Menikah Karena Anak Tahfiz Qur'An

Menikah Karena Anak Tahfiz Qur'An
Chapter 8 - Pindah


__ADS_3

"Kau membuatku tak punya pilihan!" tukas Meyra dengan perasaan benci. Dia tentu merasa dipaksa menerima tawaran Adnan.


"Ya, memang seharusnya begitu. Toh kau tidak punya keluarga bukan? Jadi tidak ada yang perlu kau khawatirkan," kata Adnan. "Bersiaplah saat sudah pulih. Sekretarisku akan menjagamu di sini. Aku akan biarkan Amena tinggal bersamamu sampai kau membaik," lanjutnya sembari beranjak pergi.


Meyra mendengus kasar. Dia menatap tajam sampai Adnan menghilang ditelan pintu.


"Sekarang apa lagi masalah yang harus kuhadapi," keluh Meyra seraya merebahkan diri ke ke kasur.


Di sisi lain, Adnan membawa Azam pulang ke rumah. Supaya anak tersebut bisa beristirahat dengan tenang serta melepas kepergian orang tuanya untuk terakhir kali.


Rumah Adnan terbilang mewah. Namun ukurannya tidak terlalu besar. Mengingat Adnan hanya tinggal seorang diri di sana. Meskipun begitu, rumah Adnan memiliki cukup kamar untuk menampung tiga orang yang akan tinggal. Tak terkecuali untuk Meyra sendiri.


Kini Azam tengah berada di kamar. Ia masih dalam keadaan tertidur. Anak tersebut terbangun ketika pagi tiba.


Azam langsung bingung. Itu karena dia merasa asing dengan tempat dimana dirinya berada sekarang.


"Amena?" sosok pertama yang di ingat Azam adalah Amena. Dia berulang kali memanggil sang adik. Lalu keluar dari kamar.

__ADS_1


Kala melangkah ke ruang tengah, Azam melihat sekumpulan orang yang duduk mengelilingi jasad ayah dan ibunya.


Melihat kemunculan Azam, Adnan bergegas mendekat. Dia segera mengatakan semuanya pada anak itu.


"Apa itu abi dan umiku?" tanya Azam sambil menatap dua jasad yang sedang ditutupi dengan kain batik tersebut.


Adnan mengangguk. "Kau boleh memeluk mereka untuk terakhir kalinya," tuturnya.


"Lalu Amena?" Azam menuntut jawaban.


"Amena masih ada di rumah sakit. Aku tidak mau dia kehausan lagi. Jadi aku biarkan Amena tinggal bersama ibu susunya sekarang," jelas Adnan.


Adnan menyusul Azam. Ia duduk ke sebelah anak tersebut. Saat itulah dirinya dapat mendengar jelas doa yang dibaca Azam. Yaitu surah Yasin. Seketika Adnan berdecak kagum. Bagaimana tidak? Azam membaca doa itu tanpa melihat ke buku.


Di sana bukan saja Adnan yang kagum, tetapi para lelaki dewasa di sekitar Azam. Mengingat semua dari mereka masih melihat buku saat membaca doa serupa dengan Azam.


Dalam sekejap sosok Azam menjadi pusat perhatian. Melihat bagaimana jenius dan baiknya anak itu, semua orang jadi memberikan doa terbaik dalam hati. Termasuk Adnan sendiri.

__ADS_1


'Azam benar-benar anak yang luar biasa. Aku yakin Ehsan dan Naomi pasti bahagia di alam sana karena Azam,' batin Adnan dengan binaran mata penuh kekaguman.


Pemakaman Ehsan dan Naomi berjalan lancar hari itu. Selama menunggu Meyra pulih, Adnan membantu Azam berkemas untuk pindah ke rumahnya.


Setelah selesai, barulah Adnan dan Azam pergi ke rumah sakit. Mereka menemui Meyra bersama-sama.


"Bagaimana keadaanmu? Sudah lebih baik?" tanya Adnan. Sengaja memamerkan sikap perhatian.


"Lumayan." Meyra menjawab sambil tersenyum singkat. Dia sebenarnya benci Adnan. Mengingat kesan pertama yang ditunjukkan lelaki itu buruk.


Sebenarnya saat Adnan tidak ada, Meyra mencoba memikirkan cara untuk tidak kalah. Jujur saja, Meyra bukanlah perempuan lemah yang mudah ditindas. Dia akan melakukan apapun agar seseorang tidak bisa mengendalikan dan meremehkannya. Mungkin itulah salah satu alasan Meyra rela meninggalkan segalanya. Termasuk keluarganya sendiri.


"Om, apa dia wanita yang sering kau bicarakan dengan abiku?" tanya Azam. Membuat mata Adnan sontak membulat.


"Azam, apa maksudmu? Om nggak mengerti," tanggap Adnan.


"Itu loh, wanita yang Om bilang sangat kau cintai. Om juga berniat ingin segera menikahinya," jelas Azam.

__ADS_1


"Ti-tidak, Zam. Kau bicara apa?" Adnan dibuat semakin panik. Sebab dia memang memiliki seorang wanita yang dicintai. Namun sayangnya wanita itu berkhianat darinya.


Wanita yang dicintai Adnan bernama Riana. Dia diketahui hamil di luar nikah bukan karena Adnan. Melainkan karena lelaki lain. Itulah alasan Adnan tidak menikahi Riana. Sekarang bahkan lelaki tersebut tidak pernah membicarakan tentang Riana lagi.


__ADS_2