
"Um... Kami--"
"Ya, kami belum pernah melakukannya. Aku harap dengan membawa Meyra ke sini, dia jadi lebih berani," kata Adnan. Membuat ucapan Meyra sontak terpotong. Perempuan itu terbelalak mendengar pengakuan Adnan.
Kaki Meyra lekas menyenggol kaki Adnan. Wajahnya memerah malu. "Apa yang kau lakukan?" bisiknya. Menimpali Adnan.
"Kita benar-benar suami istri kan? Apa salahnya mengakuinya?" sahut Adnan. Dia tersenyum canggung saat melihat Tina memperhatikannya dan Meyra.
Sesi konsultasi segera dilanjutkan. Meyra mendapatkan beberapa pertanyaan. Perempuan tersebut juga menceritakan bagaimana masa lalunya.
Semuanya berawal saat Meyra bergaul dengan teman-teman yang salah. Akibat salah pergaulan, dia diperkosa oleh temannya sendiri sampai hamil.
Kehamilan yang menimpa Meyra membuat semua keluarganya marah. Apalagi saat mengetahui lelaki yang menghamili Meyra kabur dan tak mau bertanggung jawab.
"Keluargaku adalah orang-orang yang sangat menjunjung tinggi kehormatan. Karena tak bisa menemukan lelaki yang bersedia menikahiku, mereka menyarankanku untuk aborsi. Tapi aku menolak! Alhasil aku di usir dari rumah dan tidak dianggap keluarga lagi," ungkap Meyra bercerita. Matanya berkaca-kaca karena berusaha menahan tangis.
"Meyra, menangislah jika ingin menangis. Itu bisa membuat perasaanmu jadi lebih baik," ujar Tina yang berempati.
__ADS_1
Di sebelah Meyra, Adnan juga berempati. Dia segera merangkul Meyra. Berusaha menenangkan perempuan itu.
"Menangislah. Jangan malu padaku ataupun Dokter Tina," kata Adnan sambil mengelus pundak Meyra lembut.
Meyra akhirnya memecahkan tangis. Rasa sakit masa lalunya kembali menusuk hati. Apalagi saat dirinya mengingat bayi yang diperjuangkannya sudah meninggal.
"Aku semakin sedih... Saat bayiku tak selamat pasca melahirkan," ungkap Meyra.
"Percayalah semuanya baik-baik saja. Yang terpenting kau punya seseorang di sisimu sekarang. Orang yang menerimamu apa adanya. Dialah suamimu! Kau harus bersyukur bisa melewati semua itu sampai bisa bertemu dengannya," tutur Tina. Sebagai dokter, memang tugasnya memberikan pengaruh positif terhadap pemikiran pasien.
Adnan membalas tatapan Meyra. Dia juga merasa jantungnya berdebar-debar. Adnan semakin dibuat gelisah ketika melihat Meyra mengembangkan senyuman.
"Terima kasih..." ungkap Meyra.
Adnan mengangguk dan meliarkan bola mata. Dia jadi salah tingkah.
"Adnan juga membuatku bertemu bayi dan seorang anak, Dok. Bayi itu namanya Amena. Bagiku dia sudah seperti anak sendiri," imbuh Meyra.
__ADS_1
"Benarkah? Itu bagus. Mungkin begitulah cara Tuhan membalas semua kesabaranmu," tutur Tina.
Meyra mengangguk. Dia merasa lebih lega setelah menceritakan semua masalahnya.
"Mengenai trauma. Aku rasa suamimu bisa menjadi penyembuhnya," kata Tina.
Dahi Meyra dan Adnan sontak berkerut. Mereka saling bertukar pandang karena tak mengerti.
"Maksudnya, Dok?" Meyra lantas menuntut penjelasan.
"Karena dia adalah suami sahmu, maka dia juga berwenang menyentuhmu. Kau bisa melakukan hubungan intim jika semuanya di awali dengan sentuhan kecil. Seperti pelukan dan ciuman misalnya," saran Tina. Menjelaskan panjang lebar.
"Pe-pelukan dan ciuman?" mata Meyra membulat. Begitu pun Adnan. Wajah keduanya lagi-lagi memerah padam bak tomat matang.
"Iya. Setelah itu, aku rasa sentuhan lebih jauh akan berhasil!" ujar Tina yang tak tahu sama sekali kalau pasutri di hadapannya menikah karena kontrak.
Adnan dan Meyra hanya terdiam. Mereka bingung harus bagaimana menanggapi saran dari Tina.
__ADS_1