Menikah Karena Anak Tahfiz Qur'An

Menikah Karena Anak Tahfiz Qur'An
Chapter 43 - Ajakan Azam


__ADS_3

Pagi telah tiba. Orang yang pertama kali bangun adalah Meyra. Perempuan itu melebarkan kelopak mata saat menemukan dirinya berada di pelukan Adnan.


Deg!


Jantung Meyra berdegup kencang. Terlebih wajah tampan Adnan tampak begitu dekat dengan wajahnya. Pelukan lelaki itu juga erat dan sulit dilepaskan.


'Kenapa aku sama sekali merasa tidak terancam dengan semua ini?' batin Meyra sembari terpaku menatap Adnan. Perlahan satu tangannya terangkat. Lalu menyentuh wajah Adnan.


Tanpa diduga, Adnan membuka mata. Meyra sontak kaget. Perempuan itu hanya membulatkan mata.


"Apa kau sudah sembuh?" ucap Adnan sembari menempelkan tangan ke dahi Meyra. Saat melakukannya, dia terpaku pada wajah Meyra yang terkena pendar cahaya mentari dari jendela.


"Bagaimana? Aku sudah sembuhkan?" tanya Meyra.


Adnan tak menjawab. Ia justru mematung dalam keadaan terus menatap Meyra. "Kau cantik..." pujinya. Entah dalam keadaan sadar atau tidak. Tetapi pujiannya tersebut sukses membuat jantung Meyra kian memacu lebih cepat.


Perlahan Adnan mendekatkan diri pada Meyra. Kini wajah keduanya sangat dekat. Hanya berhelatkan beberapa inci.

__ADS_1


Adnan tidak tahu kenapa. Tetapi dia merasa tak bisa menahan diri untuk tidak mencium Meyra. Lelaki itu sekarang membidik bibir perempuan yang telah menikah kontrak dengannya tersebut.


Meyra seolah ikut terhipnotis. Dia tetap diam di tempatnya. Saat Adnan hampir mencium bibirnya, terdengar suara tangisan Amena dari luar. Keduanya sontak tidak jadi berciuman. Mereka juga buru-buru saling melepas pelukan.


"Aku akan memeriksa Amena," ujar Meyra sembari beranjak. Wajahnya tampak memerah malu.


Hal serupa juga terjadi pada Adnan. Ia memegangi tengkuknya tanpa alasan. Membiarkan Meyra beranjak dari kamar.


Selama Meyra sibuk mengurus Amena, Adnan berinisiatif merapikan kasur perempuan itu.


Setelah menyelesaikan kesibukan masing-masing, semua orang sarapan bersama di meja makan.


"Iya, Zam?" tanggap Meyra.


"Nanti lusa kalian bisa nggak datang di hari pementasan sekolah? Karena sekarang kalian yang selalu menjagaku dan Amena, maka aku ingin kalian menghadiri acara pementasan sebagai waliku," jelas Azam.


Adnan dan Meyra segera bertukar pandang. Keduanya lantas saling tersenyum. Lalu mengangguk bersamaan sebagai tanda setuju.

__ADS_1


"Tentu saja kami mau, Zam!" ujar Adnan.


"Ya, kami tidak akan melewatkannya," sahut Meyra.


"Alhamdulillah... Aku berharap Om Adnan dan Mbak Meyra menjadi pasangan suami istri yang bahagia di dunia dan akhirat. Aamiin..." ucap Azam. Membuat Adnan yang sedang minum harus tersedak. Meskipun begitu, batuknya tak terlalu parah.


Sementara Meyra terlihat melebarkan kelopak mata. Ia merasa salah tingkah.


"Kalau nanti Mbak Meyra hamil dan aku sudah besar, biar aku nanti yang jagain anaknya," kata Azam bersemangat.


"Azam, sudahlah. A-ayo habiskan makananmu," sergah Meyra. Sengaja merubah topik pembicaraan.


Bel pintu mendadak berbunyi. Bi Yeni segera membukakan pintu. Ternyata orang yang datang ingin menemui Meyra dan Adnan. Bi Yeni langsung memberitahu kabar tersebut pada Adnan dan Meyra.


"Siapa yang datang, Bi?" tanya Adnan.


"Katanya keluarganya Mbak Meyra," jawab Bi Yeni.

__ADS_1


Pupil mata Meyra membesar. Dia tentu kaget mendengar keluarganya datang. Bagaimana bisa mereka tahu dirinya tinggal di sini? Apa tujuan mereka datang ke sini? Bukankah mereka sudah tak mengakui Meyra sebagai keluarga?


Meyra membeku di tempat. Raut wajahnya tampak serius sekali. Adnan yang melihat, jadi cemas.


__ADS_2