
Mobil dijalankan oleh Adnan. Saat mobil berjalan keluar gedung, hujan yang begitu lebat menyambut.
Hujan itu tidak hanya disertai petir, tetapi juga angin yang kencang. Langit bahkan tampak gelap sekali.
"Apa kau bisa mengemudi dalam keadaan begini?" tanya Meyra cemas.
"Tentu bisa. Angin seperti ini tidak akan membuat mobil terbang kan?" tanggap Adnan yang keras kepala. Dia membiarkan mobilnya berjalan menembus hujan.
"Terserah. Tapi aku sudah mengingatkanmu," sahut Meyra. Dia berusaha bersikap tenang meski sedikit khawatir. "Berhati-hatilah," ujarnya. Tepat sebelum mobil Adnan memasuki jalanan. Lelaki itu hanya diam dan tidak menjawab apapun.
Adnan mulai merasa cemas tatkala dirinya mulai merasa kesulitan mengemudi. Sebab derasnya hujan membuat kaca depan mobil jadi kabur.
Tanpa diduga, Adnan hampir saja menabrak mobil yang tiba-tiba muncul dari samping.
"Adnan!" Meyra reflek memekik.
Untung saja Adnan bisa mengendalikan mobil dengan baik. Sehingga tidak ada benturan serius yang terjadi.
"Sebaiknya kita berhenti saja," usul Meyra sambil menatap Adnan dengan sudut matanya.
"Tidak bisa. Malas sekali aku harus singgah!" Adnan menolak.
"Apa kau tidak takut kecelakaan. Kita tadi hampir saja bertabrakan. Kalau kita celaka, bagaimana dengan Azam dan Amena? Satu-satunya orang yang mereka miliki sekarang hanyalah kau," balas Meyra. Berusaha membujuk dengan memakai nama Azam dan Amena.
__ADS_1
Adnan seketika terdiam. Karena perkataan Meyra, dia jadi memikirkan Azam dan Amena. Merasa perkataan perempuan tersebut ada benarnya. Alhasil Adnan menepikan mobilnya ke pinggir. Memutuskan akan melanjutkan perjalanan saat hujan reda.
Meyra mengembangkan senyum. Ternyata melelehkan keras kepalanya Adnan butuh strategi yang bagus.
Hening menyelimuti suasana. Adnan memanfaatkan waktu dengan cara bermain ponsel. Namun tanpa disangka, Meyra menghentikan.
"Kau kenapa?" Adnan sontak menuntut penjelasan.
"Jangan bermain ponsel saat cuaca begini. Kau bisa disambar petir!" ucap Meyra.
"Bwahaha!" Adnan memecahkan tawa. Air mata bahkan sampai keluar dari sudut matanya.
"Apanya yang lucu? Ini fakta bukan takhayul," tukas Meyra. Merasa tersinggung.
"Oke. Coba keluarlah dan bermain ponsel di tengah-tengah taman sana. Aku yakin kau akan jadi sasaran petir!" Meyra menunjuk ke arah taman yang ada di seberang jalan.
"Kau sengaja ingin membunuhku?" balas Adnan.
"Lihat. Kau tak berani kan? Itu artinya kau juga percaya." Meyra melipat tangan di depan dada.
Adnan menyimpan kembali ponselnya dengan ekspresi cemberut. Tanpa sadar dia menuruti saran Meyra.
"Bagaimana perasaanmu?" celetuk Meyra.
__ADS_1
"Maksudmu?" Adnan tak mengerti.
"Perasaanmu setelah bertemu dengan mantan kekasihmu?"
"Ah... Itu... Begitulah. Kau bisa melihat bagaimana aku saat berhadapan dengannya."
"Bersyukurlah karena kau hanya dikhianati satu orang saja," kata Meyra sambil mengingat nasibnya sendiri yang dibenci keluarga dan teman-temannya.
"Apa kau mengejekku?" timpal Adnan.
Meyra hanya diam. Dia terpaku menatap keluar jendela. Melihat hujan deras yang belum reda.
"Ngomong-ngomong bolehkah aku bertanya?" cetus Adnan.
Meyra menoleh. "Katakanlah," sahutnya.
"Suamimu dimana? Apa kau juga dikhianati sepertiku?" tanya Adnan hati-hati.
Meyra tersenyum. "Aku belum pernah menikah, Ad. Aku tidak punya suami," ungkapnya.
Kelopak mata Adnan melebar. Dia kaget mendengar pernyataan Meyra itu. Sungguh jawaban yang tak terduga dari perempuan yang dianggapnya baik dan sopan.
"Lalu anak itu?..." Adnan bertanya dengan ragu-ragu.
__ADS_1
"Aku yakin kau bisa menduga. Yang jelas karena aku hamil, semua orang mengkhianatiku. Aku tidak hanya dikhianati oleh lelaki yang menghamiliku, tetapi juga keluarga," jelas Meyra sambil menyandarkan kepala ke kursi. Rasa penyesalan kembali menghantuinya.