Menikah Karena Anak Tahfiz Qur'An

Menikah Karena Anak Tahfiz Qur'An
Chapter 9 - Tinggal Satu Atap


__ADS_3

Azam seketika terdiam. Dia mencoba memahami keadaan. Dirinya berpikir, mungkin Adnan dan Meyra sedang berselisih. Jadi untuk sekarang Azam akan memilih diam saja.


"Maaf, Om. Lupakan saja," kata Azam. Tak ingin memperpanjang pembicaraan. Dia mengetahui permasalahan Adnan karena sering mendengar lelaki itu bicara dengan ayahnya. Beberapa kali Azam mendengar Adnan menceritakan perempuan hamil yang begitu dicintainya. Makanya tidak heran Azam mengira wanita itu adalah Meyra.


Adnan mengangguk. Dia merasa lega Azam berhenti membicarakan masalah asmaranya yang gagal.


'Anak ini pasti tahu karena tidak sengaja menguping pembicaraanku dengan Ehsan,' batin Adnan menduga. Ia segera menoleh ke arah Meyra. Perempuan itu kebetulan juga sedang menatapnya.


"Ya sudah, Om. Aku mau pergi lihat Amena dulu." Azam pamit sebentar untuk menemui adiknya.


Kini hanya Adnan dan Meyra berduaan di dalam ruangan. Suasana terasa begitu serius.


"Kalau aku menjadi ibu susu Amena, apa aku juga harus tinggal bersamamu?" tukas Meyra.


"Tentu saja. Meski pun aku membiarkanmu menjaga dan menyusui Amena, bukan berarti aku mempercayaimu sepenuhnya," balas Adnan. Melipat kedua tangannya di depan dada.


"Kenapa kau tidak menikah saja dengan pacarmu?" timpal Meyra. Membicarakan wanita yang tadi disinggung oleh Azam.


"Pacar?" Adnan mengernyitkan kening.

__ADS_1


"Ya, pacar. Wanita hamil yang tadi dibicarakan Azam," jelas Meyra.


"Azam salah paham. Aku bahkan tidak tahu siapa orang yang dia bicarakan." Adnan menepis tegas.


"Benarkah? Jadi itu salah satu alasan kau memilihku?"


"Kau kebetulan adalah orang yang aku tolong. Anehnya juga kau kebetulan kehilangan bayimu setelah melahirkan. Kau dan Amena sepertinya sudah saling ditakdirkan untuk terhubung," tanggap Adnan.


Meyra membisu. Dia berpikir Adnan ada benarnya. Mengingat segalanya terasa seperti kebetulan yang pas sekali. Seolah-olah Tuhan sudah jauh-jauh hari menulis semua skenario ini.


"Jadi kau sepakat bekerjasama denganku?" Adnan mengulurkan tangannya pada Meyra.


"Kau tenang saja. Aku bahkan akan membayar seluruh biaya rumah sakitmu. Masalah uang adalah hal kecil bagiku," sahut Adnan seraya memperbaiki dasinya. Berlagak seperti sedang tebar pesona. Kemudian beranjak keluar ruangan.


Meyra hanya geleng-geleng kepala menyaksikan lagak sombong Adnan. Memang dia tak bisa menampik betapa rupawannya sosok lelaki tersebut. Tetapi bagi perempuan mandiri seperti Meyra, dirinya sekarang sama sekali tidak tertarik dekat dengan lelaki manapun. Termasuk Adnan yang memiliki kesan menyebalkan.


...***...


Beberapa hari berlalu. Meyra akhirnya telah pulih. Sebelum ke rumah Adnan, dia pulang ke tempat kontrakannya terlebih dahulu. Sebab Meyra perlu mengambil barang-barang pribadi yang masih ada di sana.

__ADS_1


Bersamaan dengan itu, ponsel Meyra berdering. Dia menerima panggilan dari Adnan. Tanpa pikir panjang, Meyra angkat panggilan tersebut. Langsung terdengar suara tangisan bayi menangis dari seberang sana.


"Kau kemana saja? Kenapa lama sekali? Amena bangun dan sepertinya kehausan!" omel Adnan yang terdengar panik.


"Aku sedang di rumah kontrakan untuk mengambil barang-barang. Aku akan--"


"Apa?! Mengambil barang? Bisa-bisanya kau meluangkan waktu untuk hal tak berguna! Kau bisa mendapatkan yang kau inginkan saat tinggal di rumahku. Lagi pula aku tidak suka ada orang yang membawa barang-barang butut ke rumahku! Cepat ke sini!" potong Adnan.


"Tapi--" perkataan Meyra lagi-lagi terputus. Sebab Adnan menutup panggilan lebih dulu. Setelah itu, dia bergegas pergi.


Sesampainya di rumah Adnan, Meyra langsung berlari keluar dari mobil. Kedatangannya disambut oleh tangisan Amena. Tanpa basa-basi, Meyra berlari mencari sumber suara.


Amena ternyata ada di kamar. Dia digendong oleh Yeni yang merupakan pembantu rumah tangga di kediaman Adnan. Sementara di sebelahnya, ada Adnan yang memarahi Meyra dengan pelototan.


"Sini biar aku saja," ujar Meyra yang mengambil alih untuk menggendong Amena. Lalu membuka kancing bajunya satu per satu.


Wajah Adnan memerah padam. Buru-buru dia beranjak dari hadapan Meyra. Nyaris saja Adnan melihat hal yang tidak seharusnya dirinya lihat.


Sementara itu, Meyra tak peduli. Dia lebih memperdulikan Amena. Sekarang dirinya fokus menyusui bayi itu. Amena seketika diam dan meminum susu dengan lahap.

__ADS_1


__ADS_2