Menikah Karena Anak Tahfiz Qur'An

Menikah Karena Anak Tahfiz Qur'An
Chapter 13 - Rencana Menemani


__ADS_3

Adnan bangkit dari tempat duduk. Dia berjalan sambil memasukkan dua tangan ke saku celana.


"Aku butuh bantuanmu," kata Adnan.


Meyra melebarkan kelopak mata. "Ya, tentu saja. Kau memang selalu butuh bantuanku," tanggapnya.


"Aku serius!" Adnan sekarang berdiri di hadapan Meyra.


Tanpa diduga pintu mendadak terbuka. Azam muncul dari sana.


"Mbak Meyra! Om Adnan!" seru Azam.


Meyra dan Adnan menoleh ke arah Azam secara bersamaan. Keduanya tentu kaget akan hal itu.


"Kumohon jangan bertengkar lagi," ucap Azam.


"Bertengkar?" Adnan mengerutkan dahi. Hal serupa juga dilakukan Meyra. Perempuan itu tentu juga bingung. Sepertinya Azam salah paham akan sesuatu.


"Kalian harusnya bicarakan semuanya baik-baik. Aku tahu kalian saling mencintai," ujar Azam. Membuat mata Adnan dan Meyra terbelalak bersamaan.

__ADS_1


"Azam kau bicara apa? Kau salah paham," tukas Meyra sembari berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan Azam.


"Mbak Mey. Semuanya sudah jelas. Tadi aku mendengar pembicaraanmu dan Om Adnan," sahut Azam dengan wajah polosnya.


"Tidak! Kami hanya bicara tentang--"


"Kau benar, Azam. Aku dan Meyra harus bicara baik-baik. Jadi bisakah kau biarkan kami bicara berdua? Ini masalah orang dewasa," potong Adnan. Membuat Meyra tercengang.


Adnan sebenarnya memanfaatkan kehadiran Azam sekarang agar Meyra bersedia membantunya. Dia lagi-lagi melakukan kebohongan yang tak berdasar.


"Baiklah." Azam mengangguk. Dia segera beranjak keluar ruangan.


"Azam! Tapi..." Meyra berusaha mencegat. Namun sikap Adnan membuatnya ragu-ragu. Sehingga Azam dibiarkannya pergi.


"Bukan Azam yang ingin kubuat berpikir begitu. Tapi teman-temanku. Aku ingin kau menemaniku datang ke acara pernikahan minggu ini," tanggap Adnan. Ia menyandarkan pinggulnya ke depan meja.


"Jadi itu hal yang sejak tadi kau ingin bicarakan?"


"Ya, makanya aku melakukan tatapan menilai. Aku pikir kau orang yang cocok untuk menemaniku minggu ini. Lagi pula aku sudah malas berurusan dengan orang baru."

__ADS_1


Meyra memutar bola mata jengah. "Sepertinya hari minggu tidak bisa," tolaknya sambil menyilangkan tangan ke depan dada.


"Kau tidak bisa menolak." Adnan memaksa.


"Kenapa kau memaksa? Aku jelas-jelas tidak mau!" balas Meyra.


"Tidak ada opsi menolak! Kalau kau menolak, aku akan tagih kau untuk melunasi hutang biaya rumah sakitmu." Adnan akhirnya mengeluarkan senjata pamungkasnya. Yaitu mengancam.


Meyra terperangah. Selain angkuh, ternyata Adnan begitu keras kepala. Sepertinya lelaki itu tidak akan berhenti jika keinginannya tidak terwujud. Meyra lantas mencoba memikirkan jalan keluar. Sampai dirinya terpikirkan tentang Amena.


"Oh iya. Kalau misalnya aku pergi bersamamu, lalu bagaimana dengan Amena?" tanya Meyra.


"Kan aku sudah bilang akan menyewa jasa baby sitter. Sebelum pergi kau bisa anu..." Adnan enggan meneruskan kalimatnya. Dia melirik ke arah dada Meyra dengan cepat. Sebenarnya Adnan ingin mengatakan kalau Meyra bisa memerah susunya untuk Amena sebelum pergi.


"Anu apa?" Meyra tentu tak mengerti. Keningnya mengernyit.


"Itu... Kau bisa mengumpulkan susumu untuk Amena sebelum pergi," kata Adnan sambil meliarkan matanya dan bersikap canggung. Wajahnya bahkan sedikit memerah.


"Oh itu... Tapi bagaimana kalau Amena menolak?" sahut Meyra.

__ADS_1


"Makanya sebaiknya kau coba lebih dulu. Kita masih punya waktu sebelum hari minggu kan? Sudah! Sebaiknya kau pergi. Aku ingin lanjut bekerja," ujar Adnan. Dia melakukan pose mengusir.


"Arogan sekali," komentar Meyra. Dia segera pergi meninggalkan ruang kerja Adnan.


__ADS_2