
Karena sikap Meyra yang terkesan memberikan penolakan, keluarganya lantas memilih untuk pulang.
"Tolong sampaikan permintaan maaf kami pada Meyra. Kami benar-benar tulus dan menyesali perbuatan di masa lalu," ungkap Jamal dengan mata yang berkaca-kaca. Entah apakah dia bersungguh-sungguh atau tidak.
"Iya, aku akan bicara dengannya," kata Adnan. Jamal dan yang lain lantas pergi.
Adnan segera menemui Meyra. Namun dia tidak menemukan perempuan itu ada di kamar maupun kamar Amena. Bahkan di dapur sekali pun.
Ketika Adnan mendatangi balkon, saat itulah dia menemukan Meyra. Perempuan tersebut termangu. Angin terlihat menyapu rambut panjangnya yang terurai.
"Kau baik-baik saja?" tanya Adnan.
"Apa aku terlihat baik-baik saja?" tanggap Meyra dengan tatapan kosongnya ke arah depan. Tak menoleh ke arah Adnan sekali pun.
"Apa kedatangan keluargamu membuat kau dihantui lagi dengan traumamu?" tanya Adnan secara baik-baik.
Meyra tak menjawab sama sekali. Dia malah terisak. Air mata berderai di wajah cantiknya.
__ADS_1
"Kejadian itu sangat mengerikan. Aku tidak hanya merasa ternoda, tapi juga kesakitan! Aku bahkan sangat ingat bagaimana suara tawa para lelaki itu. Mereka tertawa di atas kesakitanku..." ungkap Meyra seraya masih menangis.
Pupil mata Adnan sontak membesar. Dia kaget mendengar Meyra menyebutkan para lelaki.
"Tunggu dulu. Apa maksudmu para lelaki?" tanya Adnan.
Tangisan Meyra semakin menjadi-jadi. Kedua kakinya bahkan tak bisa menopang lagi. Dia perlahan jatuh terduduk ke lantai.
"Meyra!" Adnan sigap berjongkok. Ia memegangi pundak Meyra. Menatap penuh iba pada perempuan itu.
Adnan yang masih berada di samping, perlahan memeluk Meyra. Dia merasa semakin berempati pada perempuan tersebut.
"Apa keluargamu tahu tentang ini?" tanya Adnan. "Kenapa kau baru mengatakan ini padaku?" tambahnya.
"Keluargaku tahu... Itulah alasan mereka sangat ingin menggugurkan kandunganku," ucap Meyra.
Tanpa sepengetahuan Meyra dan Adnan, Azam sejak tadi mendengarkan dari ambang pintu menuju balkon. Wajah anak itu berderai akan air mata. Azam merasa ikut sedih mendengar bagaimana penderitaan Meyra. Sekarang dia tahu kenapa Meyra selalu tampak murung.
__ADS_1
Bersamaan dengan itu, Meyra tiba-tiba sesak nafas. Sepertinya trauma yang dia alami sangat menghantui.
Adnan segera membawa Meyra ke kamar. Dia menggendong perempuan tersebut dengan gaya bridal. Ketika di kamar, Adnan memberikan Meyra obat yang sudah diresepkan dokter sebelumnya.
Karena pengaruh obat, Meyra perlahan tenang. Adnan duduk di sampingnya sambil terus mengusap lembut kepala Meyra.
Akibat belaian lembut dari Adnan, Meyra akhirnya terlelap. Mata perempuan itu terlihat memejam begitu rapat.
"Kau tidak bisa begini terus, Mey..." gumam Adnan. Dia sepertinya ingin membuat Meyra sembuh dari trauma.
"Aku setuju sama, Om!" seru Azam yang mendadak muncul. Membuat Adnan sontak kaget dan reflek merubah posisi menjadi duduk.
"Azam!" Adnan membulatkan mata.
Azam tersenyum dan berjalan mendekat. "Ayo kita bekerjasama untuk membuat Mbak Meyra pulih dari trauma. Kita buat Mbak Meyra bahagia!" cetusnya.
Adnan mengerjap pelan. Ia tak tahu harus berkata apa. Walaupun begitu, dirinya setuju dengan usulan Azam. Mungkin saja kebahagiaan bisa membuat Meyra melupakan penderitaan masa lalunya.
__ADS_1