
Adnan mengangguk. Dia memutuskan untuk tidak bertanya lagi. Adnan dan Meyra kembali fokus menuliskan syarat-syarat pernikahan kontrak yang akan mereka jalani.
"Menurutku ini adalah hal terpenting. Tidak saling menyentuh satu sama lain. Maksudku kita tidak melakukan hubungan suami istri pada umumnya," imbuh Meyra.
"Bukankah itu sudah jelas? Kau pikir aku berminat menyentuhmu?" tukas Adnan.
"Aku hanya berjaga-jaga. Karena manusia sering membuat kesalahan bukan?" tanggap Meyra.
"Terserah kau. Aku hanya mengungkapkan yang kurasakan. Tidak akan ada yang terjadi di antara kita," ungkap Adnan tak acuh. Sekian menit kemudian, dia dan Meyra selesai membuat daftar kontrak mereka.
"Selanjutnya, aku akan membiarkan sekretarisku mengurusnya. Pernikahan kita akan segera dilakukan secepatnya," ujar Adnan.
__ADS_1
Meyra mengangguk. Suasana hening sejenak. Meyra dan Adnan kembali fokus menulis di atas kertas mereka masing-masing. Saat itu Meyra tiba-tiba terpikirkan sesuatu.
"Ah, benar. Kau athies bukan? Kau tidak bisa menikah kalau tidak punya agama," cetus Meyra.
"Kau tidak perlu cemas. Aku sudah memikirkan sejak lama mengenai agama yang ingin kumasuki." Adnan menjeda ucapannya sejenak. "Dan sepertinya aku butuh bantuanmu," sambungnya.
"Bantuanku?" Meyra terheran. Ia menunjuk ke arah dadanya sendiri.
"Ya, karena aku ingin masuk islam. Sebagai orang islam kau pasti tahu caranya bukan?" tukas Adnan.
Adnan terdiam karena berpikir. Sampai dia terpikir ustadz yang selama ini menjadi pembimbing Azam untuk menghafal Qur'an. Nama ustadz itu adalah Wahyu.
__ADS_1
"Ya. Aku rasa aku tahu," kata Adnan. "Aku akan meneleponnya," lanjutnya seraya merogoh saku celana. Adnan mengambil ponsel dari sana. Ia segera beranjak dari hadapan Meyra.
Usai menghubungi Ustadz Wahyu, Adnan kembali duduk ke hadapan Meyra. Dia memberitahu kalau Ustadz Wahyu akan datang nanti malam. Beliau juga akan sekaligus mengajari Azam.
"Senang bekerja sama denganmu. Sebenarnya aku beruntung bisa bertemu denganmu di rumah sakit. Aku harap kau teman yang bisa dipercaya." Meyra mengulurkan tangan ke arah Adnan.
"Aku juga. Sepertinya kita memang ditakdirkan untuk saling membantu. Kau bisa mempercayaiku." Adnan menyambut tangan Meyra. Keduanya saling bersalaman. Setelah itu mereka berpisah. Meyra menjadi orang yang lebih dulu beranjak dari balkon.
Ketika waktu menunjukkan jam tujuh malam, Ustadz Wahyu datang. Sebelum bicara dengan Adnan, dia mengajari Azam mengaji terlebih dahulu. Sekarang Ustadz Wahyu dan Azam sedang ada di ruang tengah. Suara Azam yang merdu saat membaca lantunan ayat suci Al-Qur'an, memecah kesunyian malam.
Meyra yang sibuk membuat gorengan dan minuman di dapur, sangat kagum mendengar suara Azam. Bagaimana hebatnya Azam melantunkan ayat suci Al-Qur'an membuat Meyra melamun. Hatinya seolah dibuat bergetar akan hal itu.
__ADS_1
Meyra memegangi jilbab yang dipakainya sekarang. Dia merasa harus mengenakannya karena keberadaan Ustadz Wahyu. Jilbab yang dikenakan Meyra sendiri adalah pemberian Azam tempo hari.
Di sisi lain, hal serupa juga dirasakan Adnan. Ia juga termangu saat mendengar Azam mengaji. Apalagi sejak tadi Adnan duduk di sofa ruang tengah. Posisinya tidak begitu jauh dari Azam dan Ustadz Wahyu.