melihat-lihat baju. Meyra pergi bersama Agni dan Amena. Sementara Adnan dengan Azam.
Azam begitu bersemangat memilih baju baru untuk dirinya sendiri.
"Om, apa ini cocok untukku?" tanya Azam.
"Sema baju cocok untukmu, Zam. Kau itu anak yang sangat tampan," tanggap Adnan sambil berjongkok.
"Sejak tadi Om bilang cocok terus. Agak meragukan," komentar Azam. "Aku minta pendapat Mbak Mey aja," ujarnya yang segera berlari mencari Meyra.
"Azam! Jangan lari-lari begitu," tegur Adnan sembari mengejar Azam.
Bersamaan dengan itu, saat Meyra sedang sibuk memilih-milih baju Amena, dia bertemu seorang wanita yang membuatnya kaget.
__ADS_1
"Meyra? Apa itu kau?" tukas wanita itu. Ia tidak lain adalah kakak kandungnya Meyra. Salah satu orang yang pernah jijik dengan keadaan Meyra di masa lalu.