Menikah Karena Anak Tahfiz Qur'An

Menikah Karena Anak Tahfiz Qur'An
Chapter 18 - Bayaran Untuk Meyra


__ADS_3

Adnan tersenyum dan melambaikan tangan untuk membalas seruan Ardy. Dia segera meraih tangan Meyra dan mengajak untuk ikut berfoto bersamanya.


Erik dan kawan-kawan juga tampak beranjak. Mereka bahkan pergi lebih dulu dibanding Adnan dan Meyra.


"Ayo," ajak Adnan. Namun Meyra justru mematung dan menatap heran kepadanya.


"Kau yakin ingin mengajakku berfoto bersamamu? Kau bahkan belum begitu tahu bagaimana aku, bagaimana jati diriku..." ungkap Meyra. Dia takut Adnan akan terkena masalah jika kedapatan dekat dengannya. Meyra takut orang yang mengenalnya mengetahui sandiwara tak berdasar sekarang. Adnan bisa kena batunya. Reputasi lelaki itu bahkan bisa tercoreng.


"Mana mungkin aku tak mengajakmu. Riani dan yang lain bisa curiga. Lagi pula aku belum memperkenalkanmu dengan Ardy," kata Adnan memaksa.


Meyra mendengus kasar. Dia lantas menurut saja. Dirinya dan Adnan kini melenggang bersama menuju pelaminan.


"Adnan! Inikah perempuan yang kau bicarakan?" tanya Ardy yang segera mengarahkan atensinya pada Meyra. Dia menyalami perempuan itu.


"Ya, kenalkan namanya Meyra," tanggap Adnan sembari tersenyum dan merangkul Meyra. Perempuan itu lantas menyambut tangan Ardy dan tersenyum.


"Wah, cantik sekali. Pantas saja Adnan mudah sekali move on," tukas Ardy sambil melirik ke arah Riani. Dia langsung mendapat pukulan di pundak dari Adnan.


Riani terlihat cemberut. Dia tentu paham kalau Ardy sedang menyindir dirinya.

__ADS_1


Ardy menarik Adnan dan berbisik, "Semua orang tahu kalau Riani berselingkuh darimu. Aku senang bisa melihatmu bahagia. Semoga hubunganmu dengan yang ini langgeng ya..."


"Terima kasih," ucap Adnan. Dia, Meyra dan yang lainnya segera berpose untuk difoto.


Adnan sengaja memegang tangan Meyra agar perempuan itu tak melepas gandengannya. Meyra yang paham maksud Adnan, membiarkan saja.


Puas berfoto, semua orang berpamitan pada Ardy untuk pulang. Termasuk Adnan dan Meyra. Keduanya melangkah bersama seperti kedatangan mereka.


"Tertawalah!" suruh Adnan sambil berjalan menggandeng Meyra.


"Apa kau menyuruhku menjadi orang gila? Lagi pula kita sudah jauh dari teman-temanmu. Kita akan pulang sekarang," tanggap Meyra santai.


"Hahaha! Kau lucu sekali." Meyra tertawa hambar. Adnan lantas ikut tergelak kecil bersamanya.


Sejak tadi Riani memang tak berhenti mengalihkan perhatiannya dari Adnan dan Meyra. Sejujurnya ada rasa janggal di hatinya. Entah kenapa Riani seperti merasa sesuatu miliknya di ambil orang. Ya, dia merasakan sedikit cemburu.


"Ayo kita pulang," ajak Dion. Suaminya Riani. Lelaki yang tidak lain adalah selingkuhannya serta ayah dari anaknya.


"Aku ingin pulang sendiri. Aku ingin ke salon!" sahut Riani ketus.

__ADS_1


"Sendiri? Tidak. Biarkan aku menemani," ujar Dion.


"Enggak. Aku mau sendiri! Kau tidak bisa memaksa. Ini keinginan seorang wanita hamil!" tegas Riani. Dion seketika terdiam.


Di sisi lain, Adnan dan Meyra sudah berjalan memasuki area parkiran. Buru-buru mereka saling melepas gandengan tangan.


"Berapa uang yang kau inginkan untuk tugas ini?" tanya Adnan.


"Kau membicarakan upahku?" tanggap Meyra.


"Ya. Bukankah sudah jelas?" Adnan mengulurkan dua tangannya ke udara.


Meyra terdiam sejenak. Sampai dia terpikir dengan hutang-hutangnya pada rentenir.


"Kau terlalu lama. Beritahu aku kalau kau sudah memutuskan." Adnan yang bosan menunggu, segera masuk ke mobil.


Meyra bergegas ikut masuk. "Aku sudah tahu. Aku tidak ingin bayaran. Aku ingin kau melunasi semua hutangku!" ungkapnya.


Adnan menatap Meyra. Lalu mengangguk sambil berucap, "Baiklah."

__ADS_1


__ADS_2