Menikah Karena Anak Tahfiz Qur'An

Menikah Karena Anak Tahfiz Qur'An
Chapter 51 - Niat Belajar Bersama


__ADS_3

Setelah sekian lama, akhirnya Adnan sadar. Penglihatannya langsung disambut oleh kehadiran Meyra. Perempuan itu tampak terlelap di sebelahnya dalam keadaan duduk.


Adnan tersenyum tenang. Perlahan bola matanya bergerak untuk melihat jam dinding. Waktu sudah menunjukkan jam satu malam. Pantas saja Meyra tertidur. Perempuan tersebut sepertinya kelelahan.


Perlahan Adnan merubah posisi menjadi duduk. Ia lalu membelai puncak kepala Meyra dengan pelan.


Sentuhan Adnan membuat Meyra terbangun. Perempuan itu langsung duduk tegak dalam keadaan mata yang membulat.


"Adnan! Kau sudah sadar," ujar Meyra yang merasa lega bisa melihat Adnan sehat lagi.


"Bukankah sudah jelas kalau aku bangun?" tanggap Adnan. Tak bisa menahan senyuman.


Meyra memukul pelan pundak Adnan. "Dasar! Di saat begini kau masih saja sempat bercanda," tukasnya.


"Aduh! Sakit sekali.... Kenapa kau memukulku? Bukankah harusnya aku mendapatkan ucapan terima kasih," ucap Adnan berpura-pura sakit. Dia tentu ingat alasan dirinya kecelakaan karena menyelamatkan Meyra. Tetapi Adnan sama sekali tidak masalah dengan hal itu. Perasaannya terhadap Meyra benar-benar tulus.


Meyra tersenyum tipis sembari menundukkan kepala. Dia segera berkata, "Iya... Terima kasih... Kau seharusnya tidak melakukan itu untuk menolongku."


"Apakah aku salah mencoba melindungi istriku sendiri?" tukas Adnan dengan tatapan menggoda. Karena jatuh cinta, melihat Meyra ada di sisinya sudah membuat hati bahagia.

__ADS_1


"Adnan!" seru Meyra yang merasa malu.


"Apa kau masih menganggap perasaanku main-main?" tanya Adnan.


Meyra membisu sejenak. Saat menunggu Adnan sadar, dia sudah memikirkan tentang keseriusan lelaki tersebut.


"Tidak," ungkap Meyra sambil menggeleng. "Bagaimana aku masih bisa ragu saat melihat kau begini?" lanjutnya.


Meyra menatap Adnan dengan lekat. Begitu pun sebaliknya.


Adnan perlahan meraih salah satu tangan Meyra. Kemudian menggenggamnya.


"Ya, aku rasa begitu. Kau tidak tahu betapa takutnya aku saat melihatmu terluka. Aku tidak mau melihatmu celaka lagi, Ad..." ungkap Meyra bersungguh-sungguh.


"Mas! Panggil aku Mas Adnan mulai sekarang," usul Adnan dengan senyuman lebar.


"Apa-apaan itu!" Meyra terkekeh malu. Dia membuang muka sejenak karena berusaha menyembunyikan rona merah. "Aku rasa itu terlalu cepat," tambahnya.


"Kata Pak Ustadz, suami istri itu tidak boleh saling memanggil nama. Lebih baik punya panggilan mesra satu sama lain," imbuh Adnan.

__ADS_1


"Kau ini. Seperti sudah mengerti agama saja," komentar Meyra. Perkataannya itu sontak membuat Adnan terdiam. Suasana mendadak menjadi hening.


Adnan hanya merasa tersindir dengan perkataan Meyra. Sebagai mualaf, dia masih merasa belum maksimal belajar tentang islam.


"Kenapa? Apa kau tersinggung dengan perkataanku?" tanya Meyra cemas.


"Tidak. Apa yang kau katakan benar kok," kata Adnan datar.


"Lihat! Jelas kau tersinggung dengan perkataanku. Maaf kalau begitu."


"Aku tidak tersinggung. Aku hanya sadar diri kalau diriku ini masih hanya umat beragama di KTP saja." Adnan tersenyum kecut.


"Bukan hanya kau yang berpikir begitu. Tapi aku juga," ujar Meyra.


"Kau? Bukankah kau islam sejak lahir?" Adnan heran.


"Ya, memang begitu. Tapi aku bukanlah umat yang taat. Setelah melihat keajaiban hari ini, aku sadar semuanya terjadi bukan karena kebetulan. Tapi doa yang terkabul. Hatiku tersentuh saat melakukan sholat setelah sekian lama," jelas Meyra panjang lebar. "Aku juga tergerak ingin mengenakan jilbab," sambungnya.


"Kalau begitu, ayo kita belajar bersama!" ajak Adnan yang langsung direspon Meyra dengan anggukan kepala.

__ADS_1


__ADS_2