Menikah Karena Anak Tahfiz Qur'An

Menikah Karena Anak Tahfiz Qur'An
Chapter 34 - Tidur Sekamar [1]


__ADS_3

"Kalian sepertinya harus pergi sekarang. Aku baru sadar waktu sudah hampir jam tujuh." Meyra sengaja merubah topik pembicaraan. Memang kebetulan makanan di piring Azam sudah habis.


"Iya, Mbak..." Azam menyahut pelan. Dia segera memasang tas ransel dan pergi meninggalkan meja makan. Anak itu paham kalau Meyra dan Adnan sepertinya tak mau membicarakan apa yang dibahasnya tadi.


"Ayo, Om. Kita pergi!" ajak Azam. Sebelum benar-benar meninggalkan meja makan.


"Kau duluan saja ke mobil. Aku akan segera menyusul," sahut Adnan.


Setelah Azam pergi, Meyra langsung bicara. "Kita sepertinya harus bersandiwara di hadapan Azam. Sulit menangani kecerewetannya," imbuhnya.


"Iya, aku juga berpikir begitu. Mulai hari ini, kita tidur sekamar!" kata Adnan.


"Apa?!" Meyra terkejut.


"Jangan terlalu percaya diri. Kita tentu tidak akan tidur seranjang!" tukas Adnan ketus. Dia berdiri dari tempat duduk.


"Kau pindahkan saja semua barang-barangmu ke kamarku," suruh Adnan sembari pergi begitu saja.

__ADS_1


Meyra tak bisa berkata-kata. Dia jadi gelisah saat harus tidur satu kamar bersama Adnan. Meskipun begitu, menikah dengan lelaki itu sudah menjadi keputusannya. Sekarang Meyra harus menerima resikonya. Termasuk menghindari munculnya kecurigaan dari orang sekitar. Kontrak pernikahannya memang hanya diketahui oleh dirinya dan Adnan.


Saat waktu luang, Meyra memindahkan barang-barangnya ke kamar Adnan. Ia juga tak lupa membawa kasur kecil untuk ditidurinya nanti.


Untuk sementara kasur itu disembunyikan Meyra di kolong tempat tidur Adnan. Dia tentu tidak mau Azam mengetahui kalau dirinya dan Adnan tidak tidur satu ranjang.


Di sisi lain, Adnan sedang dipusingkan dengan masalah pekerjaan. Ia pusing karena investasi yang dilakukan perusahaannya mengalami krisis. Hari itu Adnan terpaksa lembur. Dia pulang larut malam.


...***...


Waktu sudah menunjukkan jam sebelas malam lewat. Meyra tak bisa tidur karena menunggu Adnan. Sebenarnya sudah lama dirinya menunggu kedatangan lelaki itu. Tepatnya semenjak sore tadi.


Karena tak bisa menahan kantuk, Meyra tertidur di sofa. Ia tidur dalam keadaan terduduk.


Tak lama kemudian Adnan datang. Penglihatannya langsung disambut dengan keberadaan Meyra yang terlelap di sofa.


Namun Adnan tak sengaja menutup pintu dengan kencang. Hingga menimbulkan suara yang cukup nyaring. Meyra sontak terbangun dari tidurnya.

__ADS_1


"Maaf, aku tak sengaja. Lagi pula kenapa kau tidur di sini?" timpal Adnan sembari mendekati Meyra.


"Aku menunggumu," sahut Meyra yang langsung berdiri.


Adnan terkesiap. Entah kenapa jantungnya berdebar mendengar Meyra rela menunggu sampai semalam ini. Wajah Adnan bahkan memerah.


"Ja-jangan salah paham. Aku menunggumu karena kita sepakat mulai hari ini akan tidur sekamar. Kau ingat kan? Aku merasa tidak enak tidur di kamarmu lebih dulu." Meyra buru-buru menjelaskan. Meskipun begitu, dia tak bisa menyembunyikan pipinya yang juga memerah.


"Ah, tentu saja. Maaf, aku lupa. Ini semua karena hari ini aku sangat disibukkan dengan pekerjaanku," tanggap Adnan.


Meyra hanya mengangguk. Suasana hening dalam sesaat. Semuanya mendadak terasa canggung.


"Ya sudah. Ayo kita ke kamar. Kau pasti ingin segera tidur," ajak Adnan. Dia berjalan lebih dulu menuju kamar. Kemudian di iringi oleh Meyra dari belakang.


Setibanya di kamar, suasana kembali terasa canggung. Apalagi saat pintu kamar sudah ditutup.


Meyra berusaha tenang dengan cara menghembuskan nafas dari mulut. Lalu berucap, "Aku menyimpan kasurku di bawah tempat tidurmu. Aku sengaja menyembunyikannya agar Azam tidak curiga."

__ADS_1


"Ide bagus," komentar Adnan. "Tapi ngomong-ngomong, kenapa kita sangat waspada dengan anak kecil seperti Azam?" sambungnya yang baru tersadar.


"Kau benar. Bahkan salah satu alasan kita menikah sekarang juga karena Azam," sahut Meyra. Sependapat dengan Adnan.


__ADS_2