
Setelah dipastikan pulih, Adnan diperbolehkan pulang. Tentu saja dia ditemani oleh Meyra. Kedatangan mereka disambut dengan hangat oleh Azam dan juga Amena.
"Papa! Aku senang kau sudah pulang!" seru Azam sembari berlari ke dalam pelukan Adnan. Selanjutnya, barulah dia memeluk Meyra. Mereka benar-benar sudah seperti keluarga.
Usai menghabiskan waktu bersama Azam dan Amena, Adnan pergi ke kamar lebih dulu. Dia ingin beristirahat dan meminum obat agar kesehatannya jadi semakin membaik.
Sementara itu Meyra berada di dapur. Ia membuatkan teh hangat untuk Adnan.
Dengan langkah pelan Meyra melangkah menaiki tangga. Sampai akhirnya dia tiba ke kamar. Dirinya melihat Adnan baru saja keluar dari kamar mandi.
"Aku membuatkan teh untukmu," ucap Meyra seraya meletakkan teh ke atas nakas.
"Wah, terima kasih, Sayang..." ungkap Adnan. Dia segera menghampiri Meyra dan meminum teh buatan perempuan tersebut.
"Adnan!" tegur Meyra yang merasa geli dengan panggilan sayang dari Adnan. Pipinya jadi bersemu merah.
"Kenapa? Apa salahnya seorang suami memanggil istrinya dengan sebutan sayang?" Adnan mendekatkan wajahnya pada Meyra. Hingga sukses membuat perempuan tersebut terpojok ke depan nakas.
Meyra membulatkan mata. Jantungnya berdebar sangat kencang. Buru-buru dia menundukkan pandangan.
__ADS_1
Adnan tersenyum. Dia memegangi dagu Meyra dan membuat perempuan itu menatapnya.
"Aku akan membuatmu terbiasa dengan ini. Sampai kau melupakan masa lalumu yang kelam," ungkap Adnan.
Meyra terkesiap. Dia sebenarnya selalu melupakan penderitaannya akan masa lalu ketika bersama Adnan. Terutama setelah lelaki itu dan dirinya sudah mengaku saling menyukai.
"Terima kasih..." kata Meyra lirih. Tatapannya dan Adnan saling mengunci.
Adnan mengambil kesempatan untuk bergerak lebih dekat. Sampai bibirnya berhasil bertautan dengan bibir Meyra. Mereka berciuman cukup lama.
Perlahan Adnan menggendong Meyra. Lalu merebahkan perempuan tersebut ke ranjang. Malam itu mereka melakukan kewajiban suami istri untuk pertama kalinya.
...***...
Ketika pagi tiba, Meyra menjadi orang pertama yang terbangun. Dia menemukan dirinya sedang berada dalam pelukan Adnan. Wajah tampan lelaki itu sangat dekat dengannya. Membuat Meyra sedikit kaget.
'Tunggu. Tadi malam aku dan Adnan melakukannya,' batin Meyra sambil mengingat apa yang dilakukannya dan Adnan tadi malam. Wajah Meyra seketika memerah bak kepiting rebus. Dirinya merasa malu sendiri.
Meyra menggelengkan kepala cepat. Lalu perlahan mencoba melepas pelukan Adnan. Namun saat hampir berhasil melepas pelukan, tangan Adnan tidak membiarkan. Lelaki itu memeluk Meyra lebih erat.
__ADS_1
Meyra lantas menoleh ke arah Adnan. Dia melihat suaminya itu sudah membuka mata.
"Adnan! Aku mau mandi," protes Meyra.
"Adnan?" timpal Adnan sambil memutar bola mata. Dia agak kecewa dengan panggilan Meyra yang tak kunjung berubah. "Kenapa kau masih memanggilku begitu setelah semua yang telah terjadi?" sambungnya.
"Aku masih belum terbiasa. Oke? Sekarang bisakah kau lepaskan aku?" tanggap Meyra seraya mencoba lepas dari pelukan Adnan lagi.
"Aku tidak akan membiarkanmu lepas sampai kau berhenti memanggilku dengan nama!" seru Adnan yang kian menguatkan pelukan. Ulahnya membuat Meyra terkekeh geli. Setelah lama menikah, akhirnya mereka bersikap seperti sepasang pengantin baru.
"Adnan!" seru Meyra. Dia dalam posisi membelakangi Adnan. Lelaki itu memeluk Meyra dari belakang.
"Tuh! Kau memanggilku begitu lagi." Adnan mengerutkan dahi.
"Oke, oke! Aku akan memanggilmu Mas sekarang." Meyra akhirnya mengatakan pernyataan mengalah.
"Kau janji? Kalau aku mendengar kau memanggilku dengan sebutan nama lagi, maka aku akan memberi hukuman lebih berat dari ini," ancam Adnan yang jelas hanya candaan.
"Iya. Kau bisa pegang janjiku, Mas..." Meyra menatap Adnan. Dia akhirnya berhenti memanggil sang suami dengan sebutan nama.
__ADS_1