Menikah Karena Anak Tahfiz Qur'An

Menikah Karena Anak Tahfiz Qur'An
Chapter 37 - Trauma Meyra


__ADS_3

Dengan hati-hati Adnan turun dari ranjang. Dia tak mau dirinya membangunkan Meyra yang masih terlelap.


Saat baru beranjak dari ranjang, terdengar suara Meyra menguap. Pertanda kalau perempuan itu telah bangun.


Adnan menoleh ke sumber suara. Dia melihat Meyra sudah dalam keadaan posisi duduk.


"Kau sudah bangun?" tanya Meyra.


"I-iya. Bukankah sudah jelas? Ya sudah. Aku mau mandi," tanggap Adnan tergagap karena salah tingkah sendiri. Dia takut Meyra akan membicarakan perihal gangguan tidurnya.


Saat sudah bangun, Meyra merapikan kasurnya. Ia juga tak lupa merapikan tempat tidur milik Adnan.


"Tumben sekali Amena belum bangun jam segini," gumam Meyra. Dia sekalian bersih-bersih di kamar Adnan.


Tak lama kemudian Adnan keluar dari kamar mandi. Jantungnya berdegup kencang saat melihat Meyra. Jujur saja, dia tidak tahu kenapa dirinya bisa merasakan itu.


"Kau masih di sini?" tukas Adnan seraya melangkah mendekati Meyra. Dia sekarang hanya dalam keadaan memakai handuk yang terlilit di pinggang.


Sementara Meyra dalam posisi berdiri membelakangi Adnan. Dia segera mengatakan iya sambil berbalik.


"Astaga, Adnan!" Meyra terkejut melihat Adnan yang bertelanjang dada. Buru-buru dia membalikkan badan dan menutup matanya.

__ADS_1


"Kau berlebihan sekali. Bukankah kemarin kau sudah melihatku begini?" Adnan tersenyum geli. Entah kenapa dia merasa senang menyaksikan reaksi Meyra begitu. Menurutnya itu menggemaskan sekali.


"Kumohon, Ad... Berhentilah muncul dengan penampilan begitu di hadapanku!" tukas Meyra yang masih dalam keadaan menutup mata.


Adnan tersenyum miring. Muncul niat jahil untuk mengerjai Meyra.


"Oke. Aku sudah pakai baju!" ujar Adnan berbohong. Padahal dirinya masih dalam keadaan bertelanjang dada. Diam-diam dia berjalan ke hadapan Meyra.


Mendengar Adnan berucap begitu, Meyra perlahan membuka mata. Pupil matanya membesar saat melihat Adnan ada di hadapannya.


"Adnan! Kau sengaja mengerjaiku bukan!" tukas Meyra seraya berusa menutup matanya.


Adnan sigap menahan kedua tangan Meyra. Hingga tangan perempuan itu tidak bisa menutupi mata. Kini Meyra hanya bisa membuang muka sambil memejam.


Meyra akhirnya menangis. Membuat Adnan sontak khawatir dan melepaskan genggamannya.


"Meyra? Kau menangis? Maafkan aku. Aku tidak bermaksud ingin membuatmu begini," kata Adnan.


"Bilang saja kau puas melihatku begini!" timpal Meyra sembari berjalan cepat keluar kamar. Meninggalkan Adnan dengan perasaan bersalah.


Adnan merutuki dirinya sendiri ketika melihat reaksi Meyra tadi. Ia bergegas mengenakan pakaian.

__ADS_1


'Sepertinya masa lalu itu kelam sekali untuk Meyra. Traumanya cukup parah,' batin Adnan. Dia merasa kasihan dengan Meyra. Dirinya ingin melakukan sesuatu untuk membantu perempuan tersebut.


Adnan segera pergi menemui Meyra. Dia menemukan perempuan itu sibuk membuat sarapan di dapur.


"Meyra," panggil Adnan pelan.


"Ada apa?" sahut Meyra tanpa menoleh.


"Aku minta maaf atas apa yang kulakukan tadi," ungkap Adnan.


"Sebaiknya jangan ulangi perbuatanmu itu," tanggap Meyra ketus.


"Ya, tentu saja." Adnan mengangguk. "Tapi kalau boleh, izinkan aku membantumu," tambahnya.


Meyra akhirnya menatap Adnan. "Membantu apa?" tanyanya tak mengerti.


"Membantumu untuk sembuh dari traumamu. Kau tidak bisa terus menjalani hidupmu jika terus menanggung trauma itu. Apalagi kalau itu terus tiba-tiba muncul di waktu tidak tepat," jelas Adnan.


"Aku--"


"Aku senang melihat kalian berdua terlihat seperti sepasang suami istri sekarang." Dari belakang Azam datang. Ucapan Meyra sontak terpotong.

__ADS_1


Azam tampak sudah mengenakan seragam sekolahnya. Ia tersenyum lebar saat melihat dan mendengar interaksi Adnan dan Meyra.


__ADS_2