
"Itu bukan apa-apa! Meyra hanya menemaniku ke acara pernikahan itu!" jelas Adnan. Melakukan pembelaan.
"Lalu kenapa kalian saling mengaku berpacaran?" timpal Steven. Membuat Adnan seketika tertohok.
"Itu semua karena kami hanya berpura-pura!" ungkap Adnan.
"Tapi bagiku semuanya tak terlihat seperti pura-pura!" tukas Azam yang sudah berhenti menangis.
"Azam!" Meyra mencoba menegur Azam.
"Itu tidak masuk akal. Kenapa kalian mau repot-repot berpura-pura? Jangan bilang kau melakukan itu karena ingin memanas-manasi mantan pacarmu?" Steven kembali menimpali Adnan.
"Aku sudah mengatakan semuanya, Ayah. Sekarang terserah kau mau percaya atau tidak." Adnan beranjak begitu saja. Dia keluar dari rumah dan langsung pergi dengan mobil.
"Adnan!" Steven mencoba mengejar Adnan. Akan tetapi tidak bisa karena Adnan terlanjur pergi dengan mobil.
"Dia selalu begitu!" keluh Steven yang tahu betul sikap sang putra.
__ADS_1
"Tenanglah... Aku rasa sebaiknya kita pergi saja." Naura menenangkan sambil mengelus pundak Steven dengan lembut.
Steven memang sudah lama menantikan Adnan memiliki pendamping. Dia juga ingin lelaki itu menganut sebuah kepercayaan dan menikah. Persis seperti dirinya. Steven takut nanti suatu hari Adnan akan kesulitan dan kesepian.
Sementara Steven dan Naura pamit pulang, Meyra dan Azam berdiri di ambang pintu. Keduanya sama-sama memikirkan Adnan. Mereka tak pernah melihat Adnan semarah itu.
"Menurutmu Om Adnan kemana?" tanya Azam.
"Dia mungkin pergi bekerja atau pergi ke tempat yang bisa menenangkannya," jawab Meyra. Dia berjongkok ke hadapan Azam.
"Zam, aku harap kau berhenti terus berusaha menyatukanku dan Om Adnan. Sungguh, hubungan kami hanya sebatas teman. Aku akan pergi setelah Amena tidak membutuhkan susu lagi dariku," tutur Meyra. Ingin membuat Adnan mengerti.
"Tidak apa-apa." Meyra mengusap puncak kepala Adnan. Ia segera mengajak anak itu untuk menyiapkan makan malam di dapur.
Di waktu yang sama, Adnan sedang mengendarai mobil. Dia mengemudi dengan penuh amarah. Sesekali Adnan mengusap kasar wajahnya. Entah kenapa seharian ini dirinya merasa sangat kesal.
"Hidupku bahagia meski sendirian! Aku benar-benar tidak suka di atur-atur!" gerutu Adnan yang tak suka dengan penekanan ayahnya.
__ADS_1
Adnan menghentikan mobil ke sebuah bar. Di sana dia menikmati alkohol sendirian. Adnan berharap alkohol itu bisa melupakan masalahnya sejenak.
Adnan berakhir sangat mabuk. Meskipun begitu, kesadarannya masih bisa terkontrol. Dia mengambil ponsel dan menelepon seseorang.
"Halo?" Meyra menjawab dari seberang telepon.
"Hei! Apa ayahku sudah pergi?..." tanya Adnan dengan nada bicara mabuknya.
"Ya, dia langsung pergi setelah kau pergi." Meyra berhenti bicara sejenak dan meneruskan, "tunggu dulu. Apa kau mabuk?"
"Apa itu terdengar jelas? Aku rasa aku tidak bisa pulang dalam keadaan begini... Jagalah Azam dan Amena untukku ya..." ujar Adnan.
"Adnan! Kau--" ucapan Meyra terpotong saat Adnan mematikan telepon lebih dulu. Dia membuka pesan Steven yang sejak tadi sengaja tidak dibaca.
'Sadarlah, Adnan. Kau harus mulai serius dengan hidupmu. Kau harus pilih salah satu kepercayaan untuk dirimu sendiri. Aku hanya tidak ingin kau sepertiku dulu. Memiliki pendamping tanpa ikatan pernikahan itu sulit. Aku juga tidak mau kau kesepian.' Begitulah pesan dari Steven. Membuat Adnan langsung mendecakkan lidah.
"Kesepian? Aku tidak kesepian?" Adnan mengedarkan pandangan ke sekitar. Sampai atensinya tertuju pada gadis cantik dengan dress ketat sepangkal paha.
__ADS_1
Begitulah Adnan saat mendapat masalah. Baik itu masalah kecil atau pun besar. Mengingat sosok Ehsan yang selalu menjadi pendamping terbaiknya telah tiada.