
"Te-terima kasih, Dokter. Kami akan berusaha melakukan saranmu," ujar Adnan. Terpaksa berucap begitu karena Meyra tak kunjung bicara.
Konsultasi hari itu berakhir. Meyra juga diberikan resep obat jika trauma yang dialaminya terjadi cukup parah.
Kini Adnan dan Meyra sedang berada di mobil. Keduanya tak banyak bicara lagi setelah keluar dari ruangan dokter Tina.
"Aku akan langsung mengantarmu pulang," cetus Adnan.
Meyra lantas menganggukkan kepala. Sejak tadi dia sebenarnya memikirkan saran yang diberikan Tina.
"Ad..." panggil Meyra pelan.
"Ya?" tanggap Adnan sembari menjalankan mobil.
"Ini mengenai saran yang diberikan dokter tadi. Aku harap kau tidak merasa terbebani. Lagi pula aku punya obat sekarang," tutur Meyra dengan wajah memerah.
"Tapi kata dokter obat itu hanya boleh diminum jika kau terpaksa. Maksudku tidak ada pilihan lain," sahut Adnan.
__ADS_1
"Jadi maksudmu kau bersedia menyentuhku? Seperti yang disarankan dokter?" timpal Meyra.
"Tentu tidak! Jangan terlalu percaya diri. Aku hanya memberitahumu untuk tidak meminum obat itu kalau bukan karena terpaksa!" Adnan membantah tegas.
"Baguslah kalau begitu," tanggap Meyra seraya membuang muka. Pembicaraannya dan Adnan berakhir di sana.
Saat sudah sampai di rumah, Meyra segera turun dari mobil. Membiarkan Adnan pergi lagi yang katanya ada pekerjaan penting.
Ketika waktu menunjukkan jam sepuluh malam, Meyra masuk ke kamar. Dia menyiapkan kasurnya seperti biasa.
Akan tetapi malam itu Meyra tak bisa tidur karena Adnan yang belum pulang. Alhasil dia keluar kamar dan duduk di teras rumah. Entah kenapa Meyra merasa tidak bisa tidur dengan tenang jika Adnan belum pulang. Mungkin dirinya belum sepenuhnya percaya pada lelaki tersebut.
Tak lama kemudian Adnan datang. Meyra jadi terbangun karena lampu mobil lelaki itu menyilaukan matanya.
Adnan keluar dari mobil dengan dahi berkerut. Dia segera menghampiri Meyra.
"Kau menungguku lagi?" tanya Adnan.
__ADS_1
"Aku hanya merasa tidak tenang jika kau belum datang," jawab Meyra.
"Sungguh! Kau tidak perlu melakukan ini, Mey! Jika kau ingin tidur dan merasa tidak nyaman di kamarku, tidurlah di kamar lain. Kau tahu ada banyak kamar di sini." Adnan terdengar seperti sedang mengomeli Meyra.
Meyra hanya diam. Dia batuk beberapa kali dan merasa menggigil. Wajahnya juga tampak pucat.
"Kau baik-baik saja?" Adnan sontak khawatir. Ia menempelkan tangannya ke kening Meyra. Merasakan hawa tubuh perempuan tersebut. Dia dapat merasakan hawa tubuh Meyra panas.
"Kau pasti demam. Lagi pula kenapa kau menungguku di teras! Kalau kau sakit begini, akulah yang repot!" omel Adnan.
"Aku baik-baik saja." Meyra memaksakan dirinya berjalan. Dia bukan tipe orang yang mau merepotkan orang.
Jalan Meyra terlihat lamban sekali. Dia juga memegangi kepala yang terasa pusing. Meyra merasa keadaan tubuhnya tidak nyaman.
Adnan mendengus kasar. Dia segera masuk dan menutup pintu. Lalu membantu Meyra berjalan menaiki tangga.
"Tidak perlu repot! Aku bisa sendiri." Meyra menolak. Ia reflek mendorong Adnan menjauh. Namun saat itulah Meyra terhuyung ke belakang.
__ADS_1
Adnan sigap menangkap pinggang Meyra. Hingga perempuan tersebut tak jatuh. Kini Meyra tak sengaja berada dalam pelukan Adnan. Keduanya saling bertukar pandang karena merasa sama-sama kaget. Adnan dan Meyra otomatis juga merasa jantung mereka berdegup sangat kencang.