
Meyra telah selesai memilih sepatunya. Kini dia dan Adnan siap untuk pergi ke acara pernikahan Ardy.
Mobil dihentikan oleh Adnan. Lelaki itu menghembuskan nafas dari mulut. Meyra dapat melihat kegugupan Adnan.
"Sepertinya acara pernikahan ini sangat penting bagimu. Kau seperti pengantinnya saja," komentar Meyra.
Adnan mendelik. "Apa maksudmu? Apa kau mengejekku?" sahutnya.
"Kau terlihat gugup," jelas Meyra singkat.
"Aku harap kau jaga sikapmu saat di hadapan teman-temanku nanti. Oke?" tegas Adnan.
Meyra hanya menjawab dengan anggukan. Ketika Adnan keluar dari mobil, dia mengikuti. Jantung Meyra berdegup kencang tatkala Adnan tiba-tiba meraih salah satu tangannya.
"Kau mau apa?!" Meyra sigap melepas tangan Adnan darinya. Dia hanya berjaga-jaga. Mengingat dirinya pernah menjadi korban pemerkosaan temannya sendiri.
"Maaf! Tapi kita harus bergandengan tangan. Aku pastikan kita tidak akan melakukan lebih dari ini," jelas Adnan. Dia menyodorkan lengannya untuk digandeng oleh Meyra.
Meyra meragu. Memang sulit baginya untuk mempercayai seorang lelaki. Dia takut meski hanya dengan satu sentuhan kecil.
"Percayalah padaku," kata Adnan. Sekali lagi meyakinkan Meyra. Dia memang tidak tahu tentang masa lalu perempuan itu. Namun Adnan tahu bagaimana caranya menjadi lelaki yang bisa dipercaya.
__ADS_1
"Aku pegang janjimu." Meyra akhirnya menggandeng lengan Adnan. Keduanya lantas melangkah bersama memasuki gedung.
Nuansa putih yang dibalut dengan keemasan menyambut. Dekorasi di tempat resepsi pernikahan itu terbilang mewah.
"Adnan! Di sini!" seorang lelaki memanggil dari salah satu meja makan. Dia merupakan teman dekat Adnan yang bernama Erik.
Adnan menoleh dan balas melambai. Sebelum menghampiri Erik, dia menyenggol Meyra.
"Tersenyumlah!" suruh Adnan yang langsung dilakukan oleh Meyra. Setelah itu, mereka pergi mendatangi Erik dan kawan-kawan.
Selain Erik, di meja tersebut juga terlihat teman-teman kuliah Adnan yang lain. Orang yang paling menarik perhatiannya tentu adalah Riani. Mantan kekasihnya sendiri. Perut Riani tampak buncit. Dia juga ditemani oleh suaminya.
"Terserah kau. Tapi aku tidak berpengalaman dengan hal begitu. Dan ingat! Awas saja kalau berlebihan. Aku akan langsung melaporkanmu ke polisi," balas Meyra.
"Kenapa kau sangat berlebihan?"
"Aku tidak berlebihan! Aku hanya berusaha menjaga harga diriku!"
Adnan hanya mendengus kasar. Dia dan Meyra akhirnya tiba di hadapan Erik dan kawan-kawan.
"Adnan! Senang bisa melihatmu lagi. Siapa ini? Pacarmu?" ujar Erik yang langsung menanyakan perihal Meyra.
__ADS_1
"Kau lihat ini!" Adnan memamerkan gandengan tangan Meyra. "Bukankah sudah jelas hubungan kami apa? Kenalkan namanya Meyra," sambungnya. Memperkenalkan Meyra.
"Hai..." Meyra segera bersalaman dengan teman-teman Adnan. Termasuk Riani yang tiba-tiba mendekat dan ikut menyalami Meyra.
"Senang rasanya melihatmu bahagia, Ad..." ucap Riani sambil menggandeng suaminya. Suasana seketika berubah menjadi canggung.
Adnan mencoba bersikap setenang mungkin. Padahal hatinya sangat kesal. Rasanya Adnan ingin sekali berteriak dan mencaci maki.
"Terima kasih." Adnan mengukir senyuman palsu. Lalu merangkul Meyra.
Meyra mengernyitkan kening. Dia dapat melihat Adnan menenggak salivanya sendiri. Meyra dapat melihat dari pergerakan jakun lelaki tersebut. Ia bisa mengetahui gelagat canggung Adnan.
Atensi Meyra teralih ke arah Riani. Dia sekarang bisa menduga bahwa perempuan bunting itu adalah mantan kekasih Adnan.
"Apa dia orangnya?" tanya Meyra dengan nada berbisik.
"Hentikan. Tanyanya nanti saja," balas Adnan. Bicara dengan sangat pelan. Meyra bahkan hanya mendengarnya samar-samar.
"Apa?" tanya Meyra. Menuntut pengulangan. Namun Adnan justru menarik Meyra menjauh dari teman-temannya.
"Baiklah. Aku dan Meyra mau mengambil makanan dulu," ujar Adnan berdalih. Kepergiannya hanya bertujuan agar bisa bicara dengan leluasa dengan Meyra.
__ADS_1