
Mendengar Adnan mabuk, Meyra jadi merasa cemas. Ingin rasanya dia mencari lelaki itu.
Meyra menunggu Adnan pulang. Dia duduk di ruang tamu. Sambil sesekali menengok ke jendela.
"Apa aku temui saja dia ya?" gumam Meyra sambil berjalan mondar-mandir tidak karuan. Ia berakhir duduk ke sofa.
Malam semakin larut. Namun Adnan tak kunjung pulang.
Saat Meyra diserang kantuk, pintu tiba-tiba terbuka. Dia melihat Adnan datang dengan digotong oleh Aman sopir pribadinya.
"Adnan!" panggil Meyra. Dia bergegas menghampiri dengan rasa cemas.
"Hai, Mey..." Meski mabuk, Adnan menanggapi Meyra.
"Cepat bawa dia ke kamar!" suruh Meyra pada Aman. Ia segera mengikuti.
Setelah Adnan dibawa ke kamar, Meyra mempersilahkan Aman pergi. Tidak lupa juga dia mengucapkan terima kasih pada sopir pribadi Adnan itu.
Kini Meyra dan Adnan berduaan di kamar. Meyra menatap nanar Adnan.
__ADS_1
"Kenapa kau melakukan ini? Apa masalahmu sangat besar?" tukas Meyra. Seakan mengomeli Adnan. Lelaki itu tampak memejamkan mata sambil sesekali mengecapkan lidah.
"Aku harap kau bersihkan dirimu sebelum menemui Azam dan Amena," ujar Meyra lagi. Dia segera beranjak setelah melepas sepatu Adnan. Lalu menyelimuti lelaki itu.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Meyra sudah disibukkan mengurus Amena. Dia menemani dan menyusui bayi itu dalam satu jam lamanya. Selanjutnya, Meyra pergi ke kamar Adnan. Sebelum masuk, dia mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Masuklah!" kata Adnan.
Meyra lantas masuk. Dia melihat Adnan duduk termenung di tepi ranjang. Keadaan lelaki itu masih tampak acak-acakan.
"Kau baik-baik saja? Mau aku buatkan teh jahe?" tawar Meyra.
Adnan hanya diam. Meyra lantas mendekat. Ia duduk ke hadapan lelaki itu.
Adnan menatap Meyra. "Apa aku terlihat seburuk itu sampai kau berucap begitu," tanggapnya.
"Ya, bercerminlah! Kau terlihat sangat berantakan," balas Meyra.
"Maaf..." ungkap Adnan singkat.
__ADS_1
"Jangan terlalu pikirkan apa yang terjadi sekarang. Lagi pula semua itu tidak benar kan? Kau juga sudah menjelaskan semuanya pada ayahmu," ucap Meyra.
"Ya, masalahnya di sini aku melibatkanmu. Sekarang karena kebohongan yang kubuat, gosip miring jadi tersebar kemana-mana," sahut Adnan sambil memegangi jidatnya.
"Sudahlah. Aku sama sekali tidak masalah," ungkap Meyra santai.
"Kau tidak masalah. Tapi bagiku ini masalah besar! Aku jadi tidak fokus karena masalah yang semakin membesar ini!"
"Lalu kau mau apa?"
Adnan memasang raut wajah serius. Sejak tadi malam dirinya memang terus berusaha memikirkan jalan keluar dari masalahnya sekarang. Bahkan saat bangun tidur dia juga merenungkan hal itu. Adnan sebenarnya terpikirkan sesuatu.
"Bagaimana kalau kita menikah?" imbuh Adnan.
Mata Meyra membulat sempurna. Dia kaget mendengar tawaran Adnan tersebut. "Apa kau gila?!" tanggapnya tak percaya.
"Kau tenang saja. Pernikahan yang kumaksud hanyalah sebagai status. Lagi pula kau juga tidak punya keluarga yang peduli bukan? Jadi kupikir hal ini juga merupakan keuntungan untukmu." Adnan menjelaskan panjang lebar.
"Kau bercanda kan? Aku rasa kau masih mabuk." Meyra memastikan.
__ADS_1
"Apa wajahku terlihat bercanda?" Adnan menyahut dengan ekspresi serius.
"Ini sejenis nikah kontrak. Aku berjanji tidak akan menyentuhmu. Azam juga akan berhenti membual untuk menyuruh kita menikah. Kau bisa tinggal di sini sampai kapan pun kau mau." Adnan sepertinya bersungguh-sungguh.