
Meyra membiarkan Adnan membasuh tangannya di wastafel. Saat itu Meyra terpaku menatap Adnan. Ia tak pernah diperlakukan begitu lembut oleh seorang lelaki.
"Aku akan mengambil salep untuk mengobati tanganmu," ujar Adnan.
"Ini hanya luka bakar kecil. Bukan apa-apa." Meyra mencoba menolak.
Adnan tak peduli dengan penolakan Meyra. Dia tetap mengambilkan salep untuk mengobati luka bakar Meyra. Adnan bahkan mengoleskan obat tersebut untuk perempuan itu. Namun sekali lagi Meyra mencoba menolak.
"Serahkan padaku. Aku bisa mengobatinya sendiri," kata Meyra.
"Sudah! Kau sebaiknya diam saja. Oke?" Adnan menolak. Dia bersikeras mengobati tangan Meyra. Perempuan itu lantas tak punya pilihan selain membiarkan.
Perlakuan Adnan terasa tulus bagi Meyra. Sehingga dirinya merasa mulai nyaman.
Karena insiden luka bakar, Adnan menyuruh pembantu untuk memasak. Makan malam saat itu dilakukan bersama-sama seperti biasa.
Ketika Amena tertidur, Meyra pergi ke kamar. Dia beberapa kali menguap karena merasa mengantuk.
__ADS_1
Sesampainya di kamar, Meyra mengerutkan dahi heran. Sebab dia tidak menemukan kasurnya di lantai.
"Mencari kasurmu?" tanya Adnan yang baru keluar kamar mandi.
"Ya. Tentu saja," sahut Meyra.
"Aku sengaja menyingkirkannya. Mulai sekarang aku tidak akan membiarkanmu tidur di lantai hanya dengan kasur," balas Adnan.
"Kenapa? Itu sama sekali tidak masalah bagiku!" protes Meyra yang masih tak mengerti.
"Tidak adil jika kau tidur di bawah. Kau bisa tidur bersamaku di ranjang. Lagi pula kita sudah dua kali melakukannya. Dan tidak ada yang terjadi di antara kita. Kau bisa mempercayaiku," jelas Adnan panjang lebar.
"Kenapa kau berkata begitu? Tentu saja tidak!" Adnan membantah. Dia segera lebih dulu menjatuhkan diri ke ranjang. "Ayo kita tidur! Sudah larut malam. Aku akan telentang membelakangimu," sambungnya.
Meyra membeku di tempat. Dia masih berpikir. Namun setelah dipikir-pikir perkataan Adnan memang benar. Tidak masalah jika dirinya hanya tidur saja di ranjang yang sama.
Dengan penuh keraguan, Meyra naik ke ranjang. Lalu telentang ke sebelah Adnan. Dia dan Adnan dalam posisi saling membelakangi.
__ADS_1
Tanpa terasa, Meyra jatuh ke dalam lelap. Akan tetapi tidak untuk Adnan. Lelaki tersebut masih terjaga.
Adnan merasakan debaran aneh di jantungnya. Itu semakin terasa saat dirinya menyentuh tangan Meyra tadi sore. Apalagi ketika menyadari perempuan tersebut terpaku menatapnya.
'Apa aku jatuh cinta pada istri kontrakku?' batin Adnan. Karena pernah jatuh cinta, dia tahu betul bagaimana perasaannya.
Adnan perlahan membalikkan badan menghadap Meyra. Ia sedikit kaget saat menyaksikan perempuan tersebut dalam posisi sudah menghadap ke arahnya. Wajah mereka nyaris saja bersentuhan. Jantung Adnan jadi berdetak tidak karuan.
Mata Adnan membulat. Tetapi itu berakhir saat dia memperhatikan wajah cantik Meyra.
Tanpa diduga, Meyra membuka matanya. Dia dan Adnan otomatis saling bertukar pandang.
Waktu seolah berhenti. Jantung Meyra ikut berdegup kencang seperti yang dirasakan Adnan.
Perlahan Adnan memberanikan diri untuk mendekat. Ia membidik bibir ranum Meyra.
Meyra saat itu hanya diam. Seolah dia tidak masalah dengan apa yang dilakukan Adnan. Malam itu keduanya berciuman untuk kali pertama.
__ADS_1
Usai berciuman, Meyra mendorong Adnan dengan pelan. Lalu membuang muka. Jujur saja, wajahnya dan Adnan sama-sama memerah.
Meyra merasa nafasnya menderu dengan cepat. Dia tidak tahu kenapa dirinya membiarkan Adnan menciumnya.