
"Adnan..." lirih Meyra sembari menundukkan kepala. Wajahnya dan Adnan sama-sama memerah.
"Hati-hatilah. Kau tadi hampir jatuh." Adnan segera melepaskan pelukannya. Mempersilahkan Meyra untuk berjalan lebih dulu. Perempuan itu lantas menurut saja. Meyra langsung merebahkan diri ke kasur saat sudah tiba di kamar.
"Kau sepertinya demam. Lebih baik kau tidur di ranjang," saran Adnan.
"Aku baik-baik saja di bawah..." sahut Meyra yang sudah menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Dasar keras kepala," komentar Adnan. Dia segera membersihka diri ke kamar mandi.
Sementara itu, Meyra terlihat menggigil. Bibirnya juga sangat pucat. Dia benar-benar merasa tubuhnya tidak enak.
Tak lama kemudian Adnan keluar dari kamar mandi. Dia mengenakan pakaian dan memeriksa keadaan Meyra sebelum dirinya tidur.
"Astaga! Panasnya semakin tinggi," kata Adnan saat mengecek suhu tubuh Meyra. Dia menurunkan suhu pendingin ruangan. Lalu mencoba menggendong Meyra. Adnan berniat memindahkan perempuan tersebut ke ranjang.
__ADS_1
"Adnan... Aku bilang tidak usah..." ujar Meyra. Dalam keadaan mata terpejam.
"Diamlah!" suruh Adnan. Dia tak peduli dengan penolakan Meyra. Lelaki itu tetap memindahkan Meyra ke ranjang.
Setelah Meyra sudah dipindahkan, Adnan beranjak sebentar untuk mengambilkan air putih dan obat demam.
"Minumlah dulu," ucap Adnan seraya membantu Meyra merubah posisi menjadi duduk. Perempuan itu lantas segera meminum obat yang dibawakan Adnan.
Usai minum obat, Meyra tetap duduk. Dia membeku di tempat dan tak kunjung kembali telentang.
Adnan mengernyitkan kening. Ia bertanya, "Ada apa? Kau baik-baik saja kan? Apa obat yang kubawa salah?" Adnan buru-buru memeriksa bungkus obat yang diminum Meyra. Takut kalau obatnya salah atau sudah kadaluwarsa.
Bersamaan dengan itu, Meyra tiba-tiba terisak. Air matanya seketika berderai.
"Meyra!" Adnan sontak khawatir. Dia duduk lebih dekat dengan Meyra.
__ADS_1
"Maaf sudah merepotkanku. Sepertinya aku hidup hanya untuk merepotkan semua orang," ungkap Meyra. Di sela-sela tangisannya.
"Tidak. Jangan berucap begitu," kata Adnan. Mencoba menenangkan.
"Semuanya terbukti dari keluargaku yang sudah tak mau mengakuiku. Bagi mereka aku hanyalah beban," ungkap Meyra.
"Tidak!" Adnan menggeleng. Dia tak mau Meyra berpikiran begitu. "Mereka hanya tak mengerti bagaimana perasaanmu. Setiap manusia itu pasti melakukan kesalahan. Apa yang dilakukan keluargamu kepadamu itu adalah kesalahan besar! Mereka tak sepantasnya memperlakukanmu begitu," tuturnya.
"Tapi begitulah yang terjadi... Mereka semua membenciku. Lihat saja tempo hari saat kita bertemu dengan kakakku. Mereka sangat bahagia tanpa adanya diriku." Tangisan Meyra semakin menjadi-jadi. Ia menjadi emosional karena merasa tidak enak sudah melihat Adnan yang kerepotan akibat dirinya.
"Meyra..." Adnan perlahan merangkul Meyra.
"Maafkan aku... Harusnya kau tidak memilihku menjadi ibu susunya Amena..." isak Meyra.
"Sudahlah... Aku sama sekali tidak kesulitan karenamu." Secara alami rangkulan Adnan berubah menjadi pelukan hangat. Meyra bahkan membalas pelukannya. Entah kenapa Meyra merasa lebih baik saat mendapat pelukan Adnan.
__ADS_1
"Kau wanita terkuat yang pernah kutemui. Aku justru beruntung mengenalmu..." ungkap Adnan tulus. "Jika aku mendapat masalah hidup sepertimu, aku mungkin tak bisa bertahan," sambungnya sembari membawa Meyra kembali telentang. Meskipun begitu, pelukan mereka belum terlepas. Sepertinya baik Adnan maupun Meyra, merasa nyaman dengan pelukan tersebut.
Karena perlakuan lembut Adnan, tangisan Meyra perlahan terhenti. Tanpa sadar perempuan itu mulai diserang kantuk. Dia akhirnya tertidur bersama Adnan. Untuk pertama kalinya mereka tidur di ranjang yang sama. Bahkan dalam keadaan saling berpelukan.