
Setelah mengakui saling mencintai, Adnan dan Meyra mulai belajar tentang islam lebih dalam. Meyra bahkan memutuskan menggunakan hijab.
Siapa yang menduga? Pertemuan yang terjadi karena musibah, justru menjadi anugerah.
Beberapa bulan berlalu. Amena sudah semakin besar. Ia sudah berada ditahap belajar bicara.
Kala itu Meyra sedang menemani Amena bermain di kamar.
"Ma... Ma!" ucap Amena. Membuat Meyra membulatkan mata.
Badan Meyra membeku. Dia merasa tak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Mama!" kata Amena lagi. Kali ini tangannya menunjuk ke arah Meyra.
"A-aku?" Meyra menunjuk dirinya sendiri untuk memastikan.
"Mama!" Amena berdiri dan tersenyum. Ia mengulurkan kedua tangan seolah berharap Meyra memeluknya.
"Amena!" Meyra terenyuh. Dia segera memeluk Amena dengan erat. Sungguh, Meyra sudah menganggap Amena seperti anaknya sendiri. Perasaan itu semakin kuat ketika Amena memanggilnya dengan sebutan mama.
Hari itu Meyra sangat terbawa perasaan. Dia menemani Amena sampai tertidur. Selanjutnya, Meyra pergi ke kamar. Di sana sudah ada Adnan yang sibuk dengan laptop.
"Kau pasti tidak percaya dengan yang ku alami hari ini!" imbuh Meyra sembari duduk ke sebelah Adnan. Ia menyandarkan kepala ke pundak lelaki itu.
"Apa?" tanya Adnan datar. Mengingat dia sedang fokus dengan pekerjaan.
__ADS_1
"Amena memanggilku mama!" ungkap Meyra antusias.
Adnan langsung menoleh. Ia kaget sekaligus senang mendengarnya.
"Benarkah itu?" tanya Adnan memastikan.
Meyra mengangguk. "Aku senang sekali, Mas!" tanggapnya.
"Lalu bagaimana denganku? Dia akan memanggilku papa kan?" ada sepercik rasa iri dari Adnan.
"Dia pasti akan memanggilmu papa nanti. Tapi tidak sekarang."
"Kenapa begitu? Tidak adil. Aku akan menemuinya." Adnan menutup laptopnya dan berdiri. Ia hendak pergi ke kamar Amena. Akan tetapi Meyra sigap menahannya.
"Hah..." Adnan mendesah panjang. Kemudian duduk ke tepi ranjang. Ia menatap Meyra dengan sudut matanya. "Aku sedih sekarang," ucapnya.
"Kau berlebihan sekali. Tingkahmu seperti anak kecil tahu nggak," komentar Meyra.
"Kau seharusnya menghibur suamimu. Bukannya malah mengejek," balas Adnan. Dia menarik Meyra agar bisa lebih dekat. "Sekarang bayarannya adalah jatahku!" tambahnya.
"Astaga! Sudah kuduga." Meyra berusaha melepas pegangan Adnan. Namun lelaki itu tak membiarkan. Adnan bahkan memeluk Meyra dengan erat dan merebahkannya ke kasur.
Meyra tak bisa berhenti tergelak. Kehidupannya benar-benar telah berubah sekarang. Karena Adnan, Meyra juga sudah menerima keluarganya lagi.
Keesokan pagi, Meyra menjadi orang yang lebih dulu terbangun dari tidur. Ia merasakan mual yang tak tertahan. Jujur saja, mual yang dirasakannya sudah terjadi dalam beberapa hari. Hal itu membuat Meyra berpikir kalau dirinya sedang hamil.
__ADS_1
Meyra memegangi perutnya dalam keadaan mematung. Saat itulah Adnan terbangun dan melihat apa yang dilakukan sang istri.
"Ada apa? Kau mual lagi?" tanya Adnan cemas.
"Iya. Aku sepertinya hamil," jawab Meyra.
Pupil mata Adnan membesar. Dia merasa bersemangat. "Ya sudah. Kalau begitu, ayo kita periksa ke dokter hati ini!" ajaknya.
Meyra mengangguk. Dia dan Adnan segera pergi ke dokter setelah mandi dan makan.
Setibanya di klinik, Meyra langsung mendapat pemeriksaan. Benar saja, dia ternyata sedang hamil. Usia kandungan Meyra dinyatakan sudah berusia tiga minggu.
Adnan dan Meyra sangat senang. Keduanya merasa kebahagiaan mereka bertambah.
...----...
Maaf ya guys, jarang update. Itu karena author sedang hamil. Hehe...
Cerita ini ku tamatkan karena konfliknya sudah terselesaikan.
Makasih buat yang sudah meluangkan waktu untuk membaca novel ini...
Untuk yang berkenan, silahkan mampir ke novelku yang satunya ya. Judulnya Istri Pengganti CEO Buta. Ini bakalan rutin update setiap hati ya...
__ADS_1