Menikah Karena Anak Tahfiz Qur'An

Menikah Karena Anak Tahfiz Qur'An
Chapter 35 - Tidur Sekamar [2]


__ADS_3

"Azam memang anak pintar. Biarpun dia masih kecil tapi berpikirnya seperti orang dewasa," ungkap Adnan. Ia melepas dasinya. Lalu diteruskan dengan kaos kaki dan jas.


Meyra yang melihat, langsung mengalihkan pandangan. "Apa kau gila? Kau mau berganti pakaian di sini?" tanyanya.


Adnan terkekeh. "Tentu saja. Ini kan kamarku," tanggapnya.


"Tapi harusnya kau sadar diri. Ada aku di sini!" timpal Meyra. Dia memejamkan matanya rapat-rapat.


"Aku tahu. Tapi aku yakin, kau tidak akan nekat mengintipku. Jangan melihat. Aku sedang telanjang sekarang," kata Adnan berbohong. Padahal dia hanya melepaskan kemeja. Lelaki itu bertelanjang dada dan masih mengenakan celana pendek.


"Kau gila!" Meyra sekarang menutup matanya dengan tangan. Dia melakukan itu cukup lama. "Apa sudah selesai? Aku mau merapikan kasurku," ucapnya. Akan tetapi tidak ada tanggapan sedikit pun dari Adnan.


"Adnan?" panggil Meyra sambil mengerutkan dahi.


Masih tak ada jawaban dari Adnan. Hanya keheningan yang ada.

__ADS_1


Karena penasaran, Meyra membuka matanya. Perlahan dia memberanikan diri menengok ke arah Adnan tadi berada. Lelaki tersebut sudah menghilang. Meyra lantas mendengus lega.


"Dia pasti masuk ke kamar mandi. Dasar! Sepertinya dia sengaja mengerjaiku," gerutu Meyra seraya merapikan kasurnya. Dia memberikan seprei sebagai alas kasurnya.


Setelah selesai, Meyra merebahkan diri ke kasur yang sengaja diletakkannya berjauhan dari ranjang Adnan. Tepatnya di dekat lemari.


Beberapa menit mencoba untuk tidur, Adnan keluar dari kamar mandi. Dia melangkah mendekati lemari.


"Kau kenapa meletakkan kasurmu di sini? Aku tidak bisa mengambil baju," keluh Adnan.


Buru-buru Meyra menutup matanya rapat-rapat. Bahkan dengan dua tangannya yang menyatu di wajah.


"Apa?! Harusnya aku yang marah. Menyingkirlah dari depan lemari!" tukas Adnan yang tak peduli dengan reaksi Meyra. Ia sama sekali tidak malu.


"Kalau kau mau aku menyingkir, pakailah baju dahulu! Apa Ustadz Wahyu tidak memberitahu kalau manusia itu punya aurat yang harus dijaga? Termasuk lelaki sekali pun!" cetus Meyra. Dia masih menutup matanya serapat mungkin.

__ADS_1


Adnan mendengus kasar. Dia terpaksa berpijak ke kasur Meyra demi bisa mengambil baju di lemari.


"Kau yang lupa, Mey. Kita sudah menikah secara sah. Pasangan suami istri tidak menjaga auratnya saat bersama. Bukankah begitu?" tukas Adnan.


Meyra tertohok. Dia tak bisa berkata-kata lagi. Meyra hanya telentang membelakangi posisi Adnan berada.


"Sekarang aku merasa ragu padamu. Kalau kau bersikap begini, suatu hari bisa saja kau bernafsu untuk menyentuhku," balas Meyra.


"Cih! Bagaimana kalau sebaliknya yang terjadi? Aku yakin mulai hari ini kau akan terus terbayang tubuh atletisku," kata Adnan percaya diri. Dia sudah mengenakan piyama. Lalu beranjak menuju ranjang.


"Itu tidak akan terjadi!" sahut Meyra ketus. Sejak tadi dia tidak sekali pun membuka mata.


"Sekarang sebaiknya kita tidur..." ujar Adnan sambil mengambil obat dari nakas. Keningnya mengernyit saat mengetahui botol obatnya sudah kosong.


"Sialan! Sudah habis," keluh Adnan. Dia melempar botol obat kosong itu ke bak sampah. Adnan kemudian menjatuhkan diri ke ranjang. Ia memejamkan mata dan berusaha untuk tidur.

__ADS_1


Sebenarnya sejak remaja Adnan mengalami gangguan insomnia. Dia terbiasa meminum obat tidur agar bisa tidur saat malam. Adnan akan kesulitan tidur tanpa obatnya.


__ADS_2